Footer 1

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan

2012/05/10

Buku Spiritual Creativepreneur


BUKU SPIRITUAL CREATIVEPRENEUR
M. Arief Budiman
Metagraf, Mei 2012
XIV + 218 hlm.
14,5 cm x 20 cm

Perjalanan membangun bisnis
adalah perjalanan spiritual menuju Tuhan

Buku ini adalah percik pemikiran-pemikiran yang telah berinteraksi dengan realitas di lapangan sebagai ikhtiar untuk menggali lebih dalam lagi nilai-nilai Islam yang kontekstual dengan progresifitas gerak jaman, untuk menemukan nukleus dari konsep Islam tentang bisnis kreatif.

Satu lagi karya terbaru CEO Petakumpet (perusahaan kreatif dengan 105 award tingkat nasional untuk karya-karya iklan dan desain grafis) sekaligus penulis
Buku Best Seller 'Jualan Ide Segar' dan 'Tuhan Sang Penggoda' ini akan mengajak Anda untuk memikirkan ulang apa itu konsep tentang Islam, bagaimana implementasi Tauhid, bagaimana menerapkan konsep Taqwa dalam operasional bisnis sehari-hari.

Buku ini akan menarik pemikiran Anda kembali ke garis start, mundur kembali ke titik nol untuk bercermin dan bertanya pada diri sendiri: sudah Islamikah bisnis saya, sudah kreatifkah bisnis saya? 



Tulisan-tulisan yang blak-blakan tapi - sekaligus - jernih akan membawa Anda untuk melihat ke depan dan mengajak Anda untuk mempraktikkan konsep-konsep yang mungkin awalnya terlihat tidak logis tapi akan klop jika disinergikan dengan kekuatan iman.

Buku dengan tebal 218 halaman yang dihadirkan dengan pilihan 3 cover berbeda (oranye, hijau muda dan biru muda) ini terbagi dalam 8 Bab yang bisa dijadikan pegangan dalam membangun dan mengembangkan bisnis kreatif islami. 


Jadi, inilah buku yang akan membantu Anda agar bisa merasakan dengan pengalaman sendiri: keunggulan bisnis yang Islami dibanding yang belum Islami sekaligus keunggulan bisnis yang kreatif dibanding yang belum kreatif. Serta, keajaiban yang akan dihadirkan ketika mampu mensinergikan kreativitas dengan nilai-nilai Islami.

-----------------------------------
 
Monggo yang ingin Pre Order Buku Spiritual Creativepreneur, sila kontak Penerbit Tiga Serangkai: HP 08112642333, hanya berlaku sampai 19 Mei 2012. Launching buku baru ini Insya Allah pada 21 Mei 2012 di Solo.


Harga: Rp 49.500
Bebas ongkos kirim
Plus tanda tangan penulis
Berlaku: 10-19 Mei 2012

KIRIM KE:
telp.: (0271) 714344 ext. 120
SMS: 081 126 423 33
Faks.: (0271) 713607

CARANYA:
Tulis Nama lengkap pemesan
Alamat lengkap
No Hp.
Bukti transfer

TRANSFER:
a/n Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Bank Mandiri Kantor Cabang Solo, Slamet Riyadi
No. Rekening: 138 00 15021962

2012/04/01

Setetes Embun di Kebun Ide

Untuk Mas Handoko Hendroyono*

Sejurus setelah saya menyelesaikan membaca ‘Brand Gardener’, saya teringat sebuah peribahasa: saat murid siap, guru akan datang.

Begini ceritanya: seperti siapapun yang terlibat dalam bisnis advertising by choice (alias tidak terpaksa ),saya pun selalu mencoba untuk memikirkan ulang industri yang saya geluti sejak 1996 ini. Mungkin 15 tahun barulah seumur jagung kalau bicara pengalaman, tapi setidaknya saya pelan-pelan mulai memahami industri seperti apa yang saya masuki ini.

Pertanyaan besar yang selalu mengganggu saya adalah: apakah industri ini cukup syarat untuk dijalankan dan dihidupi oleh orang-orang yang punya niat, passion, cinta dan keyakinan yang kuat untuk memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya?

Ataukah ia hanya sekedar menjadi perpanjangan corong bagi kekuatan brutal kapitalisme yang ideologinya adalah: jualan, jualan, jualan? Saya pun mulai bertanya-tanya, pada siapapun atau apapun yang saya pikir memiliki jawabannya.

Kebimbangan saya menemui jalan buntu. Kemana pun saya bertanya, justru makin membingungkan setelah mendapat seribu versi jawaban. Bahkan tak sedikit yang justru merasa heran atas pertanyaan sederhana saya itu, “Kamu ini aneh, iklan itu tujuannya untuk memaksimalkan terjadinya penjualan. Menumbuhkan pasar. Memperlancar arus barang dari gudang ke konsumen. Iklan yang menyadarkan orang untuk mengurangi pembelian bukanlah iklan. Itu pengajian!”

Saya makin sulit menemukan ketentraman hati di tengah hiruk-pikuk dunia advertising yang meramu teknik-teknik canggih komunikasi dan bombardir media untuk ‘memerangkap’ target audiens agar membeli, menghabiskan uangnya yang sedikit untuk menggemukkan pundi-pundi para pemilik industri raksasa.  

Lalu Buku Brand Gardener tulisan Mas Handoko Hendroyono ini menyapa saya.

Menyadarkan saya bahwa masih ada orang-orang baik yang berani berfikir bebas dan jernih di industri yang pressure-nya begini keras dan berdarah-darah.

Hitunglah berapa jumlah advertising company di negeri ini? Saya merasa lebih pas dengan istilah company ketimbang agency, apalagi sejak cara berbisnis advertising berubah, tak lagi dapat ‘jatah’ agency fee media placement. Entry barrier-nya rendah sekali, setiap orang bisa membuka advertising company. Betapa mudahnya pula nanti, untuk menutupnya karena persaingan yang brutal atau lantaran para pendirinya terlalu cepat putus asa.

Saya jatuh cinta pada istilah Brand Gardener. Ada kemurnian pada kata Gardener. Ada kejujuran dalam proses alamiah untuk tumbuh. Industri advertising yang telah bergeser menjadi sekedar karnaval endorser yang mengiklankan produk yang tak dipakainya dan hiasan sampah visual luar ruang yang tak menentramkan, seperti menemukan setetes embun. Mungkin embun ini tak cukup untuk menyejukkan seluruh taman yang mulai mengering, tapi kilaunya yang diterpa matahari pagi adalah sebuah doa. Dan harapan.

Saat murid siap, guru akan datang.

Saya merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang masih memiliki passion dalam dirinya untuk membangun industri advertising yang lebih membumi, lebih manusiawi, lebih mendengarkan suara hati.

Saya mendaftarkan diri menjadi murid dengan riang hati, karena Pak Guru Handoko mengajari saya dengan story telling-nya untuk menggunakan hati dalam bekerja, berkarya, mencipta.

Siapapun bisa mengubah dunia, jika mau. Seperti yang dikatakan Steve Jobs, people with passion can change the world. Buku ini adalah percikan renungan, pemikiran dan pengalaman penulisnya sebagai praktisi aktif periklanan yang akan menyalakan lagi passion itu, untuk membuat dunia jadi lebih baik.

Bukan sekedar brand building tapi brand gardening. Tak cukup hanya membangun brand, tapi bagaimana menjadikan brand sebagai elemen terindah di taman hati.

