This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Creative Giving. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Creative Giving. Tampilkan semua postingan
2012/05/19
2012/03/17
Saya Terlalu Banyak Berbicara
Awalnya, setahun terakhir saya merasa lebih banyak bicara daripada berkarya. Saya memang tetap berkarya. Saya tetap berusaha profesional. Tapi saya merasa output kreatif yang saya hasilkan belum mencapai tahapan hebat. Sekali lagi, slogan itu menghantam saya sendiri: Good is not enough!
Jangan-jangan karena saya mulai terjebak rutinitas. Jangan-jangan karena saya mulai merasa nyaman dengan kondisi keseharian saya sendiri. Jangan-jangan... Karena saya terlalu banyak bicara.
Refleksi saya pada apa yang saya lakukan sepanjang 2011 kemarin menunjukkan ketidakefektifan saya dalam memanfaatkan waktu saya yang memang terbatas ini.
Gawat!
Kesadaran seperti inilah yang tercetus di kepala saya saat mulai memikirkan untuk melakukan perjalanan ini: menjelajahi 40 kota dalam 40 hari untuk berbagi, berdiskusi, bersilaturrahim, bercengkerama membincangkan hal-hal apa saja untuk memajukan negeri ini. Dengan siapapun yang saya temui dalam perjalanan ini.
Pada 2011, bekerja sebagai Managing Director di Petakumpet – perusahaan kreatif yang saya dirikan bersama teman-teman Diskomvis ISI1994 – adalah tanggung jawab utama saya. Di sela-sela kesibukan itu, saya sebisa mungkin mencoba memenuhi undangan dari beberapa pihak untuk sharing, tukar menukar pengalaman, seminar, workshop tentang kreativitas, entrepreneur, creativepreneur, creative giving, hal-hal yang main idea-nya adalah kreatif. Sepanjang 2011 itu, setidaknya saya melakukan presentasi rata-rata 4-6 kali sebulan, sekitar 50an kali setahun, di banyak tempat di negeri ini.
Saya mulai dikenal sebagai pembicara kreatif. Bahkan dianggap motivator (duh!). Bahkan diminta menjadi khotib Jumatan. Menjadi mentor bisnis. Menjadi coach presentasi. Menjadi apapun, yang intinya saya harus berbicara di depan banyak orang. Melihat ke belakang, saat saya SD lalu SMP, dimana saya menderita gagap alias sulit bicara di depan umum: ini adalah keajaiban yang nyata buat saya. Sungguh!
Tapi ketika saya mulai memikirkan dengan tenang: ternyata menjadi pembicara tidak pernah menjadi impian saya yang terbesar. Saya gali lebih dalam lagi – jika Allah mengijinkan – saya lebih ingin dikenal sebagai kreator. Sebagai orang yang menghasilkan karya-karya yang hebat. Sebagai pencipta. Bukan sebagai pembicara. Apalagi motivator.
Berbicara itu – dari pengalaman saya setelah lebih dari 300 kali presentasi – bukanlah hal yang sulit. Selama kita menggeluti dan menjalankan apa yang kita bicarakan, semuanya akan mengalir lancar. Permasalahannya adalah, ternyata hal-hal hebat di luar berbicara itu mulai jarang saya lakukan. Waktu saya tersita untuk mengurusi hal-hal regular di kantor, terbang kesana-kemari bertemu klien atau memenuhi undangan, brainstorm dengan tim kreatif untuk menghasilkan iklan yang mahal tapi agak kompromis, hal-hal seperti itu. Saya merasa kurang syarat untuk hanya membicarakan hal-hal yang sama, award yang itu-itu juga, cerita-cerita tentang kesuksesan masa lalu.
Lalu muncullah pemikiran ekstrem ini: bagaimana jika saya puasa untuk tidak berbicara dulu dengan publik dalam waktu tertentu. Hanya untuk fokus pada minat utama saya: menjadi kreator. Saya kira itu ide menarik. Saya merasa excited.
