Footer 1

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Desain Grafis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desain Grafis. Tampilkan semua postingan

2012/04/26

HOT NEWS: LFL #2 di Surabaya


2012/04/01

Setetes Embun di Kebun Ide

Untuk Mas Handoko Hendroyono*

Sejurus setelah saya menyelesaikan membaca ‘Brand Gardener’, saya teringat sebuah peribahasa: saat murid siap, guru akan datang.

Begini ceritanya: seperti siapapun yang terlibat dalam bisnis advertising by choice (alias tidak terpaksa ),saya pun selalu mencoba untuk memikirkan ulang industri yang saya geluti sejak 1996 ini. Mungkin 15 tahun barulah seumur jagung kalau bicara pengalaman, tapi setidaknya saya pelan-pelan mulai memahami industri seperti apa yang saya masuki ini.

Pertanyaan besar yang selalu mengganggu saya adalah: apakah industri ini cukup syarat untuk dijalankan dan dihidupi oleh orang-orang yang punya niat, passion, cinta dan keyakinan yang kuat untuk memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya?

Ataukah ia hanya sekedar menjadi perpanjangan corong bagi kekuatan brutal kapitalisme yang ideologinya adalah: jualan, jualan, jualan? Saya pun mulai bertanya-tanya, pada siapapun atau apapun yang saya pikir memiliki jawabannya.

Kebimbangan saya menemui jalan buntu. Kemana pun saya bertanya, justru makin membingungkan setelah mendapat seribu versi jawaban. Bahkan tak sedikit yang justru merasa heran atas pertanyaan sederhana saya itu, “Kamu ini aneh, iklan itu tujuannya untuk memaksimalkan terjadinya penjualan. Menumbuhkan pasar. Memperlancar arus barang dari gudang ke konsumen. Iklan yang menyadarkan orang untuk mengurangi pembelian bukanlah iklan. Itu pengajian!”

Saya makin sulit menemukan ketentraman hati di tengah hiruk-pikuk dunia advertising yang meramu teknik-teknik canggih komunikasi dan bombardir media untuk ‘memerangkap’ target audiens agar membeli, menghabiskan uangnya yang sedikit untuk menggemukkan pundi-pundi para pemilik industri raksasa.  

Lalu Buku Brand Gardener tulisan Mas Handoko Hendroyono ini menyapa saya.

Menyadarkan saya bahwa masih ada orang-orang baik yang berani berfikir bebas dan jernih di industri yang pressure-nya begini keras dan berdarah-darah.

Hitunglah berapa jumlah advertising company di negeri ini? Saya merasa lebih pas dengan istilah company ketimbang agency, apalagi sejak cara berbisnis advertising berubah, tak lagi dapat ‘jatah’ agency fee media placement. Entry barrier-nya rendah sekali, setiap orang bisa membuka advertising company. Betapa mudahnya pula nanti, untuk menutupnya karena persaingan yang brutal atau lantaran para pendirinya terlalu cepat putus asa.

Saya jatuh cinta pada istilah Brand Gardener. Ada kemurnian pada kata Gardener. Ada kejujuran dalam proses alamiah untuk tumbuh. Industri advertising yang telah bergeser menjadi sekedar karnaval endorser yang mengiklankan produk yang tak dipakainya dan hiasan sampah visual luar ruang yang tak menentramkan, seperti menemukan setetes embun. Mungkin embun ini tak cukup untuk menyejukkan seluruh taman yang mulai mengering, tapi kilaunya yang diterpa matahari pagi adalah sebuah doa. Dan harapan.

Saat murid siap, guru akan datang.

Saya merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang masih memiliki passion dalam dirinya untuk membangun industri advertising yang lebih membumi, lebih manusiawi, lebih mendengarkan suara hati.

Saya mendaftarkan diri menjadi murid dengan riang hati, karena Pak Guru Handoko mengajari saya dengan story telling-nya untuk menggunakan hati dalam bekerja, berkarya, mencipta.

Siapapun bisa mengubah dunia, jika mau. Seperti yang dikatakan Steve Jobs, people with passion can change the world. Buku ini adalah percikan renungan, pemikiran dan pengalaman penulisnya sebagai praktisi aktif periklanan yang akan menyalakan lagi passion itu, untuk membuat dunia jadi lebih baik.

Bukan sekedar brand building tapi brand gardening. Tak cukup hanya membangun brand, tapi bagaimana menjadikan brand sebagai elemen terindah di taman hati.

Saat menutup buku ini di halaman terakhir, saya merasakan benih cinta itu tumbuh pelan-pelan, ketika saya menatap dunia advertising sekali lagi dengan mata kanak-kanak yang jernih tanpa prasangka.

Semoga kehadiran buku langka ini di taman advertising tempat brand-brand bertumbuh, menjadi setetes embun yang menyejukkan jiwa-jiwa kreatif yang resah. Menjadi persemaian bibit-bibit kejujuran yang makin memanusiakan kita semua. 

*Tulisan ini adalah pengantar untuk Buku Brand Gardener karya Mas Handoko Hendroyono

Image from: http://www.gubukbuku.com/content/uploads/mtoc/product_images/40111010150563120436993110989191992928985160074781n.jpg dan http://www.mytulisan.com/wp-content/uploads/2012/03/BLOG.jpg

2012/02/01

Leave The Comfort Zone

2011/06/27

Lelang Buku Bisnis untuk Wedangan

Untuk menikmati kehidupan kita sehari-hari dengan totalitas, seringkali diperlukan sebuah gebrakan, sebuah spontanitas, suatu tindakan yang seolah-olah merusak harmoni keteraturan. Agar hidup tak berjalan monoton, begitu-begitu doang.

Nah, salah satu yang saya begitu tergila-gila dalam hidup ini adalah buku. Yup, buku! Bukan pakaian yang mahal, gadget yang keren, makanan kelas hotel atau tamasya ke luar negeri. Nop, hanya buku. Dalam sebulan, rata-rata saya menghabiskan Rp 200.000,- sampai Rp 500.000,- untuk belanja buku baru. Itu adalah anggaran terbesar saya, lebih besar daripada biaya beli baju atau makan, bahkan lebih besar daripada biaya pulsa langganan Blackberry atau internet unlimited.

Nah, suatu hari tibalah ide spontan yang membuat saya sendiri terkaget-kaget. Setelah komitmen hanya akan memiliki maksimal 10 potong  pakaian dan mengikhlaskan sisanya udah terlaksana, sasaranpun berlanjut. Saya punya begitu banyak koleksi buku:  akan menjadi sesuatu yang berbeda jika saya melepaskan juga sebagian besar diantaranya. Mulai dari buku-buku yang jarang saya baca, yang tak begitu saya sukai isinya. Tidak terlalu sulit mengerjakan ini, masukin buku-buku di kardus dan kirimkan ke siapa saja yang membutuhkan. Done!

Tapi penyakit iseng ini kumat lagi, menantang keberanian saya sekali. Bagaimana jika yang kau lepaskan adalah buku-buku yang begitu kau sukai, yang bersejarah, yang membentuk karakter dan mengisi kepribadianmu selama ini. Beranikah untuk melepaskannya pergi?

Nah, sejujurnya ini sulit. Berat di hati. Pak Roni Yuzirman, sahabat saya founder TDA yang menerapkan simplicity dalam kehidupannya pun mengaku sulit untuk berpisah dengan buku-bukunya. Karena buku beda dengan benda yang lain, misalnya pakaian atau harta lainnya.

