Footer 1

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

2012/04/01

Setetes Embun di Kebun Ide

Untuk Mas Handoko Hendroyono*

Sejurus setelah saya menyelesaikan membaca ‘Brand Gardener’, saya teringat sebuah peribahasa: saat murid siap, guru akan datang.

Begini ceritanya: seperti siapapun yang terlibat dalam bisnis advertising by choice (alias tidak terpaksa ),saya pun selalu mencoba untuk memikirkan ulang industri yang saya geluti sejak 1996 ini. Mungkin 15 tahun barulah seumur jagung kalau bicara pengalaman, tapi setidaknya saya pelan-pelan mulai memahami industri seperti apa yang saya masuki ini.

Pertanyaan besar yang selalu mengganggu saya adalah: apakah industri ini cukup syarat untuk dijalankan dan dihidupi oleh orang-orang yang punya niat, passion, cinta dan keyakinan yang kuat untuk memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya?

Ataukah ia hanya sekedar menjadi perpanjangan corong bagi kekuatan brutal kapitalisme yang ideologinya adalah: jualan, jualan, jualan? Saya pun mulai bertanya-tanya, pada siapapun atau apapun yang saya pikir memiliki jawabannya.

Kebimbangan saya menemui jalan buntu. Kemana pun saya bertanya, justru makin membingungkan setelah mendapat seribu versi jawaban. Bahkan tak sedikit yang justru merasa heran atas pertanyaan sederhana saya itu, “Kamu ini aneh, iklan itu tujuannya untuk memaksimalkan terjadinya penjualan. Menumbuhkan pasar. Memperlancar arus barang dari gudang ke konsumen. Iklan yang menyadarkan orang untuk mengurangi pembelian bukanlah iklan. Itu pengajian!”

Saya makin sulit menemukan ketentraman hati di tengah hiruk-pikuk dunia advertising yang meramu teknik-teknik canggih komunikasi dan bombardir media untuk ‘memerangkap’ target audiens agar membeli, menghabiskan uangnya yang sedikit untuk menggemukkan pundi-pundi para pemilik industri raksasa.  

Lalu Buku Brand Gardener tulisan Mas Handoko Hendroyono ini menyapa saya.

Menyadarkan saya bahwa masih ada orang-orang baik yang berani berfikir bebas dan jernih di industri yang pressure-nya begini keras dan berdarah-darah.

Hitunglah berapa jumlah advertising company di negeri ini? Saya merasa lebih pas dengan istilah company ketimbang agency, apalagi sejak cara berbisnis advertising berubah, tak lagi dapat ‘jatah’ agency fee media placement. Entry barrier-nya rendah sekali, setiap orang bisa membuka advertising company. Betapa mudahnya pula nanti, untuk menutupnya karena persaingan yang brutal atau lantaran para pendirinya terlalu cepat putus asa.

Saya jatuh cinta pada istilah Brand Gardener. Ada kemurnian pada kata Gardener. Ada kejujuran dalam proses alamiah untuk tumbuh. Industri advertising yang telah bergeser menjadi sekedar karnaval endorser yang mengiklankan produk yang tak dipakainya dan hiasan sampah visual luar ruang yang tak menentramkan, seperti menemukan setetes embun. Mungkin embun ini tak cukup untuk menyejukkan seluruh taman yang mulai mengering, tapi kilaunya yang diterpa matahari pagi adalah sebuah doa. Dan harapan.

Saat murid siap, guru akan datang.

Saya merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang masih memiliki passion dalam dirinya untuk membangun industri advertising yang lebih membumi, lebih manusiawi, lebih mendengarkan suara hati.

Saya mendaftarkan diri menjadi murid dengan riang hati, karena Pak Guru Handoko mengajari saya dengan story telling-nya untuk menggunakan hati dalam bekerja, berkarya, mencipta.

Siapapun bisa mengubah dunia, jika mau. Seperti yang dikatakan Steve Jobs, people with passion can change the world. Buku ini adalah percikan renungan, pemikiran dan pengalaman penulisnya sebagai praktisi aktif periklanan yang akan menyalakan lagi passion itu, untuk membuat dunia jadi lebih baik.

Bukan sekedar brand building tapi brand gardening. Tak cukup hanya membangun brand, tapi bagaimana menjadikan brand sebagai elemen terindah di taman hati.

Saat menutup buku ini di halaman terakhir, saya merasakan benih cinta itu tumbuh pelan-pelan, ketika saya menatap dunia advertising sekali lagi dengan mata kanak-kanak yang jernih tanpa prasangka.

Semoga kehadiran buku langka ini di taman advertising tempat brand-brand bertumbuh, menjadi setetes embun yang menyejukkan jiwa-jiwa kreatif yang resah. Menjadi persemaian bibit-bibit kejujuran yang makin memanusiakan kita semua. 

*Tulisan ini adalah pengantar untuk Buku Brand Gardener karya Mas Handoko Hendroyono

Image from: http://www.gubukbuku.com/content/uploads/mtoc/product_images/40111010150563120436993110989191992928985160074781n.jpg dan http://www.mytulisan.com/wp-content/uploads/2012/03/BLOG.jpg

2010/12/14

Surat Cinta Dari Neraka

Di akhir Ramadhan itu, 35 puisi yang berkisah tentang cinta disampaikan oleh seorang pengirim paket kepada saya. Ya, cinta jika sudah ditulis dalam bentuk puisi, memang bisa 'dipaketkan'.

Tapi melihat judul yang menyertai paket itu, saya terhenyak. Di akhir Ramadhan - dimana surga-Nya sedang sibuk memanggil-manggil - saya malah mendapat 'Salam Cinta dari Neraka.' Sebuah surprise yang indah!

Menelusuri butir-butir kata puitis dan goresan ilustratif yang menyertainya, kumpulan kisah cinta ini mengajak kita untuk sejenak melangit. Melihat sisi tertinggi atas makna mencintai, membubungkan kesadaran bahwa cinta tak selalu bisa diungkapkan dengan bahasa manusia, cinta seringkali lebih dekat pada bahasa langit, bahasa-Nya.

Karena saat membicarakan cinta, benar salah, senang susah, bahagia derita, jauh dekat, nikmat pedih, menjadi relatif adanya, menjadi sangat tergantung pada kadar kecintaan yang sedang mengalaminya.

Maka absurditas, keterkejutan, kemustahilan, mimpi di dalam mimpi di dalam mimpi, apa saja bisa menjelma realitas yang masuk akal bagi yang sedang jatuh cinta atau putus cinta. Sekali lagi, cinta adalah pintu gerbang menuju segala kemungkinan. Ruh cinta melampaui kemampuan manusia untuk mencernanya.

Mbak Erike, dalam buku ini mengajak kita membuka mata, membuka ruang tergelap di hati kita, untuk menerima kehangatan dan kepedihan cinta dalam kadar yang mengejutkan. Ilustrasi yang menyertainya juga bukan sekedar mendeskripsikan puisi tapi menjadi bagian tak terpisahkan, utuh dalam penyampaian.

Buku ini akan menghangatkan hati Anda yang mungkin sedang kosong dari makna, akibat terlalu larut dalam rutinitas sehari-hari. Saat cinta menjadi hal yang biasa bahkan komoditas. Saat keajaiban perasaan cinta yang menakjubkan mulai memudar sekedar menjadi bagian upacara basa-basi dalam percakapan, pertemuan bahkan kebersamaan yang intim.

Tanpa cinta yang utuh - yang melebur seluruh kehendak kesementaraan pada keabadian - hidup hanyalah menunda kematian.

Buku 'Salam Cinta dari Neraka' ini akan mengisi waktu yang tertunda itu dengan embun yang menyejukkan. Yang membuat siapapun siap menyongsong kematian dengan senyuman, karena cinta akan membahagiakan setiap hati yang dirundung kesedihan.

2009/01/16

Udah Baca Sex After Dugem?