Saat menutup buku ini di halaman terakhir, saya merasakan benih cinta itu tumbuh pelan-pelan, ketika saya menatap dunia advertising sekali lagi dengan mata kanak-kanak yang jernih tanpa prasangka.

Semoga kehadiran buku langka ini di taman advertising tempat brand-brand bertumbuh, menjadi setetes embun yang menyejukkan jiwa-jiwa kreatif yang resah. Menjadi persemaian bibit-bibit kejujuran yang makin memanusiakan kita semua. 

*Tulisan ini adalah pengantar untuk Buku Brand Gardener karya Mas Handoko Hendroyono

Image from: http://www.gubukbuku.com/content/uploads/mtoc/product_images/40111010150563120436993110989191992928985160074781n.jpg dan http://www.mytulisan.com/wp-content/uploads/2012/03/BLOG.jpg

2012/03/17

Saya Terlalu Banyak Berbicara

Awalnya, setahun terakhir saya merasa lebih banyak bicara daripada berkarya. Saya memang tetap berkarya. Saya tetap berusaha profesional. Tapi saya merasa output kreatif yang saya hasilkan belum mencapai tahapan hebat. Sekali lagi, slogan itu menghantam saya sendiri: Good is not enough!
Jangan-jangan karena saya mulai terjebak rutinitas. Jangan-jangan karena saya mulai merasa nyaman dengan kondisi keseharian saya sendiri. Jangan-jangan... Karena saya terlalu banyak bicara. 

Refleksi saya pada apa yang saya lakukan sepanjang 2011 kemarin menunjukkan ketidakefektifan saya dalam memanfaatkan waktu saya yang memang terbatas ini.

Gawat!

Kesadaran seperti inilah yang tercetus di kepala saya saat mulai memikirkan untuk melakukan perjalanan ini: menjelajahi 40 kota dalam 40 hari untuk berbagi, berdiskusi, bersilaturrahim, bercengkerama membincangkan hal-hal apa saja untuk memajukan negeri ini. Dengan siapapun yang saya temui dalam perjalanan ini.

Pada 2011, bekerja sebagai Managing Director di Petakumpet – perusahaan kreatif yang saya dirikan bersama teman-teman Diskomvis  ISI1994 – adalah tanggung jawab utama saya. Di sela-sela kesibukan itu, saya sebisa mungkin mencoba memenuhi undangan dari beberapa pihak untuk sharing, tukar menukar pengalaman, seminar, workshop tentang kreativitas, entrepreneur, creativepreneur, creative giving, hal-hal yang main idea-nya adalah kreatif. Sepanjang 2011 itu, setidaknya saya melakukan presentasi rata-rata 4-6 kali sebulan, sekitar 50an kali setahun, di banyak tempat di negeri ini.

Saya mulai dikenal sebagai pembicara kreatif. Bahkan dianggap motivator (duh!). Bahkan diminta menjadi khotib Jumatan. Menjadi mentor bisnis. Menjadi coach presentasi. Menjadi apapun, yang intinya saya harus berbicara di depan banyak orang. Melihat ke belakang, saat saya SD lalu SMP, dimana saya menderita gagap alias sulit bicara di depan umum: ini adalah keajaiban yang nyata buat saya. Sungguh!

Tapi ketika saya mulai memikirkan dengan tenang: ternyata menjadi pembicara tidak pernah menjadi impian saya yang terbesar. Saya gali lebih dalam lagi – jika Allah mengijinkan – saya lebih ingin dikenal sebagai kreator. Sebagai orang yang menghasilkan karya-karya yang hebat. Sebagai pencipta. Bukan sebagai pembicara. Apalagi motivator.

Berbicara itu – dari pengalaman saya setelah lebih dari 300 kali presentasi – bukanlah hal yang sulit. Selama kita menggeluti dan menjalankan apa yang kita bicarakan, semuanya akan mengalir lancar. Permasalahannya adalah, ternyata hal-hal hebat di luar berbicara itu mulai jarang saya lakukan. Waktu saya tersita untuk mengurusi hal-hal regular di kantor, terbang kesana-kemari bertemu klien atau memenuhi undangan, brainstorm dengan tim kreatif untuk menghasilkan iklan yang mahal tapi agak kompromis, hal-hal seperti itu. Saya merasa kurang syarat untuk hanya membicarakan hal-hal yang sama, award yang itu-itu juga, cerita-cerita tentang kesuksesan masa lalu.

Lalu muncullah pemikiran ekstrem ini: bagaimana jika saya puasa untuk tidak berbicara dulu dengan publik dalam waktu tertentu. Hanya untuk fokus pada minat utama saya: menjadi kreator. Saya kira itu ide menarik. Saya merasa excited

Tapi saya melihat lagi fenomena yang sedang berlangsung progresif di negeri ini: kreativitas sedang menjadi primadona. Ekonomi kreatif sedang ngebut membangun pondasi pengembangannya, bahkan dengan mendirikan kementerian sendiri. Jika saya menarik diri di titik ini, tiba-tiba saya merasa bersalah.

Selama ini, kalau kita bicara tentang kreativitas, yang paling sering mendapat porsi adalah teman-teman yang berada di kota besar, utamanya di ibukota propinsi. Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, dst. Tapi teman-teman di kota-kota yang size dan aksesnya lebih kecil, jarang mendapatkan porsi untuk bisa mengenal, memahami dan memanfaatkan gelombang baru yang bernama ekonomi kreatif ini. Padahal, di era serba internet seperti sekarang: semua fasilitas online yang menghubungkan ujung jari kita dengan seluruh informasidi dunia sudah banyak tersedia.

Teman-teman di kota-kota kecil itu - termasuk Rembang, kota kelahiran saya - hanya memerlukan api kecil untuk menyalakan passion. Memantapkan keyakinan. Menghidupkan mimpi. Membaca peluang yang berseliweran. Mereka adalah orang-orang cerdas dan pekerja keras yang hanya perlu ditemani, untuk bergerak merangkai masa depan dari tempatnya berpijak. Menjadi sukses dan berakar di tempatnya sendiri, tak berkiblat ke Jakarta, London, New York atau kota-kota besar lainnya. Karena jamannya, telah memungkinkan itu semua terjadi.

SBY dari Pacitan. Boediono dari Blitar. Soekarno dari pinggiran Surabaya. Jokowi dari Solo. Wahyu Aditya dari Malang. KH Mustofa Bisri dari Rembang.


Harus ada yang bergerak untuk menumbuhkan bintang-bintang baru, yang mampu bertahan dari kemilau ibukota. Berjuang habis-habisan untuk sukses di kotanya masing-masing. Agar negeri ini bisa maju serempak, tidak hanya terpusat pergerakannya. Jika pemerintah begitu sibuknya sehingga tak melihat ruang-ruang kosong ini, saya memilih tidak menyalahkan. Saya memilih untuk bergerak. Jika memungkinkan, bekerjasama tentu akan jauh lebih baik.

Jadi, beginilah deal-nya: saya akan melunasi hutang saya untuk semampu saya berkontribusi membangun fondasi mindset - character building kalo kata Bung Karno - dengan berkeliling di 40 kota selama 40 hari berturut-turut untuk melaksanakan Creative Sharing dan Creative Giving

Mengapa 40 hari? 