Tapi saya melihat lagi fenomena yang sedang berlangsung progresif di negeri ini: kreativitas sedang menjadi primadona. Ekonomi kreatif sedang ngebut membangun pondasi pengembangannya, bahkan dengan mendirikan kementerian sendiri. Jika saya menarik diri di titik ini, tiba-tiba saya merasa bersalah.
Selama ini, kalau kita bicara tentang kreativitas, yang paling sering mendapat porsi adalah teman-teman yang berada di kota besar, utamanya di ibukota propinsi. Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, dst. Tapi teman-teman di kota-kota yang size dan aksesnya lebih kecil, jarang mendapatkan porsi untuk bisa mengenal, memahami dan memanfaatkan gelombang baru yang bernama ekonomi kreatif ini. Padahal, di era serba internet seperti sekarang: semua fasilitas online yang menghubungkan ujung jari kita dengan seluruh informasidi dunia sudah banyak tersedia.
Teman-teman di kota-kota kecil itu - termasuk Rembang, kota kelahiran saya - hanya memerlukan api kecil untuk menyalakan passion. Memantapkan keyakinan. Menghidupkan mimpi. Membaca peluang yang berseliweran. Mereka adalah orang-orang cerdas dan pekerja keras yang hanya perlu ditemani, untuk bergerak merangkai masa depan dari tempatnya berpijak. Menjadi sukses dan berakar di tempatnya sendiri, tak berkiblat ke Jakarta, London, New York atau kota-kota besar lainnya. Karena jamannya, telah memungkinkan itu semua terjadi.
SBY dari Pacitan. Boediono dari Blitar. Soekarno dari pinggiran Surabaya. Jokowi dari Solo. Wahyu Aditya dari Malang. KH Mustofa Bisri dari Rembang.
Harus ada yang bergerak untuk menumbuhkan bintang-bintang baru, yang mampu bertahan dari kemilau ibukota. Berjuang habis-habisan untuk sukses di kotanya masing-masing. Agar negeri ini bisa maju serempak, tidak hanya terpusat pergerakannya. Jika pemerintah begitu sibuknya sehingga tak melihat ruang-ruang kosong ini, saya memilih tidak menyalahkan. Saya memilih untuk bergerak. Jika memungkinkan, bekerjasama tentu akan jauh lebih baik.
Jadi, beginilah deal-nya: saya akan melunasi hutang saya untuk semampu saya berkontribusi membangun fondasi mindset - character building kalo kata Bung Karno - dengan berkeliling di 40 kota selama 40 hari berturut-turut untuk melaksanakan Creative Sharing dan Creative Giving.
Mengapa 40 hari?
Entahlah, saya hanya merasa angka 40 itu menyimpan aura spiritual. Dan saya pernah belajar, jika ingin menanamkan sebuah habit (kebiasaan) tertentu, minimal membutuhkan waktu 40 hari sebagai pondasinya. Pengen membiasakan Sholat Tahajud, cobalah merutinkannya dalam 40 hari. Pengen ahli menulis, cobalah menulis setiap hari selama 40 hari. 40 hari adalah pondasi. Semacam syarat untuk sukses setelah melewati jam terbang 10.000 jam ala Malcolm Gladwell di Outliers.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_jDXHO-sQFew32tAl7LdP6Oh4LopXchuD6pk8cN_bd4pr8Niixw9v_uhs5uECxkSAttQgVQBm-53GCQDulSX9dkIX1DmOe_-wJfM_yETU147wBznrREYWfVEjPyMnhqLA8IJzmBSRRjY-/s1600/malcolm_gladwell_outliers-796414.jpg
Jadi setiap hari akan ada 2 kegiatan sekaligus yang saya lakukan di setiap kota: Creative Sharing dengan komunitas kreatif, kampus atau umum dengan EO profesional. Dan setelahnya atau sebelum acara itu – di hari yang sama – melaksanakan acara Creative Giving: berbagi dengan teman-teman di panti asuhan, anak-anak yatim, mereka yang kekurangan. Acaranya bisa berupa penyampaian bantuan, nonton film bareng, seminar gratis, pengajian bersama, apa saja yang sesuai dengan kontekstual permasalahan yang kita temui di kota tersebut. Akan menarik juga jika Creative Giving ini bisa bekerjasama dengan teman-teman di Akademi Berbagi, Tangan Di Atas, Pagi Berbagi, Sedekah Rombongan atau komunitas-komunitas berbasis kebaikan yang lain.