Saya beli buku itu masih kinyis-kinyis saat Seminar Highlight di ISI Jogja, mungkin saat belum beredar di seluruh Indonesia. Buku Mas Budiman terbaru ini rasanya lebih 'wild', kalo di Jogja kayak makan oseng-oseng mercon.. OOM (singkatan dari Oseng-Oseng Mercon, lho kok malah panjang) dijamin keringatan, mata melotot dan terjaga sepanjang malam saking pedesnya! Jadi jika Anda berfikir bahwa dunia periklanan itu hanya seputar presentasi, meeting, brainstorm dan complaint klien: pake dulu sabuk pengaman sebelum mulai membaca.

Buku Mas Bud ini sengaja keluar jalur industri periklanan dengan manisnya, menerjang jalan yang penuh batu kerikil, off road di jalanan kreatif karena ide-idenya meluber kemana-mana.
Buku ini membantu saya menemukan teman yang percaya bahwa kreatif itu bukan hanya soal kerjaan, iklan, bikin headline atau body copy. Kreatif itu sebaiknya - maaf - seharusnya bisa menjadi the way of thinking dan selanjutnya menjadi the way of live.

Buku ini mengajarkan bagaimana hidup ugal-ugalan tapi bertanggung jawab. Tetap gila ya Mas Bud, dunia periklanan kita berhutang ide-ide kreatif pada kenekadan Mas Bud untuk jadi berbeda! Untuk tetap kreatif dimanapun saja. Congratz:)

2008/10/13

Doa yang Mengancam


Aming, dari banci kaleng ke cowok tulen
Setelah kesuksesan luar biasa sutradara Hanung Bramantyo dengan Ayat-ayat Cinta (AAC), film Doa yang Mengancam (DYM) mungkin bisa jadi sesuatu yang beresiko untuk dikerjakan. Karena kemungkinan sangat sulit untuk mengulang kesuksesan yang pernah diraih. Ya, ekspektasi penonton pasti tinggi saat menyaksikan DYM. Seperti yang diduga, penonton DYM tak sebanyak AAC yang tembus di atas 3 juta orang.

Tapi di tulisan ini, saya ingin menyampaikan salut pada upaya seorang Hanung yang berani take risks dengan memfilmkan sebuah cerpen karya Jujur Prananto ini. Secara cerita cukup kuat dan skenariopun rasanya cukup padat mengemas cerpen (yang secara nature memang pendek). Dalam skenario filmnya, telah ditambahkan beberapa tokoh, adegan dan ending yang berbeda ketimbang cerpennya.
Meski temanya mengangkat ritual agama berupa sholat dan doa, tapi sudut pandang yang diambil cukup segar: ini bukan sekedar film agama.
Jika di-compare dengan film Kun Fayakun-nya Yusuf Mansur: secara story telling saya lebih menyukai DYM, lebih bisa mengatur suspens penonton dan alurnya tidak segampang KFK untuk ditebak. Tapi sebagai syiar Islam, kedua film barusan saya rasa cukup layak untuk diberi pujian, dengan kelebihan dan kelemahannya.

Yang menarik lagi dari film DYM adalah kesengajaan Hanung untuk merombak total karakter aktor dan aktris terkenal di film ini. Aming (Madrim) yang bisa kita kenal dengan karakter banci kaleng disulapnya menjadi sosok laki-laki yang hidupnya keras, menderita dan bermasalah. Laki-laki sekali. Lalu Nani Wijaya yang terkenal sebagai aktris dengan peran ibu baik-baik dibuatnya harus merokok dan di masa muda menjadi seorang pelacur (diperankan anak Nani Wijaya yang wajahnya persis ibunya). Dedy Sutomo pemeran Pak Syukri di film lama Rumah Masa Depan yang terkenal sebagai bapak bijaksana dan baik-baik dijadikan tokoh koruptor buron polisi yang kaya raya, licik dan jahat (Tantra).

Pujian pantas diberikan pada Aming untuk penghayatannya yang total di film ini, sekaligus menepis keraguan atas kemampuan aktingnya yang spesialis 'dua alam'.

Satu pelajaran penting dari film ini, selalu bersangka baik pada Allah (khusnudzon) akan membuat kita lebih tenang menjalani ujian kehidupan. Allah tahu yang terbaik buat kita karena kita ini ciptaan-Nya. Cuma kita yang kadang tak sabar dan sok tahu sehingga seringkali protes dan putus asa karena belum mampu memahami skenario indah hasil kreasi-Nya.

Untuk melengkapi tulisan ini saya sertakan cerpen asli Doa yang Mengancam yang saya link dari sini:

Doa yang Mengancam
Jujur Prananto

“Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai Matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu.”

Itulah doa terakhir Monsera, seorang penduduk miskin yang tinggal di pinggiran Kota Ampari, ibukota negeri Kalyana. Setelah itu ia menutup pintu rumah tempat tinggalnya, menguncinya dan menyerahkan kunci pada si empunya rumah yang telah berbulan-bulan menagih tunggakan uang sewa padanya.

"Suatu saat saya akan kembali untuk membayar utangku.”

Si empunya rumah cuma tersenyum sinis dan membiarkan Monsera pergi.

Monsera lalu berpamitan pada para tetangga, pemilik warung makan, pemilik toko kelontong, penjual minyak tanah, ialah semua yang berpiutang padanya dengan ucapan sama, “Suatu saat saya akan kembali untuk membayar semua utangku.” Dan semua juga membiarkannya pergi tanpa berharap Monsera akan menepati janjinya.

Lelaki berbadan kurus itu lalu meninggalkan ibukota, berjalan kaki memasuki wilayah berhutan, mencari kelinci, umbi-umbian, dan buah-buahan, untuk bersantap malam, alu tidur di dahan sebuah pohon besar menanti datangnya pasgi.

Monsera terbangun oleh tetesan embun yang membasahi mukanya, dan setelah itu tak bisa tidur lagi sampai ufuk timur memerah. Ia berdebar-debar menunggu terbitnya Matahari, berharap-harap cemas membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

“Apakah Tuhan mendengar doaku? Apakah Tuhan terusik oleh ancamanku?”

Sampai Matahari terbit dan Monsera meneruskan perjalanannya yang tanpa tujuan ini, tak ada kejadian istimewa terjadi. Monsera mulai kesal dan putus asa, tapi terus berjalan meninggalkan hutan dan memasuki padang rumput savana.

Seperti ingin bunuh diri, Monsera menantang teriknya Matahari tanpa berbekal setetes pun air dan menantang dinginnya malam tanpa berbekal selembar pun selimut. Pada hari ketujuh, Monsera tergeletak tanpa daya di atas permukaan rumput. Saat itu hujan turun deras. Kilat bekerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, seorang saudagar kuda bernama Sinaro menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mengiranya sudah menjadi mayat. Sinaro menggali liang kubur, mendoakan Monsera dan menguburnya. Tapi begitu gumpalan tanah mengenai muka Monsera, mulutnya sedikit bergerak. Ternyata Monsera cuma mari suri. Sinaro kaget sekali dan membawa Monsera pulang ke rumahnya di negeri Salaban.

*

Setelah sebulan lebih dirawat keluarga Sinaro, luka bakar yang diderita Monsera berangsur sembuh. Kesadarannya berangsur pulih. Monsera mulai bisa bicara sepatah dua patah kata, tapi masih menderita amnesia. Masuk bulan ketiga barulah ingatannya kembali normal, dan bisa berbincang secara wajar dengan orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari Monsera tertarik pada foto lama keluarga ayah Sinaro yang ditaruh di atas almari pakaian. Lama Monsera mengamati foto itu, lalu menunjuk seorang bocah yang ada di situ dan menanyakannya pada Sinaro. “Ini saudaramu?”

Sinaro agak kaget, lalu bercerita dengan perasaan sedih. “Ya, namanya Sridar. Ia hilang waktu ikut perang saudara sepuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang tak pernah ada kepastian dia masih hidup atau sudah meninggal.”

“Dia masih hidup,” kata Monsera penuh kepastian. “Belum lama ini saya bertemu dia di Rodamar.”