Entahlah, saya hanya merasa angka 40 itu menyimpan aura spiritual. Dan saya pernah belajar, jika ingin menanamkan sebuah habit (kebiasaan) tertentu, minimal membutuhkan waktu 40 hari sebagai pondasinya. Pengen membiasakan Sholat Tahajud, cobalah merutinkannya dalam 40 hari. Pengen ahli menulis, cobalah menulis setiap hari selama 40 hari. 40 hari adalah pondasi. Semacam syarat untuk sukses setelah melewati jam terbang 10.000 jam ala Malcolm Gladwell di Outliers.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_jDXHO-sQFew32tAl7LdP6Oh4LopXchuD6pk8cN_bd4pr8Niixw9v_uhs5uECxkSAttQgVQBm-53GCQDulSX9dkIX1DmOe_-wJfM_yETU147wBznrREYWfVEjPyMnhqLA8IJzmBSRRjY-/s1600/malcolm_gladwell_outliers-796414.jpg

Jadi setiap hari akan ada 2 kegiatan sekaligus yang saya lakukan di setiap kota: Creative Sharing dengan komunitas kreatif, kampus atau umum dengan EO profesional. Dan setelahnya atau sebelum acara itu – di hari yang sama – melaksanakan acara Creative Giving: berbagi dengan teman-teman di panti asuhan, anak-anak yatim, mereka yang kekurangan. Acaranya bisa berupa penyampaian bantuan, nonton film bareng, seminar gratis, pengajian bersama, apa saja yang sesuai dengan kontekstual permasalahan yang kita temui di kota tersebut. Akan menarik juga jika Creative Giving ini bisa bekerjasama dengan teman-teman di Akademi Berbagi, Tangan Di Atas, Pagi Berbagi, Sedekah Rombongan atau komunitas-komunitas berbasis kebaikan yang lain.

Setelah berembug dengan Mas Iqbal dan teman-teman Rekarupa yang mempunyai idealisme yang sama besarnya untuk bergerak memajukan negeri ini lewat pemberdayaan anak-anak bangsa, disusunlah sebuah rangkaian acara yang bertajuk ‘Berbagi Ide Segar’, 20 Mei – 29 Juni 2012 melewati 40 kota se-Jawa Bali. Acara ini juga melibatkan Koperasi Kreatif Bebarengan yang didirikan oleh teman-teman di Petakumpet yang akan menyiapkan merchandise dan bekerjasama dengan pihak-pihak yang ingin memperkenalkan produk-produk kreatifnya ke 40 kota.

Bagimana dengan kota-kota yang tidak dilewati perjalanan ini, Mas? 

Nah, itu juga jadi concern saya. Jika kota Anda tidak dilewati dan jaraknya tidak terlalu jauh, saya sarankan untuk datang. Beberapa kota mungkin bertiket, beberapa mungkin gratis tergantung kerjasama dengan EO lokalnya. Tapi jika tidak memungkinkan juga - misalnya untuk yang di Kalimatan, Sumatera dan luar pulau lainnya - teman-teman di Rekarupa sudah menyiapkan website khusus untuk acara ini  - tunggu launching-nya - yang berisi laporan perjalanan dan liputan, serta live streaming acaranya. Agar gaung dan spiritnya menyebar ke seluruh negeri.
Kembali ke pemikiran awal saya di atas, setelah acara ini saya akan puasa berbicara di depan publik sampai akhir tahun, 31 Desember 2012. Bukan karena apa-apa, tapi saya merasa inilah hal yang harus saya lakukan jika saya mau fokus menggapai cita-cita. Inilah konsekuensi pilihan yang harus saya ambil, walaupun itu sulit. Jadi – dengan segala hormat - jika ada teman-teman yang merencanakan untuk mengundang saya di 2012 ini: mohon disesuaikan jadualnya dengan kunjungan saya di kota-kota yang telah saya tuliskan ini. Insya Allah cara-cara untuk bekerjasama dengan EO utama acara ini (Rekarupa) akan diumumkan segera, minggu depan.

Saat saya berpuasa bicara setelah perjalanan 40 hari ini, fokus saya akan tertuju pada rencana IPO (Initial Public Offering) PT. Petakumpet Creative Network pada 2015 besok, 3 tahun sejak sekarang, saat saya berusia 40 tahun. Masih banyak kekurangan yang harus saya dan tim di Petakumpet perbaiki untuk menuju IPO tersebut, sebagai salah satu milestone mewujudkan impian tergila untuk menjadi The Most Admired Company in The World pada tahun 2020.


Apakah impian itu akan menjadi kenyataan? Saya tak tahu. Saya dan tim saya di Petakumpet hanya bisa berdoa, berupaya sekeras mungkin. Melakukan hal-hal yang bisa kami lakukan dengan cara-cara yang terbaik dan tidak memusingkan hal-hal yang tidak atau belum bisa kami lakukan saat ini. Saya percaya, jika kami memiliki cukup keyakinan untuk terus melangkah, Tuhan akan tunjukkan jalan-Nya. Dan seringkali pula, Dia akan siapkan pertolongan dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka.

Saya perlu menceritakan ini semua – utamanya sebagai cermin bagi diri saya sendiri – sekaligus sebagai penjelasan awal kepada teman-teman sekalian karena saya akan sangat membutuhkan dukungan, bantuan dan kerjasamanya untuk acara yang akan kami lakukan dalam waktu yang tidak lama lagi ini.


40 hari perjalanan mengelilingi pulau Jawa dan Bali – sambil tetap menjalankan tugas utama saya sebagai CEO Petakumpet secara mobile – adalah tantangan yang menarik sekaligus menggairahkan. iPad dan Blackberry akan menjadi mobile office saya selama perjalanan ini, sekaligus sebagai beta tester sistem manajemen baru bagi Petakumpet di masa depan.

Dan ah ya, selama perjalanan 40 hari itu saya mungkin juga akan jarang bertemu keluarga kecil yang saya cintai sepenuh-penuh hati saya. Buah hati saya Alia (4 bulan) yang sedang lucu-lucunya dan ibunya yang sedang imut-imutnya. Karena merekalah saya bersedia melakukan hal-hal beresiko seperti ini. Sebagai suami dan ayah, saya mungkin berbeda daripada kebanyakan suami dan ayah yang lain yang bisa tertib menjalani kewajibannya setiap hari berada di rumah. Jika pun saya tidak bisa selalu hadir di sisi orang-orang yang saya cintai, saya ingin selalu hadir di hati mereka, dimanapun saya berada. Karena saya membawa cinta itu di hati saya - selain membawa fotonya di BB dan dompet - kemanapun saya pergi.


Semoga Tuhan menemani perjalanan ini. Juga perjalanan Anda sekalian, teman-teman saya dalam menggapi impian masing-masing. Se-absurd apapun impian itu, semustahil apapun kelihatannya. Mustahil kan bahasa kita, manusia yang penuh keterbatasan. Tapi bersama-Nya: tak ada yang tak mungkin.

People with passion can change the world 
Steve Jobs

Inilah yang ingin saya lakukan. Mengubah dunia dengan impian dan tindakan-tindakan kecil, tapi didasari keyakinan. Dan konsistensi. Bukan karena mengikuti trend atau pendapat orang, tapi karena mempercayai suara hati. Dengan keyakinan ini, melangkah akan ringan. Resiko – sebesar apapun – akan tenang untuk dijalani.