That’s it, because book is a part of his life. Me too, book is integrated in me.

Tapi inilah asyiknya, saya dengan sadar menerapkan ilmu memaksakan diri, saya masih bisa hidup merdeka tanpa buku-buku ini. Ilmu yang saya pelajari darinya takkan menguap saat buku-buku ini pergi. Sehingga, hadirlah keputusan itu: saya akan hibahkan sebagian besar buku-buku bisnis terbaik saya kepada Tim ADGI Jogja Chapter bekerja sama dengan TDA Jogja yang akan melelangnya di acara Wedangan, besok Jumat 1 Juli 2011.

Seluruh hasil lelang buku-buku ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan Wedangan selanjutnya yang harus terus berjalan agar manfaatnya makin besar bagi masyarakat kreatif Jogja. Juga untuk kegiatan sosial lainnya bagi yang kurang mampu. Teman-teman di ADGI Jogja dan TDA Jogja lah yang akan mengatur pemanfaatan hasil lelangnya. 

Manfaatnya untuk saya? Saya sedang belajar melepas keterkaitan saya dengan benda-benda yang saya sukai. Saya sedang belajar bahwa sesungguhnya saya ini tak punya hak milik apa-apa di dunia ini, apapun yang sekarang dipercayakan pada saya oleh Yang Maha Memiliki, statusnya adalah pinjaman. Saat waktunya sampai, Ia akan mengambilnya dari saya.

Berikut daftar buku-buku yang akan dilelang: 






  1. Good Design – David B. Berman 
  2. Inside Larry &  Sergey’s Brin (Menyimak Pemikiran Pendiri Google) – Richard L. Brand 
  3. Rich Dad’s Guide to Investing – Robert Kiyosaki
  4. Membuka Pintu Langit – KH Mustofa Bisri 
  5. Winning – Jack Welch (Ex CEO General Electric) 
  6. Outliers (Rahasia di Balik Sukses) – Malcolm Gladwell 
  7. The Success Principles – Jack Canfield 
  8. Pemasaran Duct Tape – John Jantsch
  9. Inside Steve’s Brain – Leader Kahney (Edisi Inggris) 
  10. Blue Ocean Strategy – W. Chan Kim, Renee Mauborgne
  11. Near Death Experiences – Tammy Cohen 
  12. Donal Trump, Master Appretice – Gwenda Blair (Edisi Inggris)
  13. Kun Fayakun – Ust. Yusuf Mansur
  14. Business @ The Speed of Thought – Bill Gates 
  15. Blink – Malcolm Gladwell 
  16. Start with The Answer – Bob Seelert (Chairman Saatchi & Saatchi) 
  17. The Road Ahead – Bill Gates 
  18. The Seven Lost Secrets of Success – Joe Vitale (The Secret Guru) 
  19. Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie
  20. Jack, Straight from The Gut – Jack Welch (Edisi Inggris)
  21. Jack, Straight from The Gut – Jack Welch 
  22. Manajemen Gaya Microsoft – Michael Cusumano, Richard W. Selby
  23. The Mindgym (Edisi Inggris) 
  24. Made to Stick – Chip Heath, Dan Heath 
  25. The Audicity of Hope – Barack Obama 
  26. Dari Pojok Sejarah – Emha Ainun Nadjib 
  27. Mereka Bicara JK – National Press Club of Indonesia
  28. Results – Gary L. Neilson, Bruce A. Pasternack
  29. Meraih Cinta Illahi – Jalaluddin Rakhmat
  30. Who Says Elephants Can’t Dance – Louis V. Gestner, Jr.
  31. The Last Words of Chrisye – Alberthiene Endah
  32.  Metamorfosis Sang Nabi – Agus Mustofa 
  33. Inside Obama’s Brain – Sasha Abramsky
  34.  The Lenovo Affair – Ling Zhijun 
  35. Unleash Your Other 90% - Robert K. Cooper
  36. Korean Advertising – Jung Soon-kyun, CEO Kobaco 
  37. Getting Unstuck – Timothy Butler 
  38. Gaya Hidup Sehat Rasulullah – Egha Zainur Ramadhani
  39. Sosok Nabi Khidir – Khalifi Elyas Bahar
  40. Rich Dad’s Conspiracy of The Rich – Robert Kiyosaki 
  41. Free – Chris Anderson
  42. What The Dog Saw – Malcolm Gladwell 
  43. No Rules! – Dan S. Kennedy 
  44. Ngaji Online – Agus Mustofa 
  45. The Monk Who Sold His Ferrari – Robin Sharma
  46. The Impossible Just Takes a Little Longer – Art Berg
  47. The Accidental Billionaires (The Social Network) – Ben Mezrich 
  48. Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi draft)
  49. Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi original)
  50. Jualan Ide Segar – M. Arief Budiman
Terus bagaimana mekanisme lelangnya? Mulai dari harga berapa? Tunggu info berikutnya. Dan Anda juga bisa bergabung untuk menyumbangkan buku-buku yang akan dilelang di acara ini. Insya Allah akan jadi acara lelang yang asyik, karena akan berlangsung secara offline (di tempat acara Wedangan) maupun di online (via account @wedangan di twitter). So, segera follow @wedangan untuk dapet update infonya. Anda juga bisa bertanya langsung jika ingin ikut menyumbang.

Mari berlomba-lomba dalam  kebaikan. Ngebut dalam kebaikan. Insya Allah tak ada yang kalah, semua akan menang :)

Notes: thanx to Iqbal Rekarupa dan Rahmat Rekarupa untuk organize acara dan siapin foto-foto bukunya

2011/06/21

Designers Weekend Gathering

Teman-teman saya di ADGI Jakarta Chapter bikin kegiatan seru nih! Jika Anda praktisi, mahasiswa dan dosen kreatif yang berada di seputaran Jakarta, silakan bergabung, karena semua orang boleh datang. Jadi acara ini untuk umum, bukan hanya anggota ADGI. Dan GRATIS!


Designers Weekend Gathering

Sabtu, 25 Juni 2011 jam 10.00-13.00 WIB
Bertempat di ADGI Jakarta Creative Center
Ged. Kemang Point Lt. Dasar,  Jl. Kemang Raya No.3 Jakarta

Monggo diramaikan :)

2011/05/26

Wedangan DO GOOD with David Berman

2011/05/15

Seminar DO GOOD David Berman

Scopa (Suryapalace Creative On Paper Award) bersama ADGI & Aikon  mempersembahkan:
Seminar David Berman 'Beyond Brand & Design'
Bagaimana melakukan branding dan mengkomunikasikan pesan yang menguntungkan dan bertanggung jawab

David Berman adalah seorang graphic designer dr Canada yang aktif menggaungkan perlunya setiap profesional yg bertanggung jawab terhadap komunikasi visual suatu produk/jasa untuk memperhatikan dampak dari rancangannya bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Lewat bukunya Do Good Design yg telah diterjemahkan ke dlm bahasa indonesia oleh penerbit Aikon, David ingin membagikan misi-nya tentang proses branding dan desain yang menjunjung etika dan justru jika dilakukan dengan baik mendatangkan profit bagi bisnisnya.
Ikuti sharing beliau yang sangat langka ini pada:
Jumat, 27 Mei 2011
Pk. 10.00 - 16.00
Fcone, fX Lifestyle 'Xnter lantai 7