Sinaro terperanjat. “Kamu yakin?”

“Saya yakin.”

“Tapi itu foto dua puluh lima tahun yang lalu, Monsera. Bagaimana kamu yakin yang kamu temui di Rodamar itu adalah Sridar adikku?”

“Sebaiknya kita sama-sama pergi ke Rodamar. Sridar tinggal di salah satu perumahan rakyat di pinggiran kota.”

Antara percaya dan tidak, Sinaro berangkat ke Rodamar bersama sanak saudara yang lain, mengikuti petunjuk Monsera. Tiga hari dua malam mereka berkuda menyeberangi padang pasir dan berhasil mencapai Rodamar dengan selamat. Dengan mudah Monsera menunjukkan jalan-jalan dalam kota yang harus dilalui, sampai akhirnya menemukan perumahan rakyat yang dimaksud. Dan berhasil menemukan Sridar!

Tak terkira betapa gembira Sinaro dan sanak saudara lainnya, bisa berjumpa lagi dengan Sridar yang sudah sepuluh tahun mereka anggap hilang ini. Dan tak terkira pula rasa terima kasih mereka pada Monsera yang telah membantu menemukan Sridar.

Belakangan Monsera merasa takut dan heran pada dirinya sendiri, setelah sadar bahwa sebelum ini ia sama sekali belum pernah pergi ke Rodamar. Jadi bagaimana ia bisa tahu seseorang bernama Sridar yang belum pernah dikenalnya tinggal di sebuah kota yang belum pernah didatanginya pula?

Sekembali ke rumah Sinaro, Monsera meminjam foto-foto yang lain, mengamati wajah-wajah dalam foto itu. Dalam waktu singkat ia ternyata bisa melihat perjalanan kehidupan orang yang diamatinya bagaikan sebuah film panjang. Melihat Sinaro melamar calon istrinya. Melihat istrinya melahirkan anak pertama. Dan melihat saat ini istrinya sedang berbelanja di pasar.

Tak ayal. kemampuan lebih yang dimiliki Monsera cepat diketahui orang-orang. Mereka berbondong-bondong mendatangi Monsera, menanyakan anak atau ayah atau suami atau sanak saudara mereka yang hilang pada waktu perang saudara. Banyak yang sedih setelah Monsera mengatakan yang mereka cari sudah meninggal. Namun banyak pula yang bergembira seperti Sinaro, berhasil bertemu kembali dengan yang selama ini menghilang entah ke mana. Hadiah berupa uang, emas, maupun barang-barang berharga lainnya, mengalir deras ke pundi-pundi Monsera. Sampai akhirnya pemerintah negeri Salaban mendengar pula kehebatan Monsera, lalu mengangkat Monsera sebagai pejabat khusus di kepolisian dengan gaji yang sangat tinggi, dan memberinya tugas melacak para penjahat yang melarikan diri.

Monsera pun menjadi orang yang kaya raya. Dan di tengah-tengah kekayaannya yang melimpah itu, ia merasa telah berhasil mengancam Tuhan lewat doanya.

*

Setelah cukup lama berbakti bagi rakyat dan pemerintahan Salaban, Monsera pulang ke negerinya. Yang pertama dilakukannya ialah menemui para mantan tetangga, dan membayar semua piutang mereka. Setelah itu Monsera meninggalkan Kota Ampari, pergi ke sebuah dusun termiskin di negeri Kalyana, menemui ibunya yang selama ini ditinggalkannya begitu saja.

Si ibu yang tua dan renta nyaris tak mengenali Monsera yang gemuk dan bersih.

“Tuhan akhirnya mengabulkan doa saya, Ibu! Bahkan lebih dari sekadar terbebas dari kemiskinan, saya sekarang jadi kaya raya!”

Monsera lalu membawa ibunya pindah ke kota untuk tinggal bersamanya di sebuah kastil termegah dan termahal di Ampari yang sudah dibelinya. Kekayaan ibunya yang dibawa dari dusun cuma sebuah tas kecil berisi selembar kain dan foto-foto lama. Monsera membakar kain tua itu dan meminta para pembantunya membelikan lusinan kain sutera sebagai pengganti. Monsera membeli pula bingkai-bingkai emas untuk memasang foto-foto keluarga yang dibawa ibunya.

Monsera tersenyum sendiri melihat sebuah foto ibunya waktu masih muda.

“Cantik sekali,” gumam Monsera. Lalu, di luar kehendaknya, kilasan-kilasan gambaran masa lalu mulai berkelebat secara bening dan meyakinkan.

Seorang wanita bernama Lastina berdandan di muka cermin. Malam hari dia berjalan di kaki lima mengenakan pakaian seronok, melambaikan tangan pada setiap kereta kuda yang lewat, sampai salah satu berhenti dan membawanya pergi... Sekilas nampak Lastina digauli seorang pria... Lastina hamil, gagal menggugurkan kandungan, merayu seorang preman jalanan untuk minta dinikahi... Lastina menikah dengan preman itu... Si preman kaget setelah tahu Lastina hamil... Si preman meninggalkan Lastina begitu saja... Lastina melahirkan anaknya... Dan diberi nama Monsera.

*

“Ini pasti salah! Tak mungkin ibuku seorang pelacur!” Monsera berteriak dalam hati sambil membuang foto-foto di tangannya. Perasaannya terguncang hebat, merasa begitu takut kalau pandangannya benar belaka. “Katakanlah padaku, ya, Tuhan, bahwa pandanganku kali ini keliru.”

Namun jawaban dari Tuhan dalam bentuk apa pun tak pernah diterimanya. Dan tetap saja setiap ia melihat foto ibunya, gambaran masa lalu yang kelam itu kembali bekerjap-kerjap. Bahkan kian lama kian benderang sekaligus menjijikkan.

Sampai akhirnya Monsera tak kuat bertahan dan memohon lagi kepada Tuhan. “Aku sungguh bersyukur Engkau telah memberiku rezeki yang melimpah, ya, Tuhan, tapi sekarang tolong bebaskan aku dari keahlianku melihat masa lalu, dan kembalikan aku sebagai manusia biasa.”

Setelah sehari, dua hari, seminggu, sebulan Monsera terus berdoa dan berdoa, kemampuan supranaturalnya tak kunjung menghilang. Ia mulai tak sabar dan terucaplah ancaman seperti yang dulu pernah dilakukannya. “Kalau Kau tak juga mengabulkan doaku, ya, Tuhan, aku akan segera meninggalkan-Mu.”

Kali ini ia merasa ancamannya pada Tuhan sama sekali tak mempan. Sedikitpun tidak ada perubahan terjadi dalam dirinya. Lama-lama Monsera berpikir, jangan-jangan dengan ancamannya yang pertama dulu Tuhan marah dan lebih dulu meninggalkannya. Kalau memang begitu, segala mukjizat yang diterimanya selama ini bisa jadi bukan anugerah dari Tuhan, melainkan pemberian dari setan.

Maka Monsera pun berkata, “Hai, setan! Jangan kau siksa aku dengan pemberianmu yang justru membuatku menderita. Kembalikanlah aku seperti manusia biasa! Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan kembali mengabdi pada Tuhan!”

Seketika hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, orang-orang menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mati suri. Mereka berebut membawa Monsera ke rumah sakit terbaik. Pemerintah pusat menginstruksikan Departemen Kesehatan agar mengerahkan semua dokter ahli di seluruh negeri untuk menyelamatkan aset negara berupa manusia bernama Monsera ini.

Tak lebih dari sebulan Monsera tersadar dari mati surinya. Yang pertama dia lihat adalah seorang perawat jaga bernama Datim yang berwajah sedih. Monsera mengajaknya berkenalan dan bertanya kenapa Datim nampak sangat bersedih.

“Suami saya memohon izin pada saya untuk menikah lagi karena setelah delapan tahun menikah saya tak bisa memberinya anak,” jawab Datim.