Bismillah, mohon doanya untuk langkah awal ini. Semoga kita bisa berjumpa di kota-kota yang saya dan tim akan kunjungi. Insya Allah…

2012/02/07

Menjadi Otentik

When you try to copy Apple, it's like trying to copy an oak tree. You have to plant the seed and watch it grow then see what it came up with. You can't then just watch what it became, go to Home Depot, buy a whole bunch of lumber, paint and fake leaves, then build something. Because what you build is going to be half-assed and not an oak tree in any way, shape or form 

- Quotes from Ihnatko-


Banyak perusahaan yang ingin menjadi seperti Apple, sesukses Apple. Dan CEO perusahaannya menjadi pengganti manusia langka seperti Steve Jobs. Maka hadirlah buku-buku yang mengupas fenomena kesuksesan Apple, lengkap dengan kisah sang pendirinya yang kharismatik dan sekaligus kontroversial dalam beberapa sisi kehidupannya.

Tapi cukupkah itu untuk meng-Apple-kan perusahaan kita? Rasanya masih jauh panggang dari api. 

Bahkan Steve Jobs sendiri berpesan pada Tim Cook (CEO Apple yang menggantikannya): "Jangan pernah mengikuti pola pikirku saat mengambil keputusan. Jangan menjadi para penerus seperti di Walt Disney yang terus-menerus mempertanyakan 'What would Walt do?'. Jangan kotori kejernihan pikiranmu dengan menanyakan 'What would Steve do?'. Itu akan sia-sia dan Apple tidak akan berkembang. Jadilah dirimu sendiri, dengan pemikiranmu yang otentik. Tantangan Apple di masamu akan berbeda daripada di masaku. Tugasmu untuk memberikan respon terbaik, menurutmu. Bukan menurutku. Aku yakin Apple di masa depan akan jadi lebih baik dengan cara seperti itu."


Amati Tiru Modifikasi (ATM) itu adalah pelajaran bisnis untuk pemula. It's OK untuk memulai dengan cara seperti itu. Tapi pada tahap selanjutnya, mulailah untuk memikirkan yang benar-benar otentik untuk memperkuat akar perusahaan kita, memahatnya mengarungi waktu sehingga pada saatnya pohon itu akan tumbuh tinggi dan sangat kuat untuk menggapai langit. 

Ini bukan tips untuk membangun bisnis. Ini tantangan agar bisnis tak sekedar mengejar untung, tapi menjadi vehicle terbaik untuk mengubah dunia. Apple telah mencapai tahapan itu dengan menunjukkan kuncinya: menjadi otentik. Be Original. Menjadi diri sendiri.

Image from: http://wallpaper.wallpedia.org/42_~_America_-_oak_tree_in_new_england_sunrise.htm & http://i1-news.softpedia-static.com/images/news-700/Steve-Jobs-Didn-t-Regard-Tim-Cook-as-a-Product-Person.jpg

2011/11/04

Ide yang Mengubah Dunia

Kita harus membentuk ide-ide dasar dari realitas alam
dengan pemikiran dan kreativitas kita.
Dengan itu kita akan menandai sejarah,
tidak sekedar larut di dalamnya.


- Steve Jobs, former CEO Apple Inc. -

Kisah mengenai bagaimana sebuah ide sederhana akhirnya membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi tidak pernah sama lagi dengan sebelumnya, biasanya akan menjadi kisah yang inspiratif, menggugah kesadaran kita, menyalakan passion di hati kita yang terdalam, bahkan sampai menitikkan air mata.

Tapi biasanya juga: umur inspirasi itu tak panjang.

Beberapa saat setelah cerita itu berlalu dan kita mulai menggeluti lagi dunia dan segala permasalahannya sehari-hari, api itu pun memudar. Kesadaran itu menguap. Passion itu meredup dan padam. Kita pun menjelma kembali menjadi orang-orang biasa, orang-orang pada umumnya. Menjalani hidup dari pagi ke pagi lagi dengan jadual yang telah ditentukan, begitu-begitu saja melewati jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana-kemari memperjuangkan mimpi-mimpi di luar diri kita, sementara jiwa kita gersang, hati nurani tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan mata yang kosong tanpa daya.

Maka jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan ide-idenya sepenuh hati sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita memilih menyerah di awal atau pertengahan perjalanan karena tak sanggup menanggung resiko untuk berbeda, untuk disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik dan difitnah. Mayoritas kita tak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu, perlakuan yang merendahkan itu, sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan kenyamaan, ketenangan, ketentraman. Secara tak sadar, kita bahkan mulai ikut-ikutan mengatakan bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia karena kita tak pernah serius memperjuangkannya.

Bahkan pun saat engkau telah berniat untuk mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.

Alam semesta ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam tapi adil. Engkau yang tak sungguh-sungguh bersedia bersikap kejam pada dirimu sendiri untuk memperjuangkan terwujudnya ide-ide besar yang kau yakini, akan diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.

Kecuali jika engkau termasuk orang-orang jenius. Yang setahu saya, bukanlah merupakan keturunan.

Apple Computer dalam iklan legendarisnya tahun 1997 Think Different mencatat nama-nama ini: Albert Einstein, Bob Dylan, Martin Luther King, Jr., Richard Branson, John Lennon, Buckminster Fuller, Thomas Edison, Muhammad Ali, Ted Turner, Maria Callas, Mahatma Gandhi, Amelia Earhart, Alfred Hitchcock, Martha Graham, Jim Henson, Frank Lloyd Wright, Pablo Picasso.

Tentu masih ada jenius-jenius lainnya yang tak tercatat di iklan ini. Termasuk Steve Jobs, CEO Apple sekaligus kreator iklan tersebut yang bahkan sempat merekam suaranya sendiri sebagai narrator.

Copy writing
iklan ini sungguh menggetarkan hati:

Here’s to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. While some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.
 
Lihat iklannya disini

Jenius adalah orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan kegilaannya. Dan jumlah mereka adalah minoritas. Tanpa kemampuan untuk mempertanggungjawabkan ‘keanehannya’, maka posisi orang-orang yang berbeda dan dianggap gila itu akan dipinggirkan, dijauhkan dari kehidupan sehari-hari yang normal karena dianggap pengganggu keharmonisan dan ketertiban.

Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia, melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu... Bummm!!!

Dunia pun berubah karena hal-hal sederhana yang mereka lakukan, diiringi dengan kebetulan-kebetulan dan dukungan yang mengalir deras dari arah yang tak pernah mereka perkirakan. Setiap kisah kesuksesan bisnis dan kehidupan, tidak lebih tidak kurang, menggambarkan dukungan alam semesta yang aneh seperti itu.

Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, Facebook, yang termutakhir Twitter.

Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar - seperti kata Steve Jobs - to put a dent in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.

Dunia ini penuh dengan kebisingan dari orang-orang yang teriak ramai tentang hal-hal yang tidak penting, hal-hal sampah yang makin menggunung dan menyesakkan mata hati kita. Sampah-sampah yang dikemas dengan bungkus yang mewah, glamour, indah dan menggoda iman. Sampah-sampah yang diiklankan sebagai kebutuhan nomer satu dan bukti kesuksesan tertinggi. Sampah-sampah yang menggiurkan dan menjadikan kita konsumen rakus yang membeli hal-hal yang tak kita butuhkan.