Tiket early bird sampai 13 Mei 2011:
Rp. 600.000,-/orang atau Rp. 500.000,-/orang untuk pembelian minimal 5 tiket.
Mahasiswa/Pelajar Rp. 300.000,- atau Rp. 250.000,-/orang untuk pembelian minimal 5 tiket.
Khusus anggota ADGI dapatkan harga khusus, hubungi Siswanto di +62818930888

2011/04/18

See The Unseen: Creative Sharing Wedangan #6

 

Yang mau hadir silakan di Wedangan Special #6 bersama ADGI Jogja, Kementerian Perdagangan dan Indonesia Kreatif, Teras Javana Cafe, Kota Baru Jogja, Rabu 20 April 2011, FREE untuk umum :)
Topik yang akan saya bawakan: 'SEE THE UNSEEN' bagaimana bangsa Indonesia yang merupakan 'keturunan' bangsa Atlantis yang menjadi puncak peradaban dunia bisa belajar dari kreativitas Nabi Khidir. Sebuah creative mindset untuk menyiapkan format Indonesia versi 2.0, ketika Indonesia menjelma negeri yang maju dan dihormati warga dunia karena kreativitas dan manfaatnya untuk dunia. Semoga :)

2011/04/15

Dicari: Orang Baik

Dalam kisaran 5 tahun terakhir sejak 2006, gerakan bersama anak-anak muda negeri ini untuk menggaungkan kreativitas dan menggiatkan creative economy yang berbasis creative industry, Alhamdulillah menemukan momentumnya. Gerakan industri kreatif ini makin terakselerasi karena dukungan luar biasa oleh beberapa institusi seperti Kementerian Perdagangan, British Council Indonesia dan juga gerakan-gerakan berbasis kemandirian lainnya yang tersebar di pelosok negeri ini. Bola salju itu menggelinding, makin membesar hari demi hari.


Lahirlah ikon-ikon industri kreatif Indonesia: Wahyu Aditya (Hellomotion), Ridwan Kamil (Urbane), Yoris Sebastian (OMG), Dicky Sukmana (Suave Magz), Ayip Budiman Bali (Chairman ADGI, Matamera), Enda Nasution, Andi Boediman, Djoko Hartanto (Concept Magz), Singgih Kartono (Magno) dan masih banyak lagi.

Kreativitas kini mulai lebih diapresiasi dan bahkan telah menjadi salah satu pintu solusi untuk memajukan bangsa dan negeri ini. Tapi perjalanan yang sesungguhnya belumlah selesai, bahkan baru saja dimulai.

Sejak membaca buku David Berman DO GOOD DESIGN, saya merasa upaya untuk mentransform orang biasa menjadi kreatif saja belum cukup. Creative thinking doang belum mampu menjawab semua problem.

Kita harus balik lagi ke fondasi yang paling mendasar, yang mendasari tumbuhnya kreativitas. Yaitu bagaimana agar kita semua di negeri ini memulai aktivitas kita sehari-hari dengan niat untuk menjadi orang baik. Alias tidak jadi orang jahat. Mengutip kredonya Google: DON'T BE EVIL!

Inilah sesungguhnya akar permasalahan yang membuat bangsa ini makin terpuruk. Lihat kualitas EQ anggota DPR kita, lihat pemerintah kita, lihat gunungan kasus yang makin menggunung, lihat kemenangan-kemenangan aneh para mafia, lihat PSSI, lihat penyanderaan kapal di Somalia, lihat bom yang meledak di masjid, lalu lihatlah cermin di depan kita: mengapa negeri ini jadi absurd begini?

Banyak orang pintar, banyak orang kaya, banyak orang berkuasa, banyak orang kreatif, tapi sedikit sekali orang baik.

Harapan saya dalam 4 tahun ke depan, saat usia saya Insya Allah menginjak angka 40 tahun, gerakan untuk menambah jumlah orang baik di negeri ini mulai menunjukkan hasilnya. Tapi tentu ini tugas berat yang tak bisa dikerjakan sendiri. Gerakan ini membutuhkan energi besar dari anak-anak muda negeri ini untuk mendobrak kepalsuan-kepalsuan, membongkar konspirasi, meletakkan lagi lembaran putih untuk mendasari masa depan Indonesia yang lebih baik.

Mewujudkan GOOD dalam arti tidak jahat dan GOOD dalam arti achievement (pencapaian).

Jadi jangan hanya jadi orang kreatif ya, jadilah orang baik. Yang paling top: jadilah orang baik yang kreatif. Anda akan dicari oleh kesempatan, rejeki, kekuasaan, jika memenuhi kriteria ini. Serius, saya garansi.

So BE GREAT! Coz good is not enough!

Mari berjuang bersama. Salam :)

Image from : 
Wahyu Aditya https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijO8aiMTbiztK5EzQxs9Eyexb0ReYjcTFsYK2yznyLe8rGiU1e0xJQRcGEWOwcp-RX_mdqViV1DxAw3jxitHFiYf66Qnz39-sRIXukQG-uESW1_QJS7JtFSqL9c3dlukrjCf1UjZij4Pc/
Yoris Sebastian http://d.yimg.com/gg/u/faf1c3fad48736b1928f37d0af4a092045ef811e.jpeg
Do Good http://www.selectism.com/news/wp-content/uploads/2009/12/dogooddesign-front.jpg

2011/03/30

Menggali Potensi Kreatif di Luar Radar

Kita sungguh beruntung bisa hidup di satu masa dimana kreativitas telah diapresiasi dengan tingkat yang luar biasa positif dibanding masa-masa sebelumnya.

Saya masih ingat dengan jelas sekitar sepuluh tahun lalu saat memulai sebuah kantor desain grafis kecil, seorang calon klien protes dengan keras,”Mas, dimana-mana nggak ada yang yang namanya biaya desain. Itu kan gratis jika saya mencetak di tempat situ to? Yang bener aja, desain grafis kok harus dibayar!”

Juga seorang pemilik percetakan yang dengan ‘cerdas’nya berkata,”Biro desain grafis itu hanya broker percetakan. Lebih baik langsung ke percetakan saja, pasti lebih murah. Nanti desainnya kita bikinkan gratis!”

Waktu pun berlalu, dan hari ini biaya selembar desain brosur A4 dua muka bisa mencapai jutaan rupiah. Desain logo bahkan puluhan milyar rupiah. Apresiasi, penghargaan dan kepercayaan masyarakat atas profesi dan industri desain grafis terus meningkat bersamaan dengan gencarnya upaya mengedukasi khalayak tentang ide, kreativitas, desain, hal-hal yang secara bawaan sering disebut intangible.

Pada awalnya, pusat desain grafis adalah Jakarta, tidak perlu dipungkiri. Karena sebagai ibukota, infrastrukturnya paling siap untuk ditumbuhi benih ide dan bisnis desain grafis. Sistem komunikasi (telepon, internet) yang maju, lokasi yang menyatu dengan pusat bisnis dan pemerintahan, klien yang sudah punya budget rutin untuk mengorder, SDM kreatif yang mengumpul bagai laron menerkam cahaya. Semuanya  tersedia, tinggal dimainkan.

Tapi hari ini, situasi seperti di atas segera akan berubah dengan drastis bahkan dramatis. Bagaimana tidak? Dengan kemajuan teknologi internet yang menjangkau ujung dunia (baca: ke pelosok-pelosok desa), orang-orang kreatif kini tak perlu bersusah payah memindahkan dirinya ke Jakarta untuk berkarya dan/atau membangun bisnis desain grafis.