Monsera terdiam menatap Datim. Tiba-tiba, di luar kehendaknya, kilasan-kilasan adegan berkelebatan seperti biasa dia alami. Kali ini ia melihat Datim muntah-muntah di kamar mandi, lalu bicara dengan dokter yang mengucap selamat atas kehamilannya.

“Kenapa Tuan Monsera menatap saya seperti itu?”

“Aku lihat engkau hamil, Datim.”

“Ah. Tuan pandai menyenang-nyenangkan perasaan wanita. Kalau dalam benak Tuan terbayang di masa lalu saya hamil, tentulah sekarang saya sudah melahirkan atau malah anak saya sudah besar.”

Sekonyong-konyong Monsera menjadi cemas. “Jangan-jangan...”

“Jangan-jangan apa, Tuan Monsera?”

“Jangan-jangan aku melihat sesuatu yang belum terjadi.”

Ternyata benar! Seminggu setelah itu Datim muntah-muntah, pergi ke dokter dan dinyatakan hamil. Datim sangat gembira dan menceritakannya pada semua orang. Dalam tempo singkat seluruh warga negeri Kalyana tahu, bahwa sekarang Monsera bukan cuma bisa melihat kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga kejadian yang belum terjadi di masa yang akan datang, hanya dengan menatap wajah orang yang akan mengalaminya. Maka berbondong-bondonglah orang mendatangi Monsera, menanyakan masa depan pekerjaan mereka, jabatan, jodoh, vonis hakim, nomor undian, dan segala sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan oleh yang bersangkutan. Dan belakangan terbukti, bahwa yang dilihat secara maya oleh Monsera semuanya benar-benar terjadi!

Monsera kewalahan menampung imbalan berupa uang berjuta-juta, emas berkilo-kilo maupun berlian berkarat-karat, sampai ia sendiri tak sempat menghitung, apalagi menikmatinya. Sampai suatu saat ia merasa sangat lelah dan menyempatkan diri beristirahat sesaat, membasih muka di wastafel, dan menatap wajahnya di cermin. Monsera pun tertegun. Tak lama kemudian muncul kilasan-kilasan kejadian sebagaimana selalu terjadi setiap ia menatap wajah seseorang...

Kali ini yang nampak ialah seorang lelaki kaya raya berwajah letih yang merasa bosan dengan kekayaannya, menyamar sebagai rakyat bersahaja dan lari dari rumahnya sendiri di malam yang sunyi. Sekelompok penjahat mencegatnya, menodongkan senjata mereka ke tubuh laki-laki ini dan menghardiknya keras.

“Serahkan semua uangmu!”

“Saya tidak bawa uang sesen pun. Semua saya tinggal di rumah. Ambillah sesuka kalian kalau kalian mau.”

“Jangan main-main! Serahkan uangmu sekarang juga!”

Laki-laki ini mengulangi jawaban yang sama, hingga para penodongnya marah dan menghunjamkan senjata mereka berkali-kali ke tubuhnya.

“Tidaaaak!” Monsera berteriak. “Aku tidak mau mati dengan cara begituuu!!!”

Tapi kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa.*

Jakarta, 29 Maret 2001

2008/09/17

Lions for Lambs


Setelah menyaksikan Spy Game, saya mulai menyukai Robert Redford. Di Spy Game, ia bermain begitu smart. Beradu akting secara brilliant dengan Brad Pitt. Spy Game adalah film dengan skenario yang rapi dan ya.. saya belajar banyak tentang birokrasi dan keunggulan manusia atas sistem yang diciptakannya. Good movie, saya menontonnya beberapa kali.
Jadi ketika Redford sekali lagi menghadirkan Lions for Lambs, ini adalah hadiah yang saya siapkan buat diri saya sendiri. Saya pun tenggelam dalam film bertutur yang saya akui tak se-entertain Spy Game. But this movie - if you think deeper - is great!
Tidak terlalu entertain dan terkesan lamban bercerita: tapi jika kita perhatikan detail adegan-adegannya: banyak wisdom yang kita bisa ambil tentang kegagalan Amerika memerangi terorisme dan bagaimana anak muda, profesor, wartawati dan politisi negeri 'polisi dunia' itu berusaha keras untuk menemukan jati diri mereka dan melepaskan diri dari hegemoni propaganda pemerintah yang absurd.
Saya tak hendak berbicara mengenai bintangnya, di mana Tom Cruise (salah satu aktor favorit saya) juga ikut berperan di situ. Bukan, bukan itu. Tapi dengarkanlah dengan hati percakapan seorang profesor dengan mahasiswanya. Percakapan seorang senator dengan wartawati senior. Percakapan dua orang tentara Amerika yang ingin mengabdi pada negaranya tapi harus mati karena pemerintah mengirimnya ke tempat yang tak jelas keamanannya.
Ya, akan ada satu jaman saat singa-singa yang perkasa dipimpin oleh domba-domba yang bodoh tapi berkuasa. Beberapa orang cerdas Amerika - salah satunya Robert Redford - percaya saat inilah waktunya. Domba-domba dalam pemerintahan Bush telah membunuh ribuan singa Amerika dalam kebodohan yang utuh. Untuk memenangkan perang yang tanpa alasan, bahkan dengan alasan yang paling keliru.
Lions for Lambs: mari kita bercermin, mumpung sebentar lagi pemilu. Jangan sampai kebodohan Amerika terulang di sini. Indonesia adalah bangsa yang cerdas yang tak pantas dipimpin domba. Indonesia bisa lebih baik dari Amerika, meskipun tidak dalam bentuk kekuatan bersenjata atau ekonomi.
Bangsa kita punya hati bersih dan otak jenius, jika saja kita percaya. Dan para pemimpinnya adalah puncak dari kebersihan hati dan kejeniusan otak itu. Jika tak ada partai yang bersih dan cerdas, sebaiknya tak usah memilih. Ini adalah tindakan kecil yang kita bisa lakukan untuk tak mengulang kesalahan: setidaknya kita telah bertindak, tak sekedar membebek.
Indonesia bisa maju jika rakyatnya mempunyai sikap, prinsip dan kemandirian dalam bertindak. Dalam memilih untuk masa depannya. Dan bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya itu.
Kitalah singa-singa yang perkasa - yang seperti dikatakan sang Profesor Malley (diperankan oleh Robert Redford) - tak pantas dipimpin oleh domba-domba.

2008/03/13

Virus Ayat-ayat Cinta



Saya belum baca bukunya, tapi sudah nonton filmnya. Nice movie, sebuah upaya menunjukkan Islam yang manusiawi. Upaya untuk mem-branding Islam dengan cara yang cerdas dan soft. Kerja keras Hanung Bramantyo dan tim produksi Ayat-ayat Cinta untuk bermain di ranah abu-abu menyangkut pemahaman dan komunikasi nilai-nilai Islam yang universal patut diacungi jempol. Bagaimana di film ini digambarkan konsep Islam yang sempurna seringkali ditutupi oleh umatnya sendiri yang - mau gimana lagi - toh hanya manusia biasa.
Hmm, dasarnya memang novel Ayat-ayat Cinta sudah kuat konsep ceritanya - ini pendapat dari orang yang belum membaca - terlihat pada alur dalam filmnya yang begitu terjaga. Yang menarik, poligami ditampilkan dalam wajah yang 'lain'. Saat bukan sang suami yang menginginkan poligami tapi justru istrinya. Inipun bisa kontraversi dan bikin LSM wanita mencak-mencak: tapi inilah opsi dan pendapat yang harus juga dihargai. Meskipun saya bisa memahami alasan mengapa poligami bisa terjadi, toh itu tak mengubah pendapat saya bahwa poligami lebih baik tidak dilakukan untuk menjaga hati wanita yang kita cintai sekaligus hati kita sendiri.
Juga ada adegan ciuman di bibir sepersekian detik yang mungkin bisa dibilang vulgar jika menyangkut Islam, meskipun - di film ini - dilakukan oleh suami istri. Mmm... tapi inilah resiko yang menurut saya memang layak ditempuh, karena jika Islam digambarkan terlalu suci orang justru akan ogah menontonnya. Kalo mau mendapat materi dakwah - yang belum tentu entertain - ya mending ikut pengajian di mesjid aja yang jelas halalnya. Karena tanpa aspek entertain yang mengantarkan pesan Islam sehingga masuk di hati tanpa terasa dicekoki: dakwah bakal hambar, sepert sayur yang hanya dikasih garam. Bumbunya ketinggalan.
Ada sih sedikit catatan: poster film ini cenderung biasa-biasa saja seperti film yang lain, sayang sebetulnya karena banyak hal bisa digali sebagai bahasa visual yang unik dan menarik menyangkut tokoh maupun setting Mesir dan keindahannya.
Setelah Naga Bonar Jadi 2, mungkin ini film Indonesia yang masuk dalam perhatian khusus saya. Saya berharap akan ada lagi film seserius ini yang masuk daftar wajib tonton. Saya sedang menunggu Laskar Pelangi: satu lagi film yang berangkat dari novel sukses.
Semoga negeri ini makin kaya dengan film yang mendewasakan mental dan membangun karakter, tak sekedar banjir sinetron yang mendidik bangsa kita untuk konsumtif dan memenuhi hidupnya dengan mengkonsumsi sampah batin tiap hari...