Tengoklah sampah-sampah itu: sinetron kejar tayang, infotainment gosip, politik kekuasaan, iklan-iklan tanpa kedalaman makna, pengajian yang menidurkan jamaahnya, mereka yang mengaku membela agama tertentu sementara tingkah lakunya justru merusak apa yang dibelanya.

Lawanlah kebisingan itu. Dengarlah suara lirih dalam hatimu. Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya. Memperjuangkan ide-ide yang kau yakini justru karena ditolak orang lain, justru karena dicemooh dan dijauhi.

Engkau – dan siapapun yang punya kemauan – bisa menjadi bagian dari orang-orang besar yang dicatat oleh dunia dengan tinta emas. Selama engkau bersedia membayar ‘harga’nya. Selama engkau bersedia menggenggam erat ide-idemu dan memperjuangkannya sepenuh hidupmu.

Suatu hari kelak - saat waktunya tiba - engkau akan menjadi gila. Atau legenda. 


Image sources:
http://www.icouple.sg/blog/wp-content/uploads/2007/04/apple_think_different.jpg
http://www.iphonespecialist.com.au/_/rsrc/1317883989663/steve-jobs-think-different-tribute-video/Steve-Jobs-1955-2011.png

2011/09/15

Kejernihan di Tengah Kegaduhan

Image pinjem dari http://blue4tomorrow.files.wordpress.com/2011/03/clear_cut_light_by_callu.jpg

Dalam hidup kita, banyak hal baik yang kita tahu persis akan besar manfaatnya untuk dikerjakan tapi tidak juga kita kerjakan. Atau kita kerjakan sebentar lalu terhenti karena kesibukan, keperluan lain, tak ada waktu dan gangguan-gangguan lainnya yang membuat aktivitas yang baik itu tak bisa kita kerjakan secara kontinyu.

Misalnya: sholat tepat waktu jamaah, olah raga rutin, merenung, puasa senin kamis, sedekah, membaca buku, minum air putih yang cukup, dan sebagainya. Oya satu lagi: menulis alias ngeblog. Sejak mulai ada facebook dan twitter, rasanya memang waktu banyak tersita untuk dua hal itu, apalagi dengan adanya mobile internet via blackberry yang makin memudahkan untuk akses online. Makin mudah aksesnya, jadi makin sering aksesnya. Makin jauhlah dari kemungkinan menulis dengan tenang dan jernih.

Tapi saya mengamati satu kecenderungan yang bisa jadi kelemahan atau kekuatan, twitter dan status facebook menghasilkan respon atas pemikiran kita yang pendek (140 karakter), seringkali respon interaktif itu yang membuat asyik, menenggelamkan saya untuk menyingkat pemikiran-pemikiran yang pendek, singkat, padat sekaligus mulai menjadi tembok yang menghalangi otak ini untuk mau menggali sedikit lebih ke dalam dan menuangkannya menjadi pemikiran yang komprehensif, deep dan utuh.

Dan alarm di kepala saya terus berdenging, mengingatkan bahwa cara-cara yang singkat dan gaduh lewat twit dan update status di facebook itu tak akan mampu mengajak para follower dan teman-teman online untuk merenung dan menyesapkan makna yang lebih mendalam, yang lebih, di situlah peran tulisan di blog yang tak bisa tergantikan. 

Bahkan jika ingin lebih khusyuk lagi untuk berkomunikasi dengan hati, seringkali buku berbasis kertas lebih bisa menjaga keintiman komunikasi antara penulis dan pembacanya, tak terdistorsi dengan gangguan dari situs-situs lain yang terbuka pada waktu bersamaan.

Image pinjem dari: http://1.bp.blogspot.com/_6J2JrfZe8kE/TMPBNY3JOMI/AAAAAAAAAfg/sCRcfHSvRPI/s640/tetesan-jernih.jpg 

Pagi ini, kesadaran untuk memulai hal-hal baik itu muncul kembali, seolah bangun dari tidurnya yang mungkin juga tak nyenyak. Saya tak merasa terbebani harus menulis, karena memang bukan kewajiban saya. Tak ada yang marah jika saya tak menulis di blog ini, ah tapi memang ada yang sering mengingatkan saat tak ada tulisan baru selama berminggu-minggu. Jadi bukanlah kewajiban yang mendorong saya mengetik lagi tapi kesadaran untuk membongkar tembok itu, mensinergikan kejernihan berfikir dan berkomunikasi secara interaktif. Toh twitter dan facebook bisa menjadi jembatan agar lebih banyak calon pembaca berkunjung ke blog ini. Kualitas materi tulisan dan keunikan isu yang diangkat jadi topik tulisanlah yang akan membuat para pembaca mau berlama-lama berkunjung atau melakukan kunjungan ulang esok hari.

Hal-hal baik jangan dikerjakan makbreg sekaligus, nanti berat dan kita akan hilang semangat. Sedikit-sedikit saja yang penting kontinyu dan kita bisa bahagia menjalaninya dan merasa makin bersemangat setiap kali memulainya lagi. Saya pamit dulu untuk sementara, saya akan kembali. Menyapa bagian terdalam diri saya, untuk saya bagikan kepada Anda semua pengunjung blog ini yang lama tak saya sapa dengan inspirasi jernih, yang semoga menjernihkan di tengah kabut pemberitaan media massa yang mengaburkan benar salah.

Walaupun mungkin hujan masih mengguyur di luar, hawa dingin mendekap, tapi kita bisa teruskan untuk berkarya dan berbuat baik. Bukan karena harus, tapi karena kita bahagia mengerjakannya. Dan orang lain menjadi lebih bahagia karenanya.

2011/08/11

Materi Sharing Keajaiban Lailatul Qadar

2011/06/09

Yuk Memaksakan Diri

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?



Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?



Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?



Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?



Jawablah: TIDAK. Atau: YA.

Dan kedua jawaban itu bisa sama-sama benar. Lha, maksudnya gimana? 

Sabar, begini lho maksud saya. 

Jika engkau menjawab TIDAK, artinya engkau telah menggunakan akal sehatmu dengan benar. Engkau bersandar pada pepatah "Engkau harus kuat dulu agar bisa menolong yang lemah, engkau harus menyelamatkan dirimu terlebih dahulu sebelum menyelamatkan yang lain." Pepatah ini mengandung arti, tak mungkin engkau bisa menolong orang sakit jika engkau sendiri sakit. Engkau tak bisa menolong orang miskin kalau engkau sendiri tergolong orang miskin. Jeruk tak bisa makan jeruk. Itulah yang saya maksudkan sebagai akal sehat. Lihat petunjuk untuk memakai zat asam di pesawat, jangan menolong orang lain walaupun anakmu sendiri sebelum engkau memasang zat asam untukmu duluan.



Lha, terus mengapa yang menjawab YA juga benar?



Karena kebenaran jawabanmu tergantung keyakinanmu. Tak ada kebenaran tunggal di dunia nyata, seperti kebenaran eksak di dunia akademis. Kalo engkau yakin TIDAK itu artinya betul, menurutmu. Begitu juga jika jawabanmu adalah YA. Itu juga betul, menurutmu. 

Tapi jawaban yang berbeda itu akan menghasilkan akibat yang berbeda pula.

Hidup di dunia realitas ini, tak semua berjalan dengan hitungan matematis, 1+1 tidak selalu sama dengan 2. Dan mereka yang memilih ya alias memilih memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan akal sehat, tentulah wajar jika dituduh tidak memiliki akal sehat alias tidak masuk akal.