Apalagi dalam bisnis desain grafis dan bisnis ide lainnya tak memerlukan biaya angkut yang mahal (seperti bisnis berbasis produk), desain yang dikerjakan dengan komputer begitu selesai tinggal di-sent via email: beres dah. Diterima real time oleh klien di manapun berada. Proses pembayaran pun serupa. Hari ini tidak aneh jika ada cerita hubungan bisnis yang sukses antara klien dan biro desain grafis selama lima tahun lebih tapi tak pernah ketemu muka, tak pernah kopi darat. Semua transaksi dan pengerjaan selesai di depan komputer.

Potensi Kreatif di Luar Radar

Saya seringkali merasa tidak  enak hati  saat dianggap sebagai orang ‘daerah’ ketika menghadiri sebuah pertemuan di Jakarta. Saya merasa Jogja (tempat saya berdomisili) sama dan egaliter dengan Jakarta, bahkan dengan London, Washington, sama juga dengan Sleman, Brosot, Trenggalek, Sumenep.  Paham yang menunjukkan ini pusat itu daerah tidak mendidik kita semua untuk bersikap egaliter, yang merasa berasal dari ‘daerah’ akan cenderung minder dan menganggap yang dari pusat selalu lebih baik. Ini harus segera dibenahi.

Padahal dari wilayah-wilayah di luar radar inilah tersimpan potensi kreatif yang luar biasa dahsyatnya, persis seekor singa perkasa yang sedang tertidur. Sekali kita bisa membangunkannya, dunia desain grafis Indonesia akan mendapatkan manfaat terbesarnya.

Berikut saya akan bahas beberapa hal menyangkut peluang dan tantangan wilayah di luar Jakarta dalam pengembangan industri desain grafis.

Aspek terpenting adalah nilai budaya lokal sebagai potensi luar biasa untuk dikembangkan, dengan keunikan dan kekuatan filosofi-nya yang tak dimiliki oleh kota-kota metropolis yang cenderung meng-global, tak punya lagi pijakan budaya yang kuat selain mengikuti arus besar modernisme. Nilai lokal bisa menjadi oase di tengah kekeringan makna budaya modern, nilai lokal menjadi sumber inspirasi penciptaan karya desain grafis yang kuat maknanya dan tak sekedar keindahan visualnya semata.

Budaya yang bersahabat masih belum banyak tercemari oleh budaya egoisme dan mau menang sendiri menjadi pendukung kuat bagi tumbuhnya komunitas-komunitas kreatif yang terbentuk karena kebutuhan yang sama yang tidak semata-mata berwujud bisnis atau uang. Komunitas seperti ini subur menghiasi Bandung, Jogja, Surabaya juga Bali. Juga titik-titik pertemuan informal di warung, tempat ngopi, lapangan yang bisa didatangi siapapun dan kapanpun untuk berbagi, berdiskusi tersedia dalam jumlah yang cukup dan mudah diakses.

Biaya hidup dan biaya berkarya yang lebih murah membuka peluang untuk menghasilkan suatu sistem bisnis yang unggul creative output-nya dengan harga yang lebih kompetitif. Sekaligus ketersediaan SDM kreatif dari sekolah-sekolah desain grafis yang kini tumbuh makin banyak.

Apalgi perkembangan infrastruktur IT yang telah bergerak dari sekedar komputer rumahan terhubung internet, menjadi laptop nirkabel bahkan gadget seperti handphone, blackberry dan iphone membuat kita bisa berkantor dan mengkreasikan ide di mana saja.  Internet yang menghapus jarak juga membuka pintu-pintu peluang yang luar biasa banyaknya: kita bisa berjualan, bisa memajang karya (pameran), bisa belajar dari tokoh terbaik di dunia, tanpa harus kemana-mana. Apalagi dengan makin menjamurnya situs jejaring (baca: facebook) kita bisa terhubung langsung, sms-an, comment di wall dengan para pimpinan perusahaan, tokoh desain grafis bahkan presiden di ujung jari kita.

Tapi secanggih apapun internet, selengkap apapun informasi di dalamnya, internet takkan pernah bisa menentukan apa cita-cita hidup kita. Apa visi kita ke depan. Tanpa cita-cita yang jelas, sekarang yang terjadi memang akses internet makin meningkat tapi content yang dicari bukan yang membuat kita makin cerdas makin pintar makin bijak, sebagian besar semata-mata hiburan dan pengisi waktu luang semata tanpa nilai tambah yang berarti.

Mengapa Ide-ide Lokal Tidak Berkembang?

Kembali ke bahasan tentang pengembangan ide lokal, jika kita mau bercermin tampaklah bahwa hidup kita telah dikendalikan oleh gengsi, dalam segala bentuknya. Termasuk persetujuan implisit kita tentang kasta-kasta: ini agency Jakarta, itu agency daerah. Perusahaan multinasional, perusahaan nasional, perusahaan lokal. Mentalitas bangsa terjajah telah membuat kita sulit bersikap egaliter, pilihannya hanya arogan (buat yang merasa kelasnya lebih tinggi) atau minder (buat yang tidak percaya diri).

Celakanya, dalam hal pengolahan ide kreatifpun kasusnya gak jauh beda. Dikit-dikit menjurusnya ke stereotip: kalo ide yang global itu begini, yang lokal itu begitu. Kita sendiri yang menyimpan ketakutan dianggap melanggar adat jika tidak seperti kebanyakan orang. Kita terbiasa bersikap inferior, sadar atau tidak sadar.

Memahami kultur yang akan kita angkat menjadi sebuah tema dalam desain grafis adalah hal mutlak yang harus kita kuasai. Tanpa pemahaman yang mendalam, maka proses untuk meng-akulturasikannya dengan aspek global tidak saja bisa mengakibatkan salah persepsi tapi bahkan bisa menjadi bumerang akibat penerimaan negatif target audiens.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membawa muatan lokal yang begitu unik, menarik agar bisa diterima oleh audiens yang bahkan tidak mengerti secara jelas kultur budaya yang diangkatnya dalam sebuah karya desain grafis.

Karena tidak semua kultur lokal bisa diangkat menjadi bahasa global, ada kemungkinan kultur di suatu daerah bisa bertentangan dengan daerah lain. Contoh kecil: ‘kates’ dalam bahasa Jawa berarti ‘pepaya’, tapi dalam bahasa Sunda berarti ‘pisang’.

Bahkan, yang dianggap baik di suatu komunitas, bisa dianggap sangat buruk di komunitas yang lain. Ketelanjangan di Papua dianggap biasa, tapi jangan coba diterapkan di Aceh, misalnya. Pemahaman atas dua hal ini akan banyak membantu tercapainya proses transformasi pesan yang benar-benar pas pada audiensnya, sehingga tercipta ‘desain grafis plus’, yang pengaruhnya melebar melewati batas-batas lokalitasnya sendiri.

Creativepreneur Sebagai Jalan Keluar

Memunculkan kemandirian saya pikir menjadi fokus penting untuk mulai memberdayakan akademi dan industri desain grafis. Tanpa kemandirian, takkan tumbuh bunga kreativitas yang bermekaran dari seluruh pelosok negeri. Kemajuan takkan pernah dicapai hanya dengan menunggu, berharap pihak lain (pemerintah, kampus, industri) akan datang memberi bantuan untuk menyelesaikan persoalan.