Setelah berembug dengan Mas Iqbal dan teman-teman Rekarupa yang mempunyai idealisme yang sama besarnya untuk bergerak memajukan negeri ini lewat pemberdayaan anak-anak bangsa, disusunlah sebuah rangkaian acara yang bertajuk ‘Berbagi Ide Segar’, 20 Mei – 29 Juni 2012 melewati 40 kota se-Jawa Bali. Acara ini juga melibatkan Koperasi Kreatif Bebarengan yang didirikan oleh teman-teman di Petakumpet yang akan menyiapkan merchandise dan bekerjasama dengan pihak-pihak yang ingin memperkenalkan produk-produk kreatifnya ke 40 kota.
Bagimana dengan kota-kota yang tidak dilewati perjalanan ini, Mas?
Nah, itu juga jadi concern saya. Jika kota Anda tidak dilewati dan jaraknya tidak terlalu jauh, saya sarankan untuk datang. Beberapa kota mungkin bertiket, beberapa mungkin gratis tergantung kerjasama dengan EO lokalnya. Tapi jika tidak memungkinkan juga - misalnya untuk yang di Kalimatan, Sumatera dan luar pulau lainnya - teman-teman di Rekarupa sudah menyiapkan website khusus untuk acara ini - tunggu launching-nya - yang berisi laporan perjalanan dan liputan, serta live streaming acaranya. Agar gaung dan spiritnya menyebar ke seluruh negeri.
Kembali ke pemikiran awal saya di atas, setelah acara ini saya akan puasa berbicara di depan publik sampai akhir tahun, 31 Desember 2012. Bukan karena apa-apa, tapi saya merasa inilah hal yang harus saya lakukan jika saya mau fokus menggapai cita-cita. Inilah konsekuensi pilihan yang harus saya ambil, walaupun itu sulit. Jadi – dengan segala hormat - jika ada teman-teman yang merencanakan untuk mengundang saya di 2012 ini: mohon disesuaikan jadualnya dengan kunjungan saya di kota-kota yang telah saya tuliskan ini. Insya Allah cara-cara untuk bekerjasama dengan EO utama acara ini (Rekarupa) akan diumumkan segera, minggu depan.
Saat saya berpuasa bicara setelah perjalanan 40 hari ini, fokus saya akan tertuju pada rencana IPO (Initial Public Offering) PT. Petakumpet Creative Network pada 2015 besok, 3 tahun sejak sekarang, saat saya berusia 40 tahun. Masih banyak kekurangan yang harus saya dan tim di Petakumpet perbaiki untuk menuju IPO tersebut, sebagai salah satu milestone mewujudkan impian tergila untuk menjadi The Most Admired Company in The World pada tahun 2020.
Apakah impian itu akan menjadi kenyataan? Saya tak tahu. Saya dan tim saya di Petakumpet hanya bisa berdoa, berupaya sekeras mungkin. Melakukan hal-hal yang bisa kami lakukan dengan cara-cara yang terbaik dan tidak memusingkan hal-hal yang tidak atau belum bisa kami lakukan saat ini. Saya percaya, jika kami memiliki cukup keyakinan untuk terus melangkah, Tuhan akan tunjukkan jalan-Nya. Dan seringkali pula, Dia akan siapkan pertolongan dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka.