Tapi sebentar dulu, menurut Anda: apa sih pengertian tidak masuk akal?



Ada yang mau jawab? Kok sepi? Yang di depan, belakang? Ya.. Anda yang sedang pegang Blackberry. Apa artinya tidak masuk akal? (penulis ngaco, mana bisa tulisan dibikin interaktif? Sok tahu! Heheheh :)



Tidak masuk akal itu ada dua pengertiannya. Ini menurut saya lho, lha tadi saya tanya menurut Anda, Anda diam saja. Hehehe, makin parah ngaconya!



Yang pertama, tidak masuk akal berarti memang faktanya salah.

Alias logika berfikirnya salah. Misalnya: meja kayu adalah meja yang terbuat dari roti. Ya jelas salah. Yang betul atau yang masuk akal adalah meja yang terbuat dari besi, eh kayu. Ya.. Kayu. Itu yang masuk akal.



Yang kedua, tidak masuk akal juga bisa berarti akal kita tidak bisa menjangkaunya alias belum mampu memahaminya.

Misalnya: dulu membayangkan pendaratan manusia di bulan dianggap gak masuk akal. Karena belum pernah ada yang melakukannya. Columbus yang berniat memutari bumi dianggap nggak masuk akal karena pengertian umum orang-orang pada jaman itu: bumi itu datar. Nanti di ujung bumi, Columbus akan nyemplung dan hilang entah kemana. Di dunia kedokteran, santet dianggap nggak logis. Bagaimana mungkin bisa ada sendok garpu masuk perut tanpa melukai tubuh korbannya? Lewat mana masuknya? Dengan teknologi apa?

Nah, saat waktu berlalu: kita tahu bahwa hal-hal aneh ini bisa terjadi, nyata terjadi meskipun secara logika mungkin kita tetap tak bisa mempercayainya.

Nah, saat akal tak menjangkau, kita mengenal yang disebut sebagai iman. Makanya, ada ungkapan sami’na wa atho’na dalam Islam, yang artinya: saya dengarkan dan taati. Ini khas dunia pesantren, yang biasanya sering diartikan: seorang kyai itu dianggap mutlak perintahnya, santri-santri harus sami’na wa atho’na. Lebih parah lagi, ungkapan ini dianggap anti demokrasi, anti kritik, taqlid buta, tidak menjunjung azas persamaan dan egalitarianisme.

Padahal dalam hidup kita, pemaknaan sami’na wa atho’na ini begitu luasnya. Coba kita tengok saat kita bayi dan ibu melatih kita untuk belajar jalan. Apakah Ibu menjelaskan dulu manfaat-manfaat belajar jalan kepadamu? Apakah Ibu meminta persetujuanmu untuk melatihmu belajar jalan? Apakah engkau protes? Tidak. Tak ada persetujuan, engkau juga tak protes. Semua berjalan alamiah sampai saatnya nanti engkau – setelah belajar, setelah Iqra’ - paham manfaatnya bisa berjalan dengan kedua kaki.

Lalu saat menginjak Taman Kanak-kanak dan mulai belajar membaca, menulis dan berhitung. Apakah guru meminta persetujuanmu untuk mengajarkan ilmu itu? Apakah engkau protes? Tidak. Saat engkau menguasai ilmu itu, dengan berjalannya waktu engkau akan paham manfaatnya.

Kita telah menerapkan sami’na wa atho’na saat masih kecil, tapi menolak menerapkannya saat dewasa karena alasan demokrasi dan sebagainya. Anak-anak muda seringkali mengedepankan logikanya, sehingga babak bundas dihajar realitas. Pemerintah, pengusaha hanya menggunakan logika semata-mata untuk sukses, akhirnya kecapekan untuk hanya ketemu jalan buntu. 

Saat iman ditinggalkan, saat kita tak menyediakan diri untuk ‘diatur’ oleh yang Maha Mengatur malah makin menjauh dari-Nya, seringkali kita tak berdaya di hadapan masalah-masalah duniawi yang bertumpuk-tumpuk menenggelamkan kita pada jurang keputusasaan.

Untuk belajar sesuatu yang saya tak paham sama sekali, saya menggunakan metoda sami’na wa atho’na. Nanti, metoda berikutnya yang namanya Iqra’ alias belajar dengan menggunakan logika diperlukan untuk mentransformasikan ilmu itu ke dalam pola-pola pikir logis agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak.

Persis seperti Sunan Kalijaga yang diminta menjaga tongkatnya Sunan Bonang di pinggir sebuah sungai selama 40 hari 40 malam. Tidak bertanya untuk apa, tidak protes, dijalani saja karena iman. Persis seperti Bruce Lee yang diharuskan guru kungfunya berdiri melatih belajar kuda-kuda, tidak bergerak setiap hari selama seminggu penuh. Ia bosan dan protes mengapa tak dilatih cara menendang, memukul atau bertarung. Gurunya diam saja dan hanya memberi isyarat untuk melanjutkan latihan kuda-kudanya. Logika Bruce Lee menolak tapi keyakinannya membuatnya menuruti gurunya.

Lalu Sunan Kalijaga menjadi anggota Wali Sanga yang paling terkenal. Lalu Bruce Lee jadi bintang martial art Hollywood yang terkenal dan pendiri Jeet Kun Do yang kuda-kudanya terkuat, karena kuda-kuda adalah pondasi mendasar dari semua ilmu beladiri.

Kembali ke pertanyaan awal saya.

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?

Sebuah cerita yang disampaikan oleh ustadz Yusuf Mansur tentang seorang kakek yang nekad menjual rumah satu-satunya karena iman kepada Allah walaupun semua saudara dan anak-anaknya melarangnya, Allah ganti dengan rumah yang lebih bagus dan lebih besar sepulangnya dari ibadah haji.




Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?



Saat uang terakhirmu masuk ke kotak amal, resikonya adalah engkau akan pulang jalan kaki dan kemungkinan sakit kepalanya makin parah. Tapi yang pernah saya alami itu tak terjadi, seorang teman tiba-tiba muncul di serambi mesjid menawari untuk mengantar ke rumah setelah sebelumnya menraktir makan siang. Sakit kepala yang tadi bikin senut-senut malah kabur tanpa permisi setelahnya.



Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?

Ini juga cerita nyata dari ustadz Yusuf Mansur, sang Ibu yang ikhlas menyedekahkan uang yang sangat diperlukannya itu, tiga bulan kemudian Allah ganti dengan kecukupan biaya sekolah anaknya untuk bulan-bulan berikutnya karena sang anak terpilih untuk menggantikan seorang peserta lomba cerdas cermat yang tiba-tiba sakit dan timnya menjadi juara. Allahu Akbar!


Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?

Dengan senyum yang menghias wajah sang pengemis setelah perutnya kenyang oleh nasi goreng jatahmu, maka terkuaklah pintu langit. Allah takkan menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah menolong hamba-Nya yang lain yang lebih lemah. Kejadiannya bisa saja tiba-tiba hpmu menerima sms yang berisi informasi transfer sejumlah uang tertentu yang bisa digunakan makan malam sepuluh hari. Atau di puncak laparmu, seseorang mengetuk pintu dan mengantarkan paket lengkap makan malam tak cuma nasi goreng tapi juga ayam goreng dan buah-buahan pencuci mulutnya sekaligus. Atau tak ada pengganti makan untuk malam itu, tapi Allah dengan kuasa-Nya menghilangkan laparmu sampai besok pagi untuk menghidangkan sarapan paling lezat yang pernah kau rasakan seumur hidupmu.