No way! Tidak ada makan siang gratis. Upaya memperkenalkan creativepreneur sebagai enterpreneur (kewirausahaan) yang berbasis kreatif perlu terus dilakukan. Sosialisasi, seminar, workshop, penerbitan buku Success Story, Creative Competition harus terus menerus dilakukan dengan kualitas dan kuantitas yang makin progresif.

Budaya mayoritas masyarakat kita yang memilih hidup aman dengan menjadi pegawai (negeri/swasta) memang akan mempengaruhi proses ini. Inilah tantangannya, segala sesuatu ya memang akan diuji dulu di awal. Berbekal kreativitas, sesungguhnya tak pernah ada yang tak mungkin selama kita yakin dengan jalan yang kita tempuh.

Sejak awal kuliah, bahkan awal sekolah, anak didik diupayakan untuk dibimbing ke arah kemandirian. Di-encourage untuk bikin bisnis sendiri di usia belasan, ditemani dengan kasih sayang saat mengalami kegagalan, dihajar mentalnya agar tidak mudah cengeng dan dibenturkan realitas bisnis yang keras agar kuat otot dan insting bisnisnya. Alumnus perguruan tinggi harus di-upgrade dari sekedar ready to work (menjadi pekerja profesional) menjadi ready to create (menjadi wirausaha).

Manfaatkan Keajaiban Creative Giving

Satu hal lagi yang saya ingin usulkan untuk lebih mengembangkan dunia desain grafis adalah perlunya tokoh-tokoh, orang-orang pintar, praktisi industri kreatif, young entrepeneurs, para mahasiswa desain grafis atau bahkan siapapun untuk mulai berbagi dengan cara-cara kreatif.

Jika kita hanya menunggu pemerintah atau institusi bisnis menyiapkan infrastruktur untuk memajukan dan meningkatkan kecerdasan serta kreativitas anak didik dan para pekerja kreatif kita, waktunya akan terlalu lama dan belum tentu terlaksana. Terlalu banyak barrier, birokrasi dan tetek bengek aturan yang membuat upaya tersebut tidak bisa cepat terimplementasi.

Jadi memaksimalkan kekuatan ‘creative giving’ adalah cara paling praktis yang kita bisa lakukan. Tak usah dengan hal-hal yang besar, kita mulai dari hal-hal kecil dulu. Misalnya: jika kita punya pengetahuan tentang sesuatu hal, segeralah di-share kepada lebih banyak orang lewat blog, milis, facebook, website dan media-media komunikasi gratisan lainnya. Ada yang jago komunikasi, tulislah tentang pengetahuan dan pengalaman komunikasi Anda di dunia bisnis, gratiskan ilmu Anda pada yang membutuhkan, Anda akan jadi makin ahli karena bertambahnya ilmu bukannya makin berkurang.

Mental berkelimpahan, itulah yang kita perlukan. Bukan mental serba kekurangan sehingga saat punya ilmu tertentu kita takut mengajarkannya pada orang lain, takut suatu hari nanti jadi kompetitor, takut suatu hari  nanti ilmunya habis dan kompetitornya lebih pintar dari dia.

Apapun yang kita punya dan sekiranya bermanfaat buat yang lain, segeralah bagikan. Jangan ditunda. Semakin banyak yang bergabung dalam gerakan ini, maka kesenjangan antara mahasiswa di pelosok dan pusat kota akan segera terjembatani. Lanjutkan terus proses memberi, manfaat terbesarnya akan kembali pada yang melakukan bukan hanya pada yang menerima pemberian itu. Dan bayaran Tuhan atas kebaikan yang kita lakukan selalu akan lebih banyak berlipat-lipat dan seringkali dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Kita Mulai Saja dan Benahi Sambil Jalan

Apa yang saya sampaikan ini hanyalah upaya kecil saja. Hanya langkah awal untuk kita semua agar mau dan mampu melihat potensi luar biasa yang tersebar di seluruh muka bumi Indonesia ini, tidak saja dari alamnya yang kaya raya tapi justru dari kreativitas masyarakatnya yang luar biasa meskipun belum banyak tergali secara maksimal.

Meninggalkan kebiasaan lama memang tidak mudah. Selalu ada keraguan ketika memutuskan untuk berubah: keluar dari zona kenyamanan yang biasa kita nikmati setiap hari dan menuju wilayah baru yang asing dan tak terpetakan. Jika keraguan atau ketakutan mulai menyerang, maka tersenyumlah.

Masa depan dunia desain grafis kita akan ditentukan oleh sekelompok minoritas yang ide-ide besarnya semula dianggap asing, tidak wajar bahkan gila. Bukan oleh kerumunan banyak orang, bukan oleh sebuah tim yang lengkap dan solid. Di kisah sukses manapun, cerita ini berulang.
Jadi jangan menunggu untuk memulai. Seorang bijak pernah berkata, resiko terbesar dalam hidup adalah tidak pernah berani mengambil resiko. Dan keteguhan atas sebuah visi di masa depan – kata Goethe – menyimpan kekuatan, kejeniusan dan keajaibannya sendiri.

Saya percaya bahwa ide-ide lokal punya potensi kekuatan luar biasa, justru karena kelokalannya. Ide kreatif yang berangkat dari lokalitas itu jumlahnya jutaan, dan jika diolah maksimal akan menjelma jadi masterpiece berkelas internasional. Keyakinan saya mengatakan industri desain grafis dan industri yang berbasis kreativitas inilah yang akan menjadi kiblat industri yang lain, untuk membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi sedikit lebih baik. Pintu untuk menuju ke sana telah terbuka lebar, kita hanya perlu percaya dan merapikan barisan.

Jarak ribuan kilometer akan bisa ditempuh hanya dengan satu langkah, yang terus berulang. Mari kita melangkah sekarang.

Sumber image:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMgg4Du9-WTvxyfT8pPrj_a7_A_2cLCqsvyzch68RYLIN-KexA901tZFEsBaBVW4QrDk3TbU4cm4GiceuevhvOmOdw2XcYBCnzX61gbjeH1UewBCTlhnnWs5ONzG_zUuxfTaIKANw5MNU/s400/1337+-+photo.jpg
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmBFNdP5QtFLHluXPV_dlT1kIgz0wj19LgjL6fZoRHs87h5MTDCNIugXXM5XydaHeBxkk7HLdUeYjPuZnBsPm979u7N3YairPTMqQleKw47fBj8bmOwiY41kvnYy8D3JrGfAcHF8-HzRJe/s640/wedangan+002.jpg
Karya Ayip Budiman http://grafisosial.files.wordpress.com/2008/08/ina-ri-mendung-gagah.jpg
http://dgi-indonesia.com/wp-content/uploads/2010/02/aji-6-1-10.jpg

Tulisan saya ini juga dimuat di sini

2011/02/17

TDA di Wedangan Special ADGI Jogja

Rabu, 16 Februari 2011 pukul 19.30 WIB, Wedangan creative sharing creative giving special #5 terlaksana dengan suasana yang agak berbeda dari sebelumnya dikarenakan perlengkapan tambahan seperti kamera video dan perangkat live streaming yang akan merekam momentum bersejarah tersebut.

Dalam ruangan yang telah dipenuhi oleh sekitar 80an kawan-kawan yang hadir, Iqbal Rekarupa, Ketua ADGI Yogyakarta Chapter mempresentasikan apa dan mengapa Wedangan creative sharing creative giving itu ada. Selanjutnya acara tersebut dipandu oleh moderator M. Arief Budiman (program director ADGI pusat) dan inti acarapun dimulai.