Saya perlu menceritakan ini semua – utamanya sebagai cermin bagi diri saya sendiri – sekaligus sebagai penjelasan awal kepada teman-teman sekalian karena saya akan sangat membutuhkan dukungan, bantuan dan kerjasamanya untuk acara yang akan kami lakukan dalam waktu yang tidak lama lagi ini.
40 hari perjalanan mengelilingi pulau Jawa dan Bali – sambil tetap menjalankan tugas utama saya sebagai CEO Petakumpet secara mobile – adalah tantangan yang menarik sekaligus menggairahkan. iPad dan Blackberry akan menjadi mobile office saya selama perjalanan ini, sekaligus sebagai beta tester sistem manajemen baru bagi Petakumpet di masa depan.
Dan ah ya, selama perjalanan 40 hari itu saya mungkin juga akan jarang bertemu keluarga kecil yang saya cintai sepenuh-penuh hati saya. Buah hati saya Alia (4 bulan) yang sedang lucu-lucunya dan ibunya yang sedang imut-imutnya. Karena merekalah saya bersedia melakukan hal-hal beresiko seperti ini. Sebagai suami dan ayah, saya mungkin berbeda daripada kebanyakan suami dan ayah yang lain yang bisa tertib menjalani kewajibannya setiap hari berada di rumah. Jika pun saya tidak bisa selalu hadir di sisi orang-orang yang saya cintai, saya ingin selalu hadir di hati mereka, dimanapun saya berada. Karena saya membawa cinta itu di hati saya - selain membawa fotonya di BB dan dompet - kemanapun saya pergi.
Semoga Tuhan menemani perjalanan ini. Juga perjalanan Anda sekalian, teman-teman saya dalam menggapi impian masing-masing. Se-absurd apapun impian itu, semustahil apapun kelihatannya. Mustahil kan bahasa kita, manusia yang penuh keterbatasan. Tapi bersama-Nya: tak ada yang tak mungkin.
People with passion can change the world
Steve Jobs
Inilah yang ingin saya lakukan. Mengubah dunia dengan impian dan tindakan-tindakan kecil, tapi didasari keyakinan. Dan konsistensi. Bukan karena mengikuti trend atau pendapat orang, tapi karena mempercayai suara hati. Dengan keyakinan ini, melangkah akan ringan. Resiko – sebesar apapun – akan tenang untuk dijalani.
Bismillah, mohon doanya untuk langkah awal ini. Semoga kita bisa berjumpa di kota-kota yang saya dan tim akan kunjungi. Insya Allah…
2011/09/27
Wedangan 9 Series 'Tantangan Kreatif'
Wedangan Creative Sharing Creative Giving
Menghadirkan Pidie Baiq & Ujang Koswara
(The Panas Dalam Institute Bandung)
Jum'at 30 September 2011 Jam 19.00 WIB bertempat di Indraloka Homestay, Jl. Cik Di Tiro 18 Yogyakarta (150 meter selatan Bunderan UGM)
FREE, Tidak Dipungut Biaya. Akan ada kotal amal untuk program creative giving**
**Creative Giving
Belajar menghargai sekaligus sebagai tanggung jawab profesi yang kita cintai, hal itulah yang menjadi alasan kuat penyelenggara memberi kesempatan kepada hadirin untuk belajar sambil beramal dengan memenuhi kotak amal yang tersedia, 100% isi dari kotak tersebut akan dibagi empat dengan perincian:
Belajar menghargai sekaligus sebagai tanggung jawab profesi yang kita cintai, hal itulah yang menjadi alasan kuat penyelenggara memberi kesempatan kepada hadirin untuk belajar sambil beramal dengan memenuhi kotak amal yang tersedia, 100% isi dari kotak tersebut akan dibagi empat dengan perincian:
25% pertama
Diberikan kepada dua pembicara dengan tujuan memberi penghargaan yang setinggi-tingginya tanpa melihat nominal yang didapatkan.