2008/02/12

Hasil Polling Isi Buku


Ini sekedar catatan aja: saya belajar mendengarkan. Apa yang terbaca, terlihat, tersurat dan tersirat atas setiap masukan, komentar dan saran-saran dari orang lain atas apa yang kita lakukan adalah cermin yang terindah. Betapapun tak selalu harus membuat kita terlena dan mengikutinya semata. Yang terpenting adalah apa yang genuine ada dalam diri kita: sebuah tujuan tertingi yang telah kita tetapkan untuk dicapai. Dan selebihnya, biarlah alam semesta yang membantu kita dengan kehebatannya.
Terima kasih buat teman-teman yang telah meluangkan waktunya mengisi polling ini: saya berhutang buku ini segera hadir di hadapan Anda semua. Menjadi teman untuk selalu bergerak kreatif dan selalu bergairah menyongsong masa depan. Untuk sementara, ijinkan saya menepi untuk menyelesaikan buku ini, mengakrabi sepi yang menyibukkan. sekali lagi tabik. Hmmm.. seribu terima kasih takkan cukup atas kebaikan yang saya terima. seribu satu deh ;)

2008/01/18

Mana Cover Favoritmu?


Cover 1


Cover 2


Cover 3


Cover 4


Cover 5

2007/12/18

Tentang Polling Itu


Akhirnya, 123 suara memberikan pendapatnya di polling sederhana hasil coba-coba fasilitas baru blogger. Jumlah korespondennya mungkin tak cukup untuk menjadikan polling ini valid, tapi saya ingin mengambil sisi positifnya: setruman semangat karena 55% koresponden menginginkan ada buku lahir dari 'blog latihan' ini yang lahirnya karena dikompori Pak Eko dan gara-gara ada heboh blogger Jogja ditangkap polisi dulu itu. Sekarang ia jadi teman baik saya (mungkin karena saya bukan polisi). Bukannya saya ingin ikut-ikutan ditangkap polisi, karena emang udah pernah (saat razia SIM atau helm standar), tapi saya merasa bahwa blog is so powerfull.
Dan kenyataan bahwa 45% masih ragu-ragu, merasa belum saatnya bahkan menolak menunjukkan bahwa saya masih harus banyak belajar lagi: masih banyak bolong dan kekurangan yang mesti diperbaiki jika ingin jadi lebih baik dan terus maju. Percayalah saya tak akan lelah untuk terus merasa lapar dan bodoh.
Btw, terima kasih untuk teman-teman baik yang telah memberikan suaranya, saya mungkin tak tahu Anda satu persatu tapi yakinlah bahwa di hati saya kebaikan Anda telah ter-record dengan harddisk emas (dulu sih tinta emas), he he he... :)


2007/09/27

The Godfather


Selama 2 hari berturut-turut menjelang sahur, saya memenuhi impian lama: menikmati film Godfather Part I, II, III. Total 9 CD. Impian yang berawal dari pertanyaan sederhana: saat semua orang membicarakan film lama ini dan begitu banyak bintang besar plus sutradara sekelas Francis Ford Coppola ada di dalamnya, pastilah ini bukan film biasa. Dan heii, saya belum menontonnya. Yang kedua, saya sedang mencari satu model pembelajaran tentang kepemimpinan.

Setelah hampir berbulan-bulan pencarian tanpa hasil, malam itu di sebuah rental di saya menemukannya, lengkap 3 seri. Dan kuliahpun dimulai: start jam 12 malam sampai pagi tiba, 2 hari lamanya. Dan Thank God: film ini secara utuh mampu memberi deskripsi tentang warna-warni perjalanan hidup anak manusia dari lahir, tumbuh dewasa, sampai maut menjemput. Dengan karakter yang kuat dari para pemerannya serta skenario dan plot yang begitu natural: rasanya inilah film terbaik yang pernah saya tonton seumur hidup saya.

Ok deh, mungkin saya berlebih-lebihan, tapi saya belajar jauh lebih banyak dengan menghabiskan sekitar 9 jam menonton Godfather ketimbang seluruh waktu sekolah formal saya (17 tahun) belajar tentang Pendidikan Moral Pancasila. Dalam kekejaman mafia dan aroma darah muncrat, keindahan terbangun tanpa harus pusing memikirkan apakah ini baik atau jahat, benar atau salah.

Seperti penari yang begitu menghayati musik pengiringnya, Vito Corleone (Robert de Niro, Marlon Brando), Michael Corleone (Al Pacino) dan Vincent Corleone (Andy Garcia) menghipnotis saya: bergerak perlahan, menghardik, membidik (atau dibidik), mengorganisasikan pasukan (manajemen), merencanakan pembunuhan (planning), negosiasi, berlari dalam desing peluru, menghadapi konflik internal, pengkhianatan, kekejaman, jaringan (networking), menyumbang kemanusiaan, menolong yang papa, menjadi teman dekat Paus Johanes Paulus, berdialog dengan maut.

Inilah kitab manajemen terlengkap: semua sisi dikupas, ditelanjangi, dihancurleburkan. Apakah seorang Godfather mampu meraih kebahagiaan dalam hidupnya yang penuh ancaman (mengancam atau diancam), saat setiap detik maut mengintai di sela makan malam yang mahal diiring tawa dan canda ria anak-anak kecil di sekelilingnya. Tak mudah hidup dengan kuasa yang nyaris mutlak, setiap orang pasti berminat mencabut nyawa si empunya. Nikmat yang fana dan pengorbanan yang sia-sia.

Dan akhirnya, memang bukan kebahagiaan yang sedang dikejar. Tapi ambisi, demi keluarga, demi kehormatan dan ironisnya: juga demi Tuhan. Tuhan rasanya tak campur tangan dalam kehidupan indah berbalut kekejaman ala mafia: seperti Andrea Hirata saat mengatakan Tuhan tahu tapi menunggu.

Di akhir film Godfather III, di ujung VCD yang ke-9 Tuhanpun hadir: tampak longshot Michael Corleone duduk di kursi dalam umurnya yang sangat senja, mungkin lebih dari 80 tahun ditemani seekor anjing kecil yang mengais-ngais di antara kursinya. Ia senantiasa selamat dari beberapa rencana pembunuhan oleh musuh-musuhnya. Lalu kepalanya tertunduk, tubuhnya pelan-pelan merosot, kakinya tertekuk. Kursi yang tak imbangpun rubuh. Tanah menerima tubuhnya dengan sedikit gerakan debu, tak dahsyat seperti film silat Indonesia dengan debu dari bahan tepung. Tanpa suara. Anjing kecilnya sedikit terkejut lalu kembali mengais. Seolah tak terjadi apa-apa.

Sang pensiunan Godfatherpun mati sendirian, bukan oleh pelor lawan-lawannya. Tanpa kuasa, ia bukan apa-apa kecuali seonggok tubuh ringkih berdebu. Lalu dimana bahagia? Lalu dimana Tuhan? Lalu dimana keadilan buat korban-korbannya? Lalu dimana hukum baik buruk berlaku?