Badroni Yuzirman (pendiri dan dewan penasehat TDA pusat, owner Manet Vision dan Actual Basic) memaparkan kisahnya. Berawal dari tiga toko busana muslimnya di Tanah Abang yang diterpa masalah bertubi-tubi, Mas Roni menyikapinya dengan kembali pada titik nol secara ikhlas. Di sanalah akhirnya Mas Roni menemukan solusi dari pola pikir kreatif yaitu menjadikan masalah yang hadir sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang. Tahun 2004, jualan via online adalah solusi yang dipilih untuk menjadikan waktu yang terbuang di perjalanan menuju outlet menjadi 0 menit, karena dapat memulai bekerja dari rumah. Di sela waktunya, ia berusaha memenuhi tugas mencari nafkah, juga mengembangkan bakat menulis di blog untuk menularkan pengalaman, dan dari situlah gagasan membentuk komunitas TDA muncul. 

Niat yang baik tersebut direspon positif oleh banyak kalangan, sehingga dari waktu yang singkat TDA mampu mengumpulkan banyak orang untuk menjadi member (jumlahnya sekitar 15.000 member) dan mau berbagi satu sama lain.


Try Atmojo (Direktur dan Business Development  Raxzel Creative dan Direktur TDA) menjelaskan, bahwa dalam dunia apapun khususnya bisnis, networking atau jaringan mutlak dibutuhkan. Networking bisa dicari dimanapun, salah satunya adalah di komunitas. TDA adalah salah satu komunitas yang telah dirasakan manfaatnya, sebagai ruang belajar, berbagi bahkan pasar dai produk yang dikembangkan. Dalam bisnis distro and clothing-nya melalui TDA, Mas Try menemukan solusi bisnis online dan mendapat manfaat berlipat.

Saptuari Sugiharto, pemilik Kedai Digital yang telah memiliki 52 gerai di 36 kota serta meraih Indonesia Young Entrepreneur Franchise & Business Opportunity Award 2010. Mas Saptu menyampaikan bahwa dalam berbisnis sangat penting untuk menjaga kredibilitas agar kepercayaan yang telah diberikan konsumen dapat terjaga, sehingga bisnis tersebut mampu bersaing saat banyak pihak yang mulai meniru yang kita lakukan dengan menjual produk/jasa serupa. Untuk terus maju, kita harus terus berinovasi, lebih cepat daripada kemampuan follower menjiplak ide kita.


Satya Brahmantya, Product Designer PT. Lunar Cipta Kreasi Yogyakarta yang fokus pada bisnis export furniture dengan konsep green dan sustaineble design menyampaikan bahwa, setiap komitmen yang dilakukan dengan konsisten maka suatu saat akan memetik hasilnya secara maksimal. Bram mengaku tidak memiliki kemampuan matang di bidang enterpreneur, tapi ia yakin mampu menghasilkan karya yang berkonsep dan artistik. Kesungguhannya ini membuahkan hasil dimana owner akhirnya merekrutnya sebagai salah satu pemegang saham.

Stay hungry, stay foolish” kutipan dari Steve Jobs pun disampaikan oleh moderator sebagai penanda usainya Wedangan Special #5. Sampai jumpa lagi dengan Wedangan berikutnya :)

*Tulisan oleh: Iqbal Rekarupa, Chairman ADGI Yogyakarta Chapter, aslinya berasal dari sini

2011/01/13

Creative Sharing di Wedangan Special

 
Saya akan sharing tentang 'Makin Kreatif, Makin Kaya, Makin Berguna' di acara Wedangan Special di Pameran Poster World Silent Day, Minggu 16 Januari 2010, Jam 19.00, di Bentara Budaya Jogja, silakan yang mau datang, GRATIS :)

2010/11/01

Yuk Join Mawas ADGI

Adgi sangat berduka dan prihatin terhadap bencana yang tengah menimpa Indonesia. Longsor di Wasior, banjir di Jakarta, Tsunami di Mentawai dan bencana di Merapi seakan tengah menguji kita semua. Selaku organisasi asosiasi desainer grafis di Indonesia, Adgi mengajak seluruh komponen bangsa dengan segala kemampuan dan upaya untuk membantu saudara kita yang terkena bencana.

Adgi juga mengajak para desainer grafis tanggap dan peduli bencana ini. Menyoal desainer tanggap bencana, Adgi melakukan koordinasi cepat turut membantu meringankan beban masyarakat yang terkena bencana dengan mengajak publik memberikan bantuan baik berupa finansial maupun kebutuhan lainnya.

Adgi menterjemahkan ajakan ini dalam konsep komunikasi untuk “Mawas”
Dimana dalam ajakan tersebut yang paling penting adalah:
  1. Mawas terhadap bencana bagi siapapun kita semua, dari bencana apapun dan di daerah manapun karena waspada adalah melakukan upaya preventif.
  2. Mawas terhadap mereka yang memrlukan pertolongan yang diakibatkan bencana.
Gerakan moral Adgi ini terbuka direspon oleh anggota Adgi dimanapun. Untuk itu merespon dan menampung gagasan lain sebagai bentuk program tetap dimungkinkan untuk ditambahkan dalam program ini. Program baru yang relevan dengan dunia kreatifitas khususnya profesi desain grafis tentu saja sangat diutamakan.

Sumbangan bisa disalurkan lewat Rekening ADGI Pusat an. Tri Anugrah 6310268303 BCA Cab. Pegambiran

Silakan bantu menyebarluaskan ajakan ini di kalangan internal organisasi, jejaring organisasi dan kalangan umum. Yang menjadi koordinator program ini adalah mas M. Arief Budiman, Direktur program Adgi 2010-2012, untuk itu silakan berkoordinasi bagi kelangsungan program yang baik. Semoga bentuk kepedulian ini merupakan bagian dari tanggung jawab profesi desainer grafis yang sangat penting bagi pembangunan masyarakat.

Untuk keterangan dapat menghubungi:
M. Arief Budiman
Direktur Program Adgi
HP: 081578700488
Email: arief_009@yahoo.com

2010/10/25

Pemilu Raya Adgi Jogja 2010

Buat all member Adgi Jogja: Ikuti Pemilu Raya Ketua Adgi Jogja 2010-2012, dimohon hadir di Sekretariat, Dreamlab Building, Jl. Nogotirto 77B Gamping Sleman, Selasa, 26 Oktober 2010, 15.30-17.00 WIB. Untuk konfirmasi kehadiran dan info lebih lanjut silakan hubungi: Iqbal Rekarupa 08179417881

2010/07/19

It’s Time for Real Action!


Dari Jogja Plawang Merekonstruksi  Desain Grafis Indonesia

Selama dua hari itu, para pendekar desain grafis dari pusat dan empat chapter (Jakarta, Jogja, Surabaya dan Bali) berkumpul, berdialog, berdiskusi, berdebat, tukar menukar jurus untuk men-sinergi-kan kesaktian masing-masing bagi kemajuan industri desain grafis di Indonesia, negeri yang subur tapi kurang kreatif ini. Rasa syukur atas berlimpahnya tanah surga yang menyulap tongkat dan batu jadi tanaman ini juga menumbuhkan keprihatinan masih lemahnya kemampuan dan kemauan, passion anak bangsa untuk memanfaatkan harta karun terbesarnya: kreativitas di otak kita.


