To understand yourself better, you can seek by defining who your heroes are. The best part of them will mirror in you. If you want to be a legend, around yourself with legends. And someday - if you have fought hard enough with all the passion in your heart - you will become one of them. At that day, you will never be the same again.
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Dreams. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dreams. Tampilkan semua postingan
2012/04/19
A Legend Inside You
To understand yourself better, you can seek by defining who your heroes are. The best part of them will mirror in you. If you want to be a legend, around yourself with legends. And someday - if you have fought hard enough with all the passion in your heart - you will become one of them. At that day, you will never be the same again.
2011/11/04
Ide yang Mengubah Dunia
Kita harus membentuk ide-ide dasar dari realitas alam
dengan pemikiran dan kreativitas kita.
Dengan itu kita akan menandai sejarah,
tidak sekedar larut di dalamnya.
- Steve Jobs, former CEO Apple Inc. -
Kisah mengenai bagaimana sebuah ide sederhana akhirnya membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi tidak pernah sama lagi dengan sebelumnya, biasanya akan menjadi kisah yang inspiratif, menggugah kesadaran kita, menyalakan passion di hati kita yang terdalam, bahkan sampai menitikkan air mata.
Tapi biasanya juga: umur inspirasi itu tak panjang.
Beberapa saat setelah cerita itu berlalu dan kita mulai menggeluti lagi dunia dan segala permasalahannya sehari-hari, api itu pun memudar. Kesadaran itu menguap. Passion itu meredup dan padam. Kita pun menjelma kembali menjadi orang-orang biasa, orang-orang pada umumnya. Menjalani hidup dari pagi ke pagi lagi dengan jadual yang telah ditentukan, begitu-begitu saja melewati jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana-kemari memperjuangkan mimpi-mimpi di luar diri kita, sementara jiwa kita gersang, hati nurani tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan mata yang kosong tanpa daya.
Maka jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan ide-idenya sepenuh hati sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita memilih menyerah di awal atau pertengahan perjalanan karena tak sanggup menanggung resiko untuk berbeda, untuk disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik dan difitnah. Mayoritas kita tak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu, perlakuan yang merendahkan itu, sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan kenyamaan, ketenangan, ketentraman. Secara tak sadar, kita bahkan mulai ikut-ikutan mengatakan bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia karena kita tak pernah serius memperjuangkannya.
Bahkan pun saat engkau telah berniat untuk mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.
Alam semesta ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam tapi adil. Engkau yang tak sungguh-sungguh bersedia bersikap kejam pada dirimu sendiri untuk memperjuangkan terwujudnya ide-ide besar yang kau yakini, akan diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.
Kecuali jika engkau termasuk orang-orang jenius. Yang setahu saya, bukanlah merupakan keturunan.
dengan pemikiran dan kreativitas kita.
Dengan itu kita akan menandai sejarah,
tidak sekedar larut di dalamnya.
- Steve Jobs, former CEO Apple Inc. -
Kisah mengenai bagaimana sebuah ide sederhana akhirnya membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi tidak pernah sama lagi dengan sebelumnya, biasanya akan menjadi kisah yang inspiratif, menggugah kesadaran kita, menyalakan passion di hati kita yang terdalam, bahkan sampai menitikkan air mata.
Tapi biasanya juga: umur inspirasi itu tak panjang.
Beberapa saat setelah cerita itu berlalu dan kita mulai menggeluti lagi dunia dan segala permasalahannya sehari-hari, api itu pun memudar. Kesadaran itu menguap. Passion itu meredup dan padam. Kita pun menjelma kembali menjadi orang-orang biasa, orang-orang pada umumnya. Menjalani hidup dari pagi ke pagi lagi dengan jadual yang telah ditentukan, begitu-begitu saja melewati jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana-kemari memperjuangkan mimpi-mimpi di luar diri kita, sementara jiwa kita gersang, hati nurani tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan mata yang kosong tanpa daya.