Diberikan kepada dua pembicara dengan tujuan memberi penghargaan yang setinggi-tingginya tanpa melihat nominal yang didapatkan.
25% kedua
Meyediakan sedikit konsumsi saat acara berlangsung.
Meyediakan sedikit konsumsi saat acara berlangsung.
25% ketiga
Penyelenggara yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengurus acara ini.
Penyelenggara yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengurus acara ini.
25% keempat
Disisihkan untuk pelaksanaan creative giving (penyampaian amal secara kreatif dengan memberikan materi produktif, bukan konsumtif)
Disisihkan untuk pelaksanaan creative giving (penyampaian amal secara kreatif dengan memberikan materi produktif, bukan konsumtif)
2011/06/27
Lelang Buku Bisnis untuk Wedangan
Untuk menikmati kehidupan kita sehari-hari dengan totalitas, seringkali diperlukan sebuah gebrakan, sebuah spontanitas, suatu tindakan yang seolah-olah merusak harmoni keteraturan. Agar hidup tak berjalan monoton, begitu-begitu doang.
Nah, salah satu yang saya begitu tergila-gila dalam hidup ini adalah buku. Yup, buku! Bukan pakaian yang mahal, gadget yang keren, makanan kelas hotel atau tamasya ke luar negeri. Nop, hanya buku. Dalam sebulan, rata-rata saya menghabiskan Rp 200.000,- sampai Rp 500.000,- untuk belanja buku baru. Itu adalah anggaran terbesar saya, lebih besar daripada biaya beli baju atau makan, bahkan lebih besar daripada biaya pulsa langganan Blackberry atau internet unlimited.
Nah, suatu hari tibalah ide spontan yang membuat saya sendiri terkaget-kaget. Setelah komitmen hanya akan memiliki maksimal 10 potong pakaian dan mengikhlaskan sisanya udah terlaksana, sasaranpun berlanjut. Saya punya begitu banyak koleksi buku: akan menjadi sesuatu yang berbeda jika saya melepaskan juga sebagian besar diantaranya. Mulai dari buku-buku yang jarang saya baca, yang tak begitu saya sukai isinya. Tidak terlalu sulit mengerjakan ini, masukin buku-buku di kardus dan kirimkan ke siapa saja yang membutuhkan. Done!
Tapi penyakit iseng ini kumat lagi, menantang keberanian saya sekali. Bagaimana jika yang kau lepaskan adalah buku-buku yang begitu kau sukai, yang bersejarah, yang membentuk karakter dan mengisi kepribadianmu selama ini. Beranikah untuk melepaskannya pergi?
Nah, sejujurnya ini sulit. Berat di hati. Pak Roni Yuzirman, sahabat saya founder TDA yang menerapkan simplicity dalam kehidupannya pun mengaku sulit untuk berpisah dengan buku-bukunya. Karena buku beda dengan benda yang lain, misalnya pakaian atau harta lainnya.
That’s it, because book is a part of his life. Me too, book is integrated in me.
Tapi inilah asyiknya, saya dengan sadar menerapkan ilmu memaksakan diri, saya masih bisa hidup merdeka tanpa buku-buku ini. Ilmu yang saya pelajari darinya takkan menguap saat buku-buku ini pergi. Sehingga, hadirlah keputusan itu: saya akan hibahkan sebagian besar buku-buku bisnis terbaik saya kepada Tim ADGI Jogja Chapter bekerja sama dengan TDA Jogja yang akan melelangnya di acara Wedangan, besok Jumat 1 Juli 2011.
Seluruh hasil lelang buku-buku ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan Wedangan selanjutnya yang harus terus berjalan agar manfaatnya makin besar bagi masyarakat kreatif Jogja. Juga untuk kegiatan sosial lainnya bagi yang kurang mampu. Teman-teman di ADGI Jogja dan TDA Jogja lah yang akan mengatur pemanfaatan hasil lelangnya.