Maka Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (Adgi) dikomandani Ketua Terpilih Arief ‘Ayip Budiman’ mulai membedah persoalan-persoalan mendasar menyangkut desainer grafis, industrinya, korelasinya dengan masyarakat dan pemerintah serta meneropong potensi perkembangannya di masa datang. Antusiasme dari peserta Adgi Summit berpadu dengan keaslian alam yang menyelubungi bumi Joglo Plawang meletupkan ide-ide dahsyat sepanjang pertemuan.

Kebersamaan itulah yang mengemuka dalam diskusi panas selama 2 hari itu, membawa spirit Together Empowering Potentials, seluruh peserta meyakini bahwa dengan kebersamaan yang saling mengutuhkan dan dinamis dari semua elemen dan stake holders-nya, Adgi yakin mampu membangunkan semua potensi kreatif yang selama ini masih lelap tertidur.

Sampai di ujung acara, saat seluruh peserta mulai mengepak perlengkapannya, hakikatnya kita semua sedang berangkat ke medan uji yang sesungguhnya: realitas keras dunia dimana Adgi berada, bergesekan, bertarung. 


Pilihan tegas ini akan membawa konsekuensi logis bagi Adgi untuk bekerja makin keras membangun asosiasi profesinya menjadi mandiri, menghidupi kegiatannya sendiri dengan program-program yang  mentransformasikan ide kreatif menjadi bisnis. Diharapkan program-program yang strategis, konseptual dan kontekstual inilah yang membuat Adgi makin kuat secara fondasi finansial dan bargaining power untuk lebih keras mendorong majunya industri kreatif negeri ini. 

Dari Joglo Plawang inilah, Adgi Summit 2010 ini akan menjadi momentum terimplementasikannya Program Lokomotif Adgi 2010-2012 dalam wujud yang nyata, yang progresif, yang bukan sekedar wacana. 

Mari berjuang bersama! It’s time for real action!

Catatan Adgi Summit 2010 | Joglo Plawang Jogja, 26-27 Juni  2010

Untuk foto-foto lebih lengkap bisa dilihat di Situs DGI

M. Arief  Budiman
Program Director Adgi

2010/06/06

PERF9CT10NIST Petakumpet Online Exhibition

Bukan karena semua karya yang ditampilkan di pameran online ini perfect maka judul pamerannya jadi PERF9CT10NIST. Bukan juga karena tanpa kekurangan, tanpa cela, tanpa kritikan. Apa yang hadir dalam pameran ini semata-mata lahir dari hasrat yang terus menerus untuk mengejar kesempurnaan. Itulah PERF9CT10NIST.

Dalam ketidaksempurnaan itulah justru menyala semangat untuk makin dekat dan makin dekat pada yang sempurna. Semacam utopi yang diperjuangkan tanpa henti, bagai Icarus yang terbang menuju matahari.

Dari semua karya yang ditampilkan, separuhnya adalah karya Petakumpet yang dikerjakan secara teamwork, separuhnya lagi adalah upaya creative development dari masing-masing personil untuk mengembangkan sense of creative-nya, sense of art-nya. Sinergi antara individual achievements dan team achievements inilah yang coba dikolaborasikan menjadi simfoni yang semoga bisa meninggalkan makna, tak cuma visual semata.

Selamat menikmati PERF9CT10NIST. Karena tingkatan baik saja – bagi kami – tak pernah cukup. Good is not enough.

Mulai 7 Juni 2010, DGI bekerjasama dengan Desainer-desainer Petakumpet mengadakan pameran karya-karya team dan personal secara online. Silakan kunjungi Petakumpet online exhibition PERF9ECT10NIST

2010/03/23

Desain Grafis Sebagai Mindset

(01)

Waktu berlalu begitu cepatnya, sudah lebih dari 20 tahun sejak saya pertama mengenal desain grafis sebagai hobi lalu profesi lalu mindset (pola pikir). Kok mindset? Sebentar, saya akan jelasin nanti tentang mindset ini. Saat saya tengok sekumpulan folder di server kantor, sudah lebih dari 8500 creative artwork yang telah dihasilkan selama kurun waktu 10 tahun (1999-2010). Sebuah perjalanan panjang yang tak terasa lelahnya karena saya dan teman-teman di Petakumpet memulainya dari sebuah hobi.
 
Desain Grafis Sebagai Hobi

Sejak kelas 4 SD (Sekolah Dasar) saya telah membantu membuatkan ayah saya klise film sablon yang bergambar desain lambang SD untuk kebutuhan badge murid-murid se-kecamatan. Menggunakan pena yang dicelup tinta cina dan digambar dengan ekstra hati-hati di atas kertas kalkir bertumpuk-tumpuk (tergantung berapa jenis warnanya). Sebuah kebanggaan tak terkira saat saya melihat teman satu sekolah memakai badge yang saya bikin klise filmnya. “Kuwi aku lho sing gambar” (itu saya lho yang gambar), sering kali tanpa sadar saya menggumam sambil tersenyum senang. Saat itu saya tak berfikir berapa keuntungan ayah saya atas sablon yang ribuan itu, hadiah satu piring nasi goreng pun tak habis saya makan. Saya senang, itu sudah melampaui bayaran apapun yang saya bisa terima dari pekerjaan itu. Kesenangan menggambar dan merancang sesuatu, jadilah itu hobi sejak kanak-kanak saya.

Desain Grafis Sebagai Profesi

(02)

Sebagai profesi, desain grafis telah menjadi bagian dari hidup saya sejak awal bersama teman-teman membuat sebuah komunitas bernama Petakumpet, 1995. Jadi Petakumpet itu awalnya memang menggeluti desain grafis, sementara dunia advertising dengan segala kompleksitasnya barulah diakrabi beberapa tahun belakangan. Dari sekedar hobi yang gak pake mikir ruwet-ruwet alias fun belaka, desain grafis sebagai profesi menghadirkan tantangan tersendiri: tak sekedar bagaimana mendesain, membuat lay out, memilih tipografi yang tepat, tapi juga bagaimana memahami klien, mengorganisir tim, menggauli mesin cetak, memelototi teknik finishing atau memilih kertas yang paling pas.

Uang pun mulai ambil perannya, ketika desain grafis secara sadar telah dipilih menjadi profesi. Sebutan desainer grafis alias graphic designer di kartu nama adalah kebanggaan saat itu, meskipun buat orang awam seringkali menimbulkan pertanyaan susulan: masnya ini kerjaannya bikin apa to? Eh, desainer grafis itu emang pekerjaan to?

Desain Grafis Sebagai Mindset

(03)

Lalu terbukalah gerbang internet di penghujung abad 20 dan mulailah terjadi pergeseran-pergeseran hampir dalam setiap segi kehidupan kita. Apa yang kemarin hanya berupa khayalan dan impian kini menjelma kenyataan. Kita tak harus tersandera pesawat telepon dan kabelnya, kita tak harus menunggui PC dan CPU berkabel di atas meja, kita tak perlu duduk tertib di depan televisi untuk menikmati siaran langsung sepak bola dunia, itu semua kadaluarsa!

Lihatlah betapa ajaibnya hidup kita hari ini: semua yang diam di satu tempat di masa itu sekarang bisa berjalan-jalan mengikuti kemana kaki kita melangkah. Kita memasuki jaman mobile (bisnis, teknologi, komunikasi, kreativitas), dengan sikap mental yang tergagap-gagap.