Pertanyaan ini memenuhi kepala saya saat kamera makin menjauh: mayat tokoh mafia terbesar di dunia mulai samar diselimuti debu, angin yang berhembus, anjing yang tak peduli, kursi rubuh dan bangunan berbatu yang sunyi: semua nampak sama, hanya kumpulan benda-benda.

Dari jendela ruangan saya, matahari pagi mulai mengintip: membawa hangat di dada. Sebuah akhir proses kuliah yang nyaris sempurna, yang celakanya juga tak terjawab semua... tanya itu masih menggantung. Sayapun beranjak, membuka pintu dan tersenyum. Yang terbaik hari ini, tentulah tak abadi. Atas kuasa Tuhan, akan selalu hadir yang lebih baik lagi esok hari.

Tuhan tahu apa saja yang akan kita capai di akhir hidup kita, tapi Dia menunggu. Dia membebaskan kita untuk mencari tahu seolah hidup yang kita jalani tak pernah usai. Dia menunggu saat akhir hidup kita, untuk memberikan pesan pada yang masih tinggal: bahwa proses belajar selalu berulang dan tak pernah usai...

2007/07/23

Never Ending Journey



Saat ini saya sedang membaca sebuah buku yang sangat inspiratif. Untuk belajar bagaimana membangun perusahaan, biasanya saya memilih buku-buku dengan penulis para praktisi bukan akademis. Lebih dekat, tidak mengawang. Tidak berbelit-belit alias teori doang. Buku ini pas banget dengan sudut pandang saya: ringkas, tanpa tedeng aling-aling, langsung bercermin pada realitas.

Judulnya: Never Ending Journey, tentang seorang entrepreneur bernama Buntoro yang awalnya jatuh bangun membesarkan perusahaannya PT. Mega Andalan Kalasan. Pada tahun 2004 perusahaan ini tercatat sebagai urutan 2 dalam Enterprise 50 (untuk perusahaan omzet di atas 10 milliar) pilihan Majalah Swa. Sebuah prestasi yang membanggakan, terutama karena sekitar tahun 1987 badai menerpa usaha awal mereka yang memproduksi bumper mobil.

Badai – yang jika tidak dihadapi dengan keras hati – akan meniadakan perjalanan ke tahap berikutnya. Badai yang cukup untuk menutup sebuah usaha. Mengubur mimpi dan masa depan. Badai yang akan membuat ciut nyali setiap pengusaha, tapi tidak mampu menghentikan Buntoro untuk terus melangkah.

Industri awal berupa bumper mobil yang sedang laris-larisnya, mendadak terjun bebas ketika ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) otomotif nasional mengeluarkan produk mobil yang full pressed body dengan bumper yang melekat langsung.

Tidak mudah menyelamatkan perusahaan dari titik minus, ketika hutang lebih besar dari piutang bahkan lebih besar dari aset. Bersama Hendy Rianto, Buntoropun menyiapkan usaha penyelamatan. Alasannya sederhana: harus ada yang bertanggung jawab. Buntoro bahkan bersedia melepaskan saham kepemilikan kepada pihak ketiga. Beberapa calon investor sempat datang ke Kalasan, tapi deal tak pernah terjadi. Besarnya permasalahan membuat mereka mundur teratur.

Tapi putus asa bukan pilihan, berawal dari kesediaan mengerjakan apa saja asal bisa hidup, pikiran Buntoro sampai pada pilihan memproduksi peralatan rumah sakit (hospital equipment). Berawal dari tempat tidur, tempat tidur operasi sampai kursi roda. Lalu bagaikan bola salju yang bergulir: orderpun datang dari rumah sakit kecil sampai rumah sakit besar yang mencapai ratusan pesanan. Cash flow mulai bergerak positif.

Dari sekedar bengkel biasa, pola operasional produksipun mengarah ke industrialisasi uantuk menyesuaikan diri dengan tuntutan konsumen. Dan berikutnya, perusahaan sekarat inipun mulai bisa tersenyum dan bahkan siap ngebut di jalan tol industri.

Dan lahirlah Prambanan Technopark: sebuah kawasan industri seluas 4.968 m2 di daerah Prambanan yang merupakan obsesi berikutnya dari seorang Buntoro yang mulai meningkatkan kemampuannya dengan memproduksi mesin, bahkan sedang berancang-ancang masuk industri otomotif. Masa gelap telah berganti, meskipun Buntoro menikmatinya dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Dalam hidup ini tak ada makan siang gratis. Kesuksesan tak akan langgeng, keculai kita selalu waspada. Only the paranoid survive, kata Andy Groove (mantan CEO Intel).

Buku setebal 200 halaman yang ditulis Teguh Sri Pambudi (Redaktur Majalah SWA) ini menjelaskan detail bagaimana melaksanakan upaya penyelamatan, dari recovery sampai melakukan turnover mengubah titik minus menjadi surplus. Bisnis yang dibangun dengan kemandirian selalu menarik dijadikan cerita, juga pelajaran bagaimana menjalani hidup dengan besar hati, tak mudah patah arang.

Buntoro dan seluruh keluarga besar PT. Mega Andalan Kalasan telah membuktikan itu. Mereka sedang menantang diri untuk menuju milestone berikutnya. Akankah mereka meraih kesuksesan yang lebih besar lagi? Demi kemajuan industri Indonesia yang masih terpuruk saat mobil Proton
bikinan Malaysia justru mulai merambah Asia, tentu kita layak berharap pada sosok tangguh seperti Buntoro.

Cerita tentang kesuksesan PT. Mega Andalan Kalasan ini bukanlah akhir, tapi hanyalah akhir dari sebuah permulaan. Buku inipun dilabeli Vol 1, artinya akan ada volume berikutnya.

Saya akhiri review singkat ini dengan mengutip Paulo Coelho di buku Alkemis: ketika kita menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, seluruh alam semesta akan membantu mewujudkannya.

2007/07/22

Tekyan: Balada Anak Jalanan



Yudi Sulistya dan M. Arief Budiman
Balai Pustaka, Cetakan I, 2000





Menggabungkan antara realitas, seni grafis/gambar dan sastra memang bukan hal yang mudah, tapi setidaknya komik bisa menjembatani pertemuan antara seni gambar dan sastra yang berpijak pada suatu realitas sosial. Apa yang coba dilakukan Arief Budiman dan Yudi Sulistya dalam karya komiknya memang patut kita hargai. Mengingat saat ini posisi komik sangat terpinggirkan dan dicap sebagai sesuatu yang tidak serius. Sangat berbeda dengan media kesenian lain seperti film, sastra atau seni lukis.

Membaca komik Tekyan yang merupakan salah satu pemenang sayembara komik Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan Nasional tahun 1997/1998, kita disuguhi sebuah potret sosial yang sangat dekat dengan lingkungan kita sehari-hari yaitu tekyan atau anak jalanan. Kehidupan kaum terpinggirkan yang menjadi latar cerita komik ini memang bukan hal yang baru, Garin Nugroho pun pernah mengangkatnya dalam film Daun di Atas Bantal. Namun demikian tema-tema kritik sosial memang bukan tema mainstream di pasaran komik. Melihat pasar komik Indonesia komik-komik yang menjadi top of mind pembaca anak-anak dan remaja seperti Dragon Ball, Conan the Detective, Sailor Moon dll, yang laku keras di pasaran jelas akan sulit untuk digeser oleh komik-komik lokal kita. Boleh jadi komik seperti Tekyan hanya bisa menjadi pilihan komik alternatif dari sisi cerita maupun grafis, yang saat ini didominasi gaya komik Jepang (manga) dan Amerika (Marvel, DC atau Image comics).