Maka jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan ide-idenya sepenuh hati sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita memilih menyerah di awal atau pertengahan perjalanan karena tak sanggup menanggung resiko untuk berbeda, untuk disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik dan difitnah. Mayoritas kita tak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu, perlakuan yang merendahkan itu, sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan kenyamaan, ketenangan, ketentraman. Secara tak sadar, kita bahkan mulai ikut-ikutan mengatakan bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia karena kita tak pernah serius memperjuangkannya.
Bahkan pun saat engkau telah berniat untuk mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.
Alam semesta ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam tapi adil. Engkau yang tak sungguh-sungguh bersedia bersikap kejam pada dirimu sendiri untuk memperjuangkan terwujudnya ide-ide besar yang kau yakini, akan diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.
Kecuali jika engkau termasuk orang-orang jenius. Yang setahu saya, bukanlah merupakan keturunan.
Apple Computer dalam iklan legendarisnya tahun 1997 Think Different mencatat nama-nama ini: Albert Einstein, Bob Dylan, Martin Luther King, Jr., Richard Branson, John Lennon, Buckminster Fuller, Thomas Edison, Muhammad Ali, Ted Turner, Maria Callas, Mahatma Gandhi, Amelia Earhart, Alfred Hitchcock, Martha Graham, Jim Henson, Frank Lloyd Wright, Pablo Picasso.
Tentu masih ada jenius-jenius lainnya yang tak tercatat di iklan ini. Termasuk Steve Jobs, CEO Apple sekaligus kreator iklan tersebut yang bahkan sempat merekam suaranya sendiri sebagai narrator.
Copy writing iklan ini sungguh menggetarkan hati:
Here’s to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. While some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.
Lihat iklannya disini
Jenius adalah orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan kegilaannya. Dan jumlah mereka adalah minoritas. Tanpa kemampuan untuk mempertanggungjawabkan ‘keanehannya’, maka posisi orang-orang yang berbeda dan dianggap gila itu akan dipinggirkan, dijauhkan dari kehidupan sehari-hari yang normal karena dianggap pengganggu keharmonisan dan ketertiban.
Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia, melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu... Bummm!!!
Dunia pun berubah karena hal-hal sederhana yang mereka lakukan, diiringi dengan kebetulan-kebetulan dan dukungan yang mengalir deras dari arah yang tak pernah mereka perkirakan. Setiap kisah kesuksesan bisnis dan kehidupan, tidak lebih tidak kurang, menggambarkan dukungan alam semesta yang aneh seperti itu.
Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, Facebook, yang termutakhir Twitter.
Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar - seperti kata Steve Jobs - to put a dent in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.
Dunia ini penuh dengan kebisingan dari orang-orang yang teriak ramai tentang hal-hal yang tidak penting, hal-hal sampah yang makin menggunung dan menyesakkan mata hati kita. Sampah-sampah yang dikemas dengan bungkus yang mewah, glamour, indah dan menggoda iman. Sampah-sampah yang diiklankan sebagai kebutuhan nomer satu dan bukti kesuksesan tertinggi. Sampah-sampah yang menggiurkan dan menjadikan kita konsumen rakus yang membeli hal-hal yang tak kita butuhkan.
Tengoklah sampah-sampah itu: sinetron kejar tayang, infotainment gosip, politik kekuasaan, iklan-iklan tanpa kedalaman makna, pengajian yang menidurkan jamaahnya, mereka yang mengaku membela agama tertentu sementara tingkah lakunya justru merusak apa yang dibelanya.
Lawanlah kebisingan itu. Dengarlah suara lirih dalam hatimu. Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya. Memperjuangkan ide-ide yang kau yakini justru karena ditolak orang lain, justru karena dicemooh dan dijauhi.
Engkau – dan siapapun yang punya kemauan – bisa menjadi bagian dari orang-orang besar yang dicatat oleh dunia dengan tinta emas. Selama engkau bersedia membayar ‘harga’nya. Selama engkau bersedia menggenggam erat ide-idemu dan memperjuangkannya sepenuh hidupmu.