Manfaatnya untuk saya? Saya sedang belajar melepas keterkaitan saya dengan benda-benda yang saya sukai. Saya sedang belajar bahwa sesungguhnya saya ini tak punya hak milik apa-apa di dunia ini, apapun yang sekarang dipercayakan pada saya oleh Yang Maha Memiliki, statusnya adalah pinjaman. Saat waktunya sampai, Ia akan mengambilnya dari saya.
Manfaatnya untuk saya? Saya sedang belajar melepas keterkaitan saya dengan benda-benda yang saya sukai. Saya sedang belajar bahwa sesungguhnya saya ini tak punya hak milik apa-apa di dunia ini, apapun yang sekarang dipercayakan pada saya oleh Yang Maha Memiliki, statusnya adalah pinjaman. Saat waktunya sampai, Ia akan mengambilnya dari saya.
Berikut daftar buku-buku yang akan dilelang:
- Good Design – David B. Berman
- Inside Larry & Sergey’s Brin (Menyimak Pemikiran Pendiri Google) – Richard L. Brand
- Rich Dad’s Guide to Investing – Robert Kiyosaki
- Membuka Pintu Langit – KH Mustofa Bisri
- Winning – Jack Welch (Ex CEO General Electric)
- Outliers (Rahasia di Balik Sukses) – Malcolm Gladwell
- The Success Principles – Jack Canfield
- Pemasaran Duct Tape – John Jantsch
- Inside Steve’s Brain – Leader Kahney (Edisi Inggris)
- Blue Ocean Strategy – W. Chan Kim, Renee Mauborgne
- Near Death Experiences – Tammy Cohen
- Donal Trump, Master Appretice – Gwenda Blair (Edisi Inggris)
- Kun Fayakun – Ust. Yusuf Mansur
- Business @ The Speed of Thought – Bill Gates
- Blink – Malcolm Gladwell
- Start with The Answer – Bob Seelert (Chairman Saatchi & Saatchi)
- The Road Ahead – Bill Gates
- The Seven Lost Secrets of Success – Joe Vitale (The Secret Guru)
- Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie
- Jack, Straight from The Gut – Jack Welch (Edisi Inggris)
- Jack, Straight from The Gut – Jack Welch
- Manajemen Gaya Microsoft – Michael Cusumano, Richard W. Selby
- The Mindgym (Edisi Inggris)
- Made to Stick – Chip Heath, Dan Heath
- The Audicity of Hope – Barack Obama
- Dari Pojok Sejarah – Emha Ainun Nadjib
- Mereka Bicara JK – National Press Club of Indonesia
- Results – Gary L. Neilson, Bruce A. Pasternack
- Meraih Cinta Illahi – Jalaluddin Rakhmat
- Who Says Elephants Can’t Dance – Louis V. Gestner, Jr.
- The Last Words of Chrisye – Alberthiene Endah
- Metamorfosis Sang Nabi – Agus Mustofa
- Inside Obama’s Brain – Sasha Abramsky
- The Lenovo Affair – Ling Zhijun
- Unleash Your Other 90% - Robert K. Cooper
- Korean Advertising – Jung Soon-kyun, CEO Kobaco
- Getting Unstuck – Timothy Butler
- Gaya Hidup Sehat Rasulullah – Egha Zainur Ramadhani
- Sosok Nabi Khidir – Khalifi Elyas Bahar
- Rich Dad’s Conspiracy of The Rich – Robert Kiyosaki
- Free – Chris Anderson
- What The Dog Saw – Malcolm Gladwell
- No Rules! – Dan S. Kennedy
- Ngaji Online – Agus Mustofa
- The Monk Who Sold His Ferrari – Robin Sharma
- The Impossible Just Takes a Little Longer – Art Berg
- The Accidental Billionaires (The Social Network) – Ben Mezrich
- Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi draft)
- Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi original)
- Jualan Ide Segar – M. Arief Budiman
Terus bagaimana mekanisme lelangnya? Mulai dari harga berapa? Tunggu info berikutnya. Dan Anda juga bisa bergabung untuk menyumbangkan buku-buku yang akan dilelang di acara ini. Insya Allah akan jadi acara lelang yang asyik, karena akan berlangsung secara offline (di tempat acara Wedangan) maupun di online (via account @wedangan di twitter). So, segera follow @wedangan untuk dapet update infonya. Anda juga bisa bertanya langsung jika ingin ikut menyumbang.
Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Ngebut dalam kebaikan. Insya Allah tak ada yang kalah, semua akan menang :)
Notes: thanx to Iqbal Rekarupa dan Rahmat Rekarupa untuk organize acara dan siapin foto-foto bukunya
Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Ngebut dalam kebaikan. Insya Allah tak ada yang kalah, semua akan menang :)
Notes: thanx to Iqbal Rekarupa dan Rahmat Rekarupa untuk organize acara dan siapin foto-foto bukunya
2011/05/22
It's GOOD to DO GOOD
Nanti malam nih, Senin, 23 Mei 2011 jam 19.15 di Petakumpet. Sebuah pemanasan untuk menyambut David Berman dengan membincangkan pemikiran-pemikirannya lebih dulu di Wedangan.
Insya Allah saya akan mengulas bukunya David Berman 'DO GOOD DESIGN' secara kontekstual dg situasi Indonesia. Monggo diramaikan ya, semoga berkah buat semua, dan menjadi awal langkah bagaimana desainer bisa mengubah dunia. Salam :)
2011/05/09
Prestasi dalam Keterbatasan
Karena uang koin yang Anda sisihkan, anak-anak kurang mampu dapat terus bersekolah demi masa depannya.
Salurkan bantuan Anda melalui Coin Collecting Day Yogyakarta Coin A Chance!
di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin 2 Mei 2011 pukul 19.00 WIB atau ditransfer ke BRI Cab. Yogyakarta no. 0029-01-002025-53-3 a/n Alluisius Dian Hartanto.
Salurkan bantuan Anda melalui Coin Collecting Day Yogyakarta Coin A Chance!
di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin 2 Mei 2011 pukul 19.00 WIB atau ditransfer ke BRI Cab. Yogyakarta no. 0029-01-002025-53-3 a/n Alluisius Dian Hartanto.
2011/05/02
Koin untuk Masa Depan
Karena uang koin yang Anda sisihkan, anak-anak kurang mampu dapat terus bersekolah demi masa depannya.
Salurkan bantuan Anda melalui Coin Collecting Day Yogyakarta Coin A Chance!
di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin 2 Mei 2011 pukul 19.00 WIB atau ditransfer ke BRI Cab. Yogyakarta no. 0029-01-002025-53-3 a/n Alluisius Dian Hartanto.
Salurkan bantuan Anda melalui Coin Collecting Day Yogyakarta Coin A Chance!
di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin 2 Mei 2011 pukul 19.00 WIB atau ditransfer ke BRI Cab. Yogyakarta no. 0029-01-002025-53-3 a/n Alluisius Dian Hartanto.
2011/04/19
Kado Untuk Pembersih Negeri
Keluarga Besar Petakumpet akan membagikan bingkisan senilai @ Rp 50.000,- kepada Saudara-saudara kita yang setiap hari mengangkut sampah, menyapu jalan, membersihkan fasilitas umum, dimulai 1 Mei 2011.
Untuk teman-teman yang ingin ikut berbagi, kami tunggu sampai 28 April 2011 jam 15.00 WIB. Silakan ditransfer ke: Rek. Petakumpet Creative Giving
Bank Mandiri No. 1370006999359 an. Rizal Osakananto, konfirmasi atas transfer mohon bisa sms ke Rizal 087838950222.
Langganan:
Postingan (Atom)





