Saat kita telah melakukan ikhtiar yang terbaik melalui tuntunan-Nya, maka Allah akan menyelesaikan urusan-urusan kita dengan cara-Nya. Cara-cara yang mungkin takkan pernah kita bisa pahami dengan keterbatasan logika kita. Cerita tentang sedekah memang selalu begitu, Allah jualah Sang Maha Perancang Skenario yang sebaik-baiknya.

Kita tidak berhak memaksa orang lain untuk mengikuti prinsip hidup kita, memaksa orang lain untuk berbuat baik. Tidak. Apa yang dilakukan oleh FPI menunjukkan upaya seperti itu hanya akan menimbulkan kekerasan dan permusuhan.

Hak kita adalah memaksa diri kita untuk melakukan kebaikan, memaksa diri untuk berbagi saat kekurangan, memaksa diri untuk menolong orang lain saat kita justru butuh pertolongan. Nanti orang lain akan melihat keteladanan itu dan mengikutinya dengan suka rela dan suka hati.

Lha terus, kebutuhan kita siapa yang mencukupi Mas? Jawaban saya mungkin terdengar naïf, tapi saya yakin Allah yang akan memenuhi kebutuhan kita. Allah saja yang paling pantas kita harapkan dan gantungkan nasib kita.

Inilah sesungguhnya strategi dakwah yang belum banyak diterapkan oleh kita semua. Karena kurangnya keyakinan dan iman atas kekuasaan dan kekayaan Allah, kita ragu-ragu. Kita maju mundur, akhirnya tak jadi berbuat.

Jika engkau bersedia bersikap kejam pada diri sendiri maka alam semesta akan memperlakukanmu dengan lebih mudah. Jika kita terlalu manja, terlalu nyaman dininabobokkan oleh comfort zone, tunggulah saat alam semesta memaksa kita dengan masalah, bencana atau kehilangan sehingga mau tidak mau kita dipaksa harus bangun, dipaksa harus lebih serius menjalani kehidupan.

Marilah kita mulai memaksakan diri melakukan kebaikan. Dengan keyakinan dan kegembiraan. Bismillah…

2011/06/03

Mencari Seni yang Islami

Seni selalu masuk dalam wilayah pembicaraan yang menarik dalam Islam, posisinya yang unik seringkali membangun dialog antara yang pro dan kontra. Bagaimana seni menurut Islam atau bagaimana Islam menurut seni? Atau adakah seni yang Islami dan seni yang tidak Islami? Dalam tataran yang lebih elementer saat bicara tentang halal atau haramnya seni di mata Islam, pertanyaan itu menukik: seni seperti apa yang seharusnya diharamkan dan seni seperti apa yang sebaiknya dihalalkan, disupport dan dikembangkan? 

Film Tanda Tanya karya Hanung Bramantyo yang menjadi Kontroversi

Dialog-dialog yang terbangun – dalam riuh kata-kata maupun dalam kesunyian hati masing-masing penikmatnya – hadir dengan segala macam konteks yang menyertainya. Menentukan karya seni mana yang layak atau tak layak sebagai representasi Islam, selain mengacu pada standar estetika, daya kreativitas, orisinalitas juga mempertimbangkan pentingnya menemukan ide-ide karya yang mampu berpijak pada konteks Islam yang lebih membumi.

Sebagai preparat penilaian itu, terlihat masih banyak yang harus kita gali dari kedalaman perspektif pemahaman Islam saat menuangkannya dalam sebuah karya seni.

Islam masih cenderung dipahami sebagai baju, sebagai packaging, sebagai sekedar ‘bahasa komunikasi’ dengan audiens. Sehingga banyak karya yang tampil di sekitar kita (lukisan, cerpen, film, sinetron, teater, puisi, lagu, dll.) terkesan ‘meminjam’ simbol-simbol yang sering dipersepsikan oleh khalayak sebagai representasi Islam: jilbab, peci, sajadah, Palestina, jihad, dan yang seperti itu.

Sehingga kita melihat seni Islam yang ditampilkan lebih cenderung berbau Islam, bertopeng Islam, belum menggali ke akar-akar terdalam nilai-nilai Islam yang hakiki. Dalam bahasa saya, belum sungguh-sungguh Islami.

Misalnya saat kita bicara tentang perjuangan Palestina, mengapa stereotype lama itu masih saja muncul? Pengungkapan secara verbal tentang kebencian pada kekejaman Yahudi (yang semua orang sudah tahu), jihad yang berarti perang sampai titik darah penghabisan (yang semua orang sudah tahu), bahasa visual yang berhias bentuk peluru, batu, darah, kafiyeh, nuansa dendam pada Yahudi (yang semua orang juga sudah tahu).

Tidak ada sesuatu yang baru kecuali pengulangan dan pengulangan tanpa inovasi kreativitas itu membosankan. Sejujurnya saya bertanya: dimana kecerdasan kita sebagai muslim untuk menggali sesuatu yang lebih fundamental dari itu semua? Bagaimana kita bisa menggunakan symbol-simbol Islam sebagai sebuah powerfull tools untuk bicara tentang - misalnya – memaknai konsep jihad secara benar menurut Islam.

Kita masih terjebak pada tataran dasar pemikiran ‘what to say’: apa yang akan saya ungkapkan dalam karya saya. Masih tergagap-gagap untuk memahami 'how to say'nya dengan cara yang sophisticated, efektif sekaligus inspiratif.

Seperti ketika misalnya saya menyukai seorang wanita, di detik itu juga saya langsung bilang ‘aku cinta kamu.’ Yang tentu saja akan mengagetkan sang wanita karena secara mental ia tak siap, karena kita tak menyiapkan penerimaannya dengan cukup baik. Kemungkinan kegagalan pernyataan cinta saya untuk diterima akan sangat besar. Tak ada daya tarik dan pemahaman insight yang cukup dari apa yang kita ungkapkan dengan mentah. Dan perasaan cinta kita akan terbanting sempurna karena ditolak atau ‘lebih parah lagi’ dicuekin.

Akan berbeda akhir ceritanya, jika kita tak langsung menembakkan ‘aku cinta kamu’ pada pertemuan pertama. Dengan melakukan proses pendekatan, mengerti karakter seperti apa wanita yang kita harapkan cintanya. Apa kebiasaannya, apa kesukaannya, idolanya siapa, sampai kita paham betul insight-nya. Sesuatu yang pada pertemuan pertama tersembunyi oleh penampilan luarnya. Insight inilah data paling berharga untuk amunisi kita dalam merancang sebuah moment yang luar biasa, saat waktunya tiba kita menyatakan cinta.

Opick dan lagu-lagu Islami-nya

Sebagai seniman muslim, kita harus mulai mendaki makna yang lebih tinggi lagi. Mulai lebih serius untuk memikirkan strategi ‘how to say’, mempelajari insight audiens sebagai target yang akan mengapresiasi karya kita, menggali lebih dalam lagi apa sesungguhnya nukleus Islam, nilai-nilai fundamental apa yang akan menjadi sumbangan Islam dalam membangun sebuah peradaban dunia yang lebih baik.

Saya berharap bahwa proses menuju karya yang lebih baik, lebih komprehensif, lebih menggetarkan dalam merepresentasikan nilai-nilai Islami yang sejati.