Suatu hari kelak - saat waktunya tiba - engkau akan menjadi gila. Atau legenda.
Image sources:
http://www.icouple.sg/blog/wp-content/uploads/2007/04/apple_think_different.jpg
http://www.iphonespecialist.com.au/_/rsrc/1317883989663/steve-jobs-think-different-tribute-video/Steve-Jobs-1955-2011.png
2010/12/12
A Ding in The Universe
Berfikir bahwa engkau akan mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.
Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia, melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu... Bummm!!! Dunia pun berubah karena hal-hal kecil yang mereka lakukan.
The Social Network, sebuah film karya sutradara favorit saya David Fincher (Se7en, Fight Club, The Curious Cae of Benjamin Button, dll.) tidak lebih tidak kurang, menggambarkan kebetulan-kebetulan seperti itu. This a recommended movie if you have dreams to change the world.
Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, yang termutakhir Twitter. Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar - seperti kata Steve Jobs - to put a ding in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.
Percayalah pada keyakinan yang terdalam di hatimu. Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya.
2009/05/17
Jangan Nanggung Karena Mimpi Gratis


Dari Majalah Gatra 27 / XV 20 Mei 2009
Baik cover maupun isinya rasanya sama: bermimpi itu boleh-boleh saja. Masalah nanti tercapai atau tidak akan embali kepada upaya ikhtiar kita dan persetujuaan alias acc Tuhan untuk mewujudkannya ke alam nyata. Yang menarik adalah bahwa sang cawapres namanya sama dengan nama ayah saya, jadi ketika saya ditanya nanti mau dukung yang mana: saya jawab saya akan mendukung Boediono.
Mengapa? Lho, tidakkah setiap anak yang baik mendukung orang tuanya? He he he....
Untuk analisa yang canggih-canggih tentang poltiknya saya serahkan saja pada para pengamat yang nampaknya jauh ebih sibuk ketimbang para capres cawapresnya sendiri. Selamat berkompetisi, semoga hanya yang paling dekat dengan Tuhan dan rakyat yang akan memimpin bangsa ini ke depannya. Amien...
2008/05/08
Kun Fayakun-nya Bill Gates
Dari pertama sejak denger kabar bahwa Bill Gates dolan ke Indonesia, saya sudah mencoba mencari tahu bagaimana caranya agar bisa ikut acaranya. Saya pikir tentu lebih murah menemuinya di sini, ketimbang saya harus datang ke Redmond (markasnya Microsoft). Sejak awal membangun Petakumpet bersama teman-teman, kesuksesan Microsoft begitu menginspirasi saya, selain Apple-nya Steve Jobs tentu saja. Praktik manajemennya banyak yang saya terapkan. Tujuan ambisiusnya membakar adrenalin saya. Kenyataan bahwa Bill adalah orang terkaya di dunia (sekarang dia ada di nomer 3): membuat saya yakin saya tidak bakal miskin.
Banyak teman di Jakarta yang saya tanyakan, tapi hampir semuanya tak tahu pasti bagaimananya. Tak ada info tentang dimana tiketnya bisa dibeli, bahkan detail acaranya pun tak bisa saya dapatkan. Jadinya, saya hanya memantau kedatangan Pak Bill dari berita-beritanya di situs internet, tentang rencananya untuk hadir di Global Leader Forum maupun bersama SBY memberikan Presidential Lecture. Dan tanggalpun sudah sampai hari H-nya karena Pak Bill nyampe Jakarta Kamis subuh kemarin, saya pun pasrah tak bisa melihatnya secara live.
Dan Kamis siang hp saya berdering, Mas Hastaryo dari IDP (Indonesia Design Power) menelepon,"Rif, kamu mau ikut acaranya Bill Gates dan SBY gak? Ini ada undangan dari kementeriannya Bu Mar'ie Pangestu (Depperindag) tapi harus pasti hadir ya..."