Dari sisi cerita, komik ini sebetulnya sangat realis, kisah dua tekyan yang bersahabat, Hamid dan Sarwan digambarkan sebagai anak-anak yang harus menghadapi kerasnya hidup di jalanan. Tokoh sentral komik ini adalah Hamid, anak Kyai yang minggat dari rumah dan bersama Sarwan hidup bersama di jalanan. Karakter Hamid seolah mewakili nilai-nilai kebaikan, meski jadi anak jalanan tidak lupa sholat dan tidak mau mencuri, sangat berbeda dengan Sarwan yang jago mencopet. Kebenaran menjadi relatif, ketika mereka tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup, Sarwan harus mencuri demi membiayai sahabatnya, Hamid yang terluka akibat digebuki polsus.

Kegelisahan terhadap nasib dan ketidakadilan yang dialami para tekyan sering terlontar dalam dialog-dialog antara Hamid dan Sarwan. Hamid yang alim sering dimaki oleh Sarwan, seperti saat mereka berdebat soal uang hasil copetan. "Halal haram itu urusan kyai, bukan tekyan macam kita..." Barangkali sebuah protes terhadap ketertindasan yang harus mereka alami.


Perjalanan dua sahabat ini harus berakhir ketika Sarwan tertangkap oleh petugas. Dengan bantuan Jatmiko, seorang aktifis mahasiswa yang peduli pada mereka, Sarwan dapat ditemukan di sel polisi dalam keadaan babak belur. Akhirnya, Sarwan harus berurusan dengan polisi sementara Hamid dengan uang hasil copetan Sarwan mendaftar ke pesantren.

Alur cerita komik ini sebenarnya biasa saja, tapi cukup enak untuk diikuti. Nilai-nilai ideal yang diwakili oleh Hamid bisa jadi tak seideal kenyataan sebenarnya yang dialami para tekyan. Hidup di jalanan tanpa bimbingan keluarga, bagi anak-anak adalah sebuah mimpi buruk. Karena komik ini adalah hasil sayembara yang diselenggarakan Departeman Pendidikan, kita masih bisa melihat pesan-pesan moral melalui Hamid si anak Kyai yang jadi tekyan. Sementara dari sisi grafis, komik ini cukup bisa menggambarkan suasana, perpindahan adegan antar panel dan sudut pandang yang diambil tidak membosankan. Kejenakaan justru muncul dari olahan grafisnya yang sangat komikal, misalnya sisipan adegan demonstrasi mahasiswa dan ekspresi aparat keamanan saat menghadapi demonstran, atau adegan cicak jatuh di awal cerita sebagai prolog cukup menggelitik. Tanpa olahan grafis yang menarik mungkin komik ini bisa jadi komik drama yang serius dan biasa-biasa saja.

Lepas dari semua itu, mengerjakan sebuah komik memang dibutuhkan kreatifitas, keseriusan dan stamina yang kuat untuk mengolah ide menjadi komik yang menarik.

Ditulis oleh Agung Arif Budiman, Editor Komikaze99.com

2007/06/21

Jangan Membaca Tulisan Ini Karena Sangat Rahasia

Review Buku The Secret (Terjemahan) Terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama
Size: 17 x 13,5 cm, tebal buku 232 halaman




Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda ditarik oleh Anda sendiri.
Dan segala sesuatu itu tertarik oleh apa yang Anda pikirkan.
Apapun yang Anda pikirkan akan menariknya ke diri Anda.


- Bob Proctor, Filsuf, Pengarang dan Pembimbing Pribadi -

Entah apa yang Anda pikirkan sebelum ini, kekuatan semesta telah menarik dan menggerakkan Anda membaca tulisan ini, untuk sebuah alasan. Karena majalah inipun telah mencetak tulisan ini, dengan sebuah alasan. Sayapun menulisnya, juga dengan sebuah alasan.

Faktanya, ada banyak kemungkinan Anda dan saya tidak bertemu lewat tulisan ini. Misalnya: mengapa Anda pilih majalah ini, sementara tersedia banyak majalah lainnya? Mengapa Anda membaca tulisan ini sementara ada banyak tulisan lain di majalah ini yang mungkin lebih menarik? Apalagi saya sudah melarang Anda membacanya, mengapa Anda terus membaca? Atau mengapa saya yang dipilih untuk me-review Buku The Secret tulisan Rhonda Byrne ini dan bukannya Pak Tung Desem Waringin yang sebentar lagi bikin seminar ‘The Great Secret’ yang mengupas buku ini? Atau penulis motivator lainnya? Lha saya ini siapa kok berani-beraninya menulis disini? Biasanya Anda akan bilang: ah, ini kan kebetulan Mas. Ini semua nggak sengaja kok.

Saya akan teruskan cerita saya.

Suatu hari Mbak Greti dari Gramedia – saya dan Mbak Greti belum kenal sebelumnya - sms saya,”Halo Mas Arief. Waktu Seminar 1001 Inspirations, Mas Arief menyebut2 buku The Secret. Kebetulan Gramedia menerbitkan terjemahannya. Apakah Mas Arief berminat menulis review buku itu untuk dimuat di majalah kami?

Tentu saja saya kaget ketika sms saya baca, karena tangan satunya sedang pegang buku The Secret terjemahan Gramedia yang saya baca untuk kali kedua. Lebih kaget lagi karena ternyata ada yang inget saya menyebut The Secret di seminar itu, wong saya cuma iseng menyebutnya sekali dan The Secret tidak ada dalam materi presentasi saya.

Persisnya yang saya katakan di seminar itu adalah: kita akan mengundang apa yang kita yakini. Ini namanya hukum ketertarikan. Kalau kita percaya rakyat Indonesia bodoh dan terus bikin iklan yang membodohi, maka makin bodohlah kita semua. Tapi kalo kita yakin rakyat Indonesia cerdas dan bikin iklan yang mencerdaskan, maka makin banyaklah orang cerdas tumbuh di Indonesia. Tiba-tiba Anda akan ketemu lebih banyak orang Indonesia yang cerdas. Bacalah buku The Secret, maka Anda akan percaya.

Tapi saya tahu ini bukan kebetulan atau ketidaksengajaan. Dan di buku The Secret, Anda akan belajar ilmunya.

The Secret adalah jawaban bagi semua yang pernah ada,
yang sekarang ada dan yang akan ada di masa mendatang.


- Ralph Waldo Emmerson -

Ini salah satu buku luar biasa yang menurut saya mampu menjelaskan fenomena hukum ketertarikan (law of attraction) dengan begitu sederhana dan menakjubkan. Anda yang biasa membaca buku self help, motivasi atau how to akan merasakan spirit yang berbeda karena buku ini hadir untuk memenuhi visi luar biasa penulisnya untuk membagikan rahasia terbesar kehidupan ke lebih banyak manusia. Rahasia yang selama berabad-abad hanya diketahui oleh Plato, Shakespeare, Newton, Beethoven, Lincoln, Edison, Einstein, dan tokoh besar yang mempengaruhi dunia lainnya. Visi yang sama telah membuat beberapa tokoh dunia yang masih hidup saat ini mencapai kesuksesan luar biasa. Rhonda Byrne pun mencari tokoh-tokoh ini untuk memberikan testimoni, tersebutlah: Jack Canfield, Bob Doyle, Dr. John Gray, Bob Proctor, Dr. Joe Vitale, Marrie Diamond, John Assaraf, dll.

Buku The Secret ‘Mukjizat Berpikir Positif’ berukuran 17 x 13,5 cm dengan tebal 232 halaman ini dibungkus desain kover yang indah bernuansa manuskrip kuno kecoklatan dengan logo The Secret yang sangat artistik. Selain buku ini, Rhonda Byrne juga menerbitkan DVD The Secret dan Audio Book-nya yang luar biasa.

Dibagi dalam 10 bab, buku ini akan menyingkap Rahasia Uang, Rahasia Relasi, Rahasia Kesehatan, Rahasia Dunia, Rahasia Anda dan Rahasia Kehidupan. Kutipan kata-kata dan pengalaman nyata tokoh-tokoh dari masa lalu maupun masa kini bertebaran di buku ini, memberikan kesaksian tentang keajaiban The Secret serta bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah difahami bahkanpun oleh Anda yang pertama kali membaca buku inspirasional sejenis.