Apakah karya-karya yang saya hasilkan sudah Islami? Apakah tulisan-tulisan saya di blog ini sudah Islami? Apakah tingkah laku saya sudah Islami?

Jawaban yang pasti: belum. Tak mudah menemukan model ideal karya-karya Islami. Tapi kita bisa bercermin pada puisi-puisi Emha Ainun Nadjib, Taufik Ismail dan Gus Mus. Pada lantunan lagu-lagu Opick dan Kiai Kanjeng. Pada novel-novel Andrea Hirata. Pada beberapa film Hanung Bramantyo. 

Kyai Kanjeng berpentas di Finlandia

Karya-karya yang saya sebutkan barusan pastinya juga masih akan mengundang perdebatan. Good! Perdebatan juga bagus, menunjukkan hidupnya dinamika, kita perlu bergesekan untuk maju, bukan saling setuju tapi tak bergerak kemana-mana.

Bukankah sebuah perjalanan panjang dimulai dari sebuah langkah awal?

Karya seni Islami itu adalah proses pencarian yang terus koma, takkan pernah mencapai titik. Titik tertinggi hanyalah batas imajinasi kita sebagai manusia, tapi dengan iman yang utuh pada-Nya, imajinasi itu akan mengembara menuju-Nya.

Emha Ainun Nadjib

Tapi di tengah segala kekurangan yang menjadi pekerjaan rumah kita semua, saya harus katakan salut untuk para seniman, sastrawan, desainer yang telah berkarya dengan intens sementara masih banyak di luar sana yang tak sempat lagi menggeluti nilai-nilai Islam karena terpenjara kehidupan profesionalisme, karier dan prestasi dunia.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri, berkarya semampu kita. Seribu kritik dan saran yang saya tuliskan di sini, tak secuilpun layak disandingkan dengan karya nyata yang telah teman-teman sekalian kerjakan untuk merengkuh Ridlo-Nya.

Semoga ini menjadi ikhtiar kita semua untuk berjuang di jalan-Nya. Untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, mewujudkan cahaya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Sumber Image:
Film Tanda Tanya https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgSWYcpStUv5l8dCUXIo3VAPolYpoYK4QRxAuSGPUN5gN9rJMpZHwmQQkZdVLagUb2EmZQvkuvztfVoLVDgk4TW2d8dy2tZJlcNWTFsXbMjubro8djqlHeOL3j-IYj4I-lcD6_FuYBq8q7/s1600/review+film+tanda+tanya.jpg
Album Opick https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhx91pK4gs-1O52YA9cKfmT8PZAIg3zSQxg6xxsQDycbNYJg6yRl53kg8PFNdOCWxcA2SKCLdwxZ7eLzgESrrz7GRqirjV3awjTIWR9ELxtQ70CpQfFk7mgQ6no11AAZnB_Y03f2HVmJVs/s1600/opick-dibawahlangitmu.jpg
Kyai Kanjeng http://multiply.com/mu/masarifbachtiar/image/8/photos/7/500x500/3/Kiai-Kanjeng-bershalawat.JPG?et=sK9jY2YKJP4%2C6MAqwnQ3mg&nmid=102656412
Emha Ainun NAdjib http://www.andikafm.com/images/news/68566_emha_ainun_nadjib_300_225.jpg

2011/04/15

Dicari: Orang Baik

Dalam kisaran 5 tahun terakhir sejak 2006, gerakan bersama anak-anak muda negeri ini untuk menggaungkan kreativitas dan menggiatkan creative economy yang berbasis creative industry, Alhamdulillah menemukan momentumnya. Gerakan industri kreatif ini makin terakselerasi karena dukungan luar biasa oleh beberapa institusi seperti Kementerian Perdagangan, British Council Indonesia dan juga gerakan-gerakan berbasis kemandirian lainnya yang tersebar di pelosok negeri ini. Bola salju itu menggelinding, makin membesar hari demi hari.


Lahirlah ikon-ikon industri kreatif Indonesia: Wahyu Aditya (Hellomotion), Ridwan Kamil (Urbane), Yoris Sebastian (OMG), Dicky Sukmana (Suave Magz), Ayip Budiman Bali (Chairman ADGI, Matamera), Enda Nasution, Andi Boediman, Djoko Hartanto (Concept Magz), Singgih Kartono (Magno) dan masih banyak lagi.

Kreativitas kini mulai lebih diapresiasi dan bahkan telah menjadi salah satu pintu solusi untuk memajukan bangsa dan negeri ini. Tapi perjalanan yang sesungguhnya belumlah selesai, bahkan baru saja dimulai.

Sejak membaca buku David Berman DO GOOD DESIGN, saya merasa upaya untuk mentransform orang biasa menjadi kreatif saja belum cukup. Creative thinking doang belum mampu menjawab semua problem.

Kita harus balik lagi ke fondasi yang paling mendasar, yang mendasari tumbuhnya kreativitas. Yaitu bagaimana agar kita semua di negeri ini memulai aktivitas kita sehari-hari dengan niat untuk menjadi orang baik. Alias tidak jadi orang jahat. Mengutip kredonya Google: DON'T BE EVIL!

Inilah sesungguhnya akar permasalahan yang membuat bangsa ini makin terpuruk. Lihat kualitas EQ anggota DPR kita, lihat pemerintah kita, lihat gunungan kasus yang makin menggunung, lihat kemenangan-kemenangan aneh para mafia, lihat PSSI, lihat penyanderaan kapal di Somalia, lihat bom yang meledak di masjid, lalu lihatlah cermin di depan kita: mengapa negeri ini jadi absurd begini?

Banyak orang pintar, banyak orang kaya, banyak orang berkuasa, banyak orang kreatif, tapi sedikit sekali orang baik.

Harapan saya dalam 4 tahun ke depan, saat usia saya Insya Allah menginjak angka 40 tahun, gerakan untuk menambah jumlah orang baik di negeri ini mulai menunjukkan hasilnya. Tapi tentu ini tugas berat yang tak bisa dikerjakan sendiri. Gerakan ini membutuhkan energi besar dari anak-anak muda negeri ini untuk mendobrak kepalsuan-kepalsuan, membongkar konspirasi, meletakkan lagi lembaran putih untuk mendasari masa depan Indonesia yang lebih baik.

Mewujudkan GOOD dalam arti tidak jahat dan GOOD dalam arti achievement (pencapaian).

Jadi jangan hanya jadi orang kreatif ya, jadilah orang baik. Yang paling top: jadilah orang baik yang kreatif. Anda akan dicari oleh kesempatan, rejeki, kekuasaan, jika memenuhi kriteria ini. Serius, saya garansi.

So BE GREAT! Coz good is not enough!

Mari berjuang bersama. Salam :)

Image from : 
Wahyu Aditya https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijO8aiMTbiztK5EzQxs9Eyexb0ReYjcTFsYK2yznyLe8rGiU1e0xJQRcGEWOwcp-RX_mdqViV1DxAw3jxitHFiYf66Qnz39-sRIXukQG-uESW1_QJS7JtFSqL9c3dlukrjCf1UjZij4Pc/
Yoris Sebastian http://d.yimg.com/gg/u/faf1c3fad48736b1928f37d0af4a092045ef811e.jpeg
Do Good http://www.selectism.com/news/wp-content/uploads/2009/12/dogooddesign-front.jpg