Sayapun terdiam. Tapi hati saya melonjak-lonjak kayak anak kecil dapat hadiah permen. Hp saya tutup, telepon tiket pesawat dan malam ini berangkat ke Jakarta. Besok pagi saya Insya Allah hadir di Presidential Lecture-nya Om Gates dan Paklek SBY. Makasih banget ya Mas Has..
Inilah kuasa kun fayakun.. Saat kita punya niat yang kuat dan berupaya keras sampai tak tahu lagi kemana melangkah, maka Tuhan akan membuatkan jalan. Ternyata sesederhana itu jika Tuhan mau.
Banyak teman di Jakarta yang saya tanyakan, tapi hampir semuanya tak tahu pasti bagaimananya. Tak ada info tentang dimana tiketnya bisa dibeli, bahkan detail acaranya pun tak bisa saya dapatkan. Jadinya, saya hanya memantau kedatangan Pak Bill dari berita-beritanya di situs internet, tentang rencananya untuk hadir di Global Leader Forum maupun bersama SBY memberikan Presidential Lecture. Dan tanggalpun sudah sampai hari H-nya karena Pak Bill nyampe Jakarta Kamis subuh kemarin, saya pun pasrah tak bisa melihatnya secara live.
Dan Kamis siang hp saya berdering, Mas Hastaryo dari IDP (Indonesia Design Power) menelepon,"Rif, kamu mau ikut acaranya Bill Gates dan SBY gak? Ini ada undangan dari kementeriannya Bu Mar'ie Pangestu (Depperindag) tapi harus pasti hadir ya..."
Sayapun terdiam. Tapi hati saya melonjak-lonjak kayak anak kecil dapat hadiah permen. Hp saya tutup, telepon tiket pesawat dan malam ini berangkat ke Jakarta. Besok pagi saya Insya Allah hadir di Presidential Lecture-nya Om Gates dan Paklek SBY. Makasih banget ya Mas Has..
Inilah kuasa kun fayakun.. Saat kita punya niat yang kuat dan berupaya keras sampai tak tahu lagi kemana melangkah, maka Tuhan akan membuatkan jalan. Ternyata sesederhana itu jika Tuhan mau.
2007/11/07
The Next Big Thing

Rasanya gak sabar nunggu waktu itu datang: energi buat menyalakan industri kreatif berbasis komik meledak-ledak, tak dapat lagi ditahan. Tapi bikin komik lagi bukan sekedar klangenan alias cinta monyet semata. Ndak cuma hobi, ndak cuma balas dendam.
Setelah ngobrol panjang selepas lebaran kemarin, rasanya memang dunia komik Indonesia perlu mendapat tamparan super keras sekali lagi buat bangun!
Dan kamipun berkumpul: Yudi Sulistya (Senior Illustrator Petakumpet, Juara Komik Nasional), Apriyadi Kusbiantoro (Studio Urakurek, Animator Iklan, Juara Komik Nasional), Eri Setiyono (Infinite Frameworks, Animator, Multimedia Designer, Juara Komik Nasional), Ahmad Faisal Ismail (Sebikom, Kreator Sukribo Kompas, Juara Komik Nasional) dan saya (tukang bikin minum, motongin kertas dan juru ketik) untuk membicarakan project serius ini.
Dan projectpun dimulai: kami butuh satu tahun (tanpa diskon) hanya untuk bikin script yang inspired, baik untuk komik-komik kami yang di-reborn maupun judul yang Gress. Tanpa script yang kuat, illustrasi sekeren apapun pasti gak bunyi. Mmm.. apalagi jika asal-asalan demi kejar setoran.
Waktu setahun persiapan rasanya tak bakal cukup untuk karya yang sungguh-sungguh. Adrenalin ini terus bergolak, tak sabar menunggu karya itu lahir...
Waktu setahun persiapan rasanya tak bakal cukup untuk karya yang sungguh-sungguh. Adrenalin ini terus bergolak, tak sabar menunggu karya itu lahir...
Langganan:
Postingan (Atom)


