Segala sesuatu yang Anda inginkan - kegembiraan, cinta, kelimpahan, kemakmuran, kebahagiaan - ada di sana, siap untuk Anda raih. Anda hanya perlu niat yang kuat. Dan ketika Anda berniat sangat kuat serta bersemangat untuk apa yang Anda inginkan, semesta akan mengirim setiap hal yang Anda inginkan.

- Lisa Nichols, Penasehat Pemberdayaan Pribadi -


Beberapa bulan terakhir, saya mencoba menggunakan pemahaman saya tentang The Secret untuk hal-hal kecil di sekitar saya. Saya membuat Reality Card Series yang berupa kartu-kartu seukuran kartu nama berisi daftar impian saya dan saya taruh di dompet sehingga saat waktu luang saya bisa selalu melihatnya. Proses visualisasi ini meningkatkan kepercayaan saya bahwa hukum ketertarikan sedang bekerja mewujudkan impian saya.

Salah satu kartu bertuliskan: setiap saya lewat, jalanan selalu kosong dan lampu lalu lintas selalu hijau.

Saya tahu saya tidak sendirian ketika mengharapkan jalanan tidak macet dan lampu lalu lintas selalu hijau. Apalagi Anda yang berada di pusat kota, apalagi di Jakarta. Saya mencatatnya dengan statistik sederhana. Hasilnya: baik di Jogja, Solo, Jakarta maupun Palembang saya telah melewati lebih dari 200 lampu lalu lintas dan rata-rata lebih dari 90% sedang menyala hijau alias jalan terus.

Satu lagi untuk mengakhiri tulisan ini, saya pernah diberitahu teman saya bahwa dari Ciganjur ke Bandara Soekarno Hatta – saat itu Rabu pagi jam 07.00 - makan waktu tempuh lebih dari 2 jam, karena jauh dan karena macet akibat jam sibuk masuk kantor. Pesawat saya take off ke Jogja jam 09.30 dan artinya kemungkinan besar saya terlambat. Tapi atas kuasa Allah, saya menempuhnya dalam 1 jam 30 menit, termasuk ganti ban taxi yang bocor sekitar 15 menit dan nunggu bis bandara 10 menit. Di beberapa ruas jalan memang macet, tapi kendaraan yang saya naiki seolah diberi jalan di sela-sela mobil yang lain. Memahami The Secret telah membantu saya menghadapi kesulitan hidup dengan cara positif dan mengundang banyak keajaiban.

Anda bisa memulai tanpa apapun, dari ketiadaan
serta tanpa jalan karena jalan akan dibuatkan

- Michael Bernard Beckwith, Pelopor Life Visioning Process -

Keajaiban ini tidak eksklusif terjadi pada orang-orang tertentu saja. Anda – tidak peduli siapapun Anda – mempunyai hak yang sama untuk mengundang keajaiban yang Anda harapkan. Alam semesta ini penuh kelimpahan dan mampu memenuhi impian setiap anak manusia, seliar atau sebesar apapun impian itu. Dengan membaca, memahami dan menerapkan The Secret dalam kehidupan Anda, keajaiban itu akan menjelma ilmu pasti karena alam semesta akan siap sedia begitu Anda mengharapkan sesuatu terjadi. Impian Anda adalah perintah bagi semesta untuk mewujudkannya. Semesta akan menyusun ulang dirinya untuk mewujudkan impian itu ke alam nyata.

Yang perlu Anda lakukan hanya meminta, percaya dan menerima. Lebih dahsyat lagi jika Anda bersyukur dan berbagi. Keajaiban The Secret akan berlipat ganda jika Anda menggunakannya untuk membuat dunia ini menjadi tempat hidup yang lebih baik bagi banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita.

Semakin banyak kita berbagi, semakin banyak yang akan kita terima. Dan bersiaplah, keajaiban hidup biasanya datang dari arah yang tidak pernah kita sangka-sangka.

2007/03/18

300



Terlepas dari film ini menggunakan efek digital imaging yang luar biasa canggih, saya menyukai cara penggarapan adegan yang setiap detailnya diperhatikan betul aspek art-nya. Angle dan tata cahayanya juga luar biasa. Tone warnanya pun aduhai, ambillah adegan manapun untuk di-freeze: rasanya bakal kerena jadi poster. Beginilah jika ada Frank Miller, kreator komik yang menginspirasi film ini. 300 diharapkan mengikuti kesuksesan Sin City yang juga luar biasa art-nya.



Gaya bertutur yang simple, tidak njlimet, perang kolosal yang megah maupun adegan pertarungan satu lawan satu yang 'enak dipandang' walau beberapa kali dihias kepala menggelinding terlepas dari tubuhnya. Sungguh film ini mengisi battery otak kanan dan mata kita sehingga fresh kembali.



Satu kritikan, tagline film ini: Prepare for Glory menurut saya kurang inspired, gak jelek sih tapi biasa aja. But in the end, saya sepakat untuk mengingat film ini dari keagungan aspek artistiknya seperti kutipan kata-kata Leonidas,"Remember us.."

2007/01/16

Review 3: Kenapa Jusuf Kalla?


Saya lihat dalam setiap polling yang dibikin oleh lembaga-lembaga polling, posisi Jusuf Kalla selalu kalah dari SBY. Tentu itu sah-sah saja, jadi kalo saya memilih disini Jusuf Kalla menang tentu karena tidak saya polling. Pak JK menurut saya memberikan sumbangan berharga bagi negeri ini karena tindakannya yang cepat, non protokoler, tidak basa-basi dan taktis. Sifat positif yang - maaf - sangat 'tidak Indonesia'.

Tentu JK banyak kelemahannya, termasuk dalam hubungannya dengan janji 30 jt bagi korban gempa Jogja beberapa waktu lalu. Tapi saya melihat, kita ini memang paling seneng cari kesalahan orang. Kita tidak terbiasa melihat sisi positifnya. Hidup akan makin seret kalo kita tidak lapang dada dan mau menerima bahwa para pemimpin - berkumis maupun tidak - itu juga manusia yang tidak sempurna.

Dari sini mungkin akan mulai tumbuh empati dan saling mendukung, bukan saling menyalahkan dan balas membalas kritik ala Hariman vs SBY. JK juga sering sembarangan bicaranya, tapi biar saja. Itu style dia, seperti kita juga sering terima bahwa Gus Dur adalah tokoh penuh gaya. Termasuk pilihan saya ini, jika bertentangan dengan pilihan Anda para pembaca yang saya sangat sayangi: maafkanlah.. Dan tumbuhlah dewasa dalam penghormatan terhadap perbedaan.

Mulai dari pilihan saya kepada Ucup Kelik, eh Jusuf Kalla ini dulu...

2007/01/04

Review 2: Kenapa Ada yang Tanpa Pemenang?

Dalam Mybothsides Award 2006 ini ada 2 kategori yang tidak ada pemenangnya. Yaitu: Buku Paling Enak Dibaca dan Penyanyi/Grup Musik Terbaik Untuk Teman Mendesain. Ada seorang teman yang menanyakan lewat comment-nya. Jadi saya akan coba menjawabnya, dengan membuka sedikit rahasia.

Buku adalah teman saya yang paling penting, standar saya atas kualitas sebuah buku sebagai bahan bacaan tinggi sekali. Buku-buku terbitan Indonesia yang masuk nominasi Mencari Tuhan Yang Hilang (Ust. Yusuf Mansyur), Filosofi Kopi (Dewi Lestari), Pemimpi (Andrea Hirata), Pelatihan Sholat Khusyu' (Abu Sangkan), Inilah Presiden Radikal! (Eko Prasetyo) adalah buku yang bagus. Tapi sayangnya saya belum ketemu yang bikin saya sangat inspired. Meskipun saya menyukai cerpen Filosofi Kopi, tapi secara keseluruhan isi bukunya tidak sekuat cerpen andalannya itu. Alhasil, saya harus merelakan kategori