Dulu saat kuliah masih semester 1, jelas betul dosen saya cerita mengenai perbedaan desain grafis dan desain komunikasi visual (deskomvis): bahwa desain grafis selalu berhubungan dengan graphic alias grafika alias cetak. Untuk melengkapinya bahkan saya pun belajar kuliah Metode Reproduksi Grafika. Saat itu profesi desainer grafis identik dengan bikin desain di depan komputer lalu bergelut dengan proses produksi di percetakan. Harus paham di luar kepala yang namanya CMYK, DPI, LPI, pass cross, hot print, emboss dan semacamnya.

Saatnya Melampaui Medium Konvensional

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, gelombang pasang internet telah menyapu banyak hal dalam kehidupan kita, melipat waktu dan ruang, dunia pun menjadi datar (flat). Bidang desain grafis pun tak luput dari akibat serbuan itu.

Pertanyaannya: masih relevankah jika hari ini (pukul 20.04, 9 Maret 2010) kata desain disandingkan dengan grafis dan dimaknai sebagai satu pengertian? Ini pertanyaan reflektif yang berbahaya karena jawaban atasnya bisa mengguncang masa depan desain grafis Indonesia, juga sejarah hidup saya sendiri yang bergelut dengan desain grafis sejak kanak-kanak.

Tapi sebagai bahan diskusi kita semua, baiklah saya sampaikan makna pergeseran itu (sekali lagi menurut saya): para stake holder industri desain grafis (desainer grafis, pengusaha, akademisi, mahasiswa, asosiasi terkait) harus mulai berfikir serius tentang kemungkinan desain grafis untuk melampaui medium-nya (beyond graphic), jenis bidang keilmuannya atau profesi awalnya. Desain grafis harus me-metamorfosa-kan dirinya menjadi sebuah mindset alias pola pikir.

Nah, sudah waktunya kita kembali ke mindset lagi!

Mindset-lah yang menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, tantangan dan peluang yang dihadirkan setiap jaman sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan komitmen penuh untuk mewujudkan tujuan tertentu yang kita tetapkan.

Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita lakukan. Mindset ini tak sekedar hobi atau profesi yang bisa jadi selingan atau aksesoris semata. Mindset ini manunggal (integral) dalam diri kita dan mempengaruhi karakter, kebiasaan dan kreativitas kita. Sebuah transformasi pola pikir harus terjadi, jika kita ingin melihat sesuatu dengan sudut pandang yang benar-benar beda untuk menangkap peluang-peluang baru yang sebelumnya tak ada.
Lihatlah contoh-contoh kasusnya: wedding invitation kini makin jarang dicetak di atas kertas eksklusif karena telah menjelma online dengan website khusus atau bahkan jadi content wall di facebook dan email (grafisnya dimana?), kop surat dan stasionery set telah menjelma template email dan tak membutuhkan kertas lagi (grafisnya dimana?), surat kabar dan majalah dimana desain grafis mewarnai tiap halamannya makin berkurang oplaag-nya digeser oleh media online, iklan-iklan televisi bisa menggunakan animasi yang based on typography, hadirnya ebook reader macam Kindle atau Ipad pun tak bisa dicegah lagi akan menggantikan buku konvensional, kertas-kertas akan berkurang penggunaannya dan mesin-mesin cetak kelelahan mengejar duplikasi tak terbatas (copy, cut, paste, share) dunia online.

Mungkin saya terlalu terburu-terburu menyampaikan kemungkinan pergeseran yang revolusioner ini, hal-hal dramatis di atas bisa jadi belum akan terwujud 5-10 tahun lagi. Tapi siapapun tahu bahwa pola percepatan penyebaran informasi ini bertambah kecepatannya mengikuti deret hitung bukan deret ukur. Bahkan kolom status di Facebook yang diketik 45 detik yang lalu bisa disebut kiriman lawas alias lama. 45 detik itu sudah masuk terminology lama di abad internet sekarang, bandingkan makna kata ‘lama’ saat 5 tahun lalu. Waktu dan ruang sudah dilipat.

Jadi yang paling logis untuk mereka yang telah belajar desain grafis sejak kecil, sejak kuliah atau saat mulai jadi profesional: pemahaman terhadap knowledge-nya, portfolio karya-karyanya, jam terbang sebagai profesional harus segera dikonversikan ke dalam sebuah mindset yang baru. Tak sekedar jenis medium-nya semata.

Mindset Membuka Kemungkinan Baru

Dengan menjadikannya mindset, berarti kita akan menggunakan ilmu desain grafis itu secara lebih membebaskan, bukan terkungkung definisi yang kaku dan sempit.

Desain grafis akan mendapatkan peluang terbesarnya justru di abad dimana barrier atas medium benda (hard copy, offline) telah menjadi sangat minimal karena menjelma virtual dan online. Sehingga yang tertinggal adalah core competency kita: kreativitas tanpa embel-embel dan topeng, baik yang berupa medium, teknologi ataupun biaya.

Ide yang merupakan hasil olah kreativitas itulah yang akan tumbuh menjadi fondasi mindset baru bagi orang-orang yang – dulunya – bergelut di dunia desain grafis konvensional. Pemahaman atas mindset itu membuat kita bisa berprofesi apa saja untuk memaksimalkan fungsi desain grafis, tak harus desainer grafis. Kita pun bebas menjelajah medium apa saja untuk menghasilkan creative output, tak harus print on paper, offset printing, sablon, air brush dan semacamnya. Kita pun berpeluang membongkar sekat-sekat pergaulan desain grafis dengan ilmu-ilmu lainnya (kedokteran, sastra, teknik, tari, teater, pedalangan, animasi, game developer, pertanian, dll.). Proses interaksi itu akan menimbulkan gesekan, kebaruan yang memperkaya dan sinergi satu sama lain.

Saat kita bisa mulai meng-inject mindset baru ini sebagai landasan pola pikir pengembangan ide kreatif, desain grafis akan dilahirkan kembali oleh ibunya yang lama (dunia offline) menuju dunia baru yang bukan saja medium-nya online. Pola pikir kita pun seharusnya online. Selalu berada di atas (on) garis (line) pencapaian kita dalam wujud dunia kemarin, selalu mengeksplorasi wilayah baru, meninggalkan pola pikir lama yang terjajah oleh medium, leaving the comfort zone as far as we can.

(04)

Itulah mindset yang saya maksudkan: reposisi atas pengertian desain grafis menjadi sesuatu yang menginspirasi kemajuan, bukan yang terseret-seret oleh kereta jaman yang ngebut ke masa depan. Sebuah landasan berfikir kreatif yang membebaskan desain grafis dari kungkungan pemahaman lamanya, untuk membuka ruang-ruang kemungkinan yang belum pernah kita fikirkan sebelumnya.

Saya takkan keberatan untuk kembali jadi kanak-kanak dan memulai segala sesuatunya dari nol lagi, saya hanya perlu yakin dan menikmati prosesnya tanpa harus tahu akhir ceritanya.
Mata saya berbinar-binar mengakhiri tulisan ini. Betapa luar biasa jika ini yang akan terjadi pada masa depan desain grafis Indonesia!

Keterangan image:
(01) Tulisan ini ditujukan utk memperingati 3 Tahun DGI
(02) Komunitas Petakumpet Diskomvis 1994 FSR ISI Yogyakarta
(03) Karya Desain Grafis Stefan Sagmeister dengan medium tubuhnya sendiri
(04) Google men-Desain Grafis HUT Kemerdekaan Indonesia

Artikel aslinya oleh M. Arief Budiman dimuat di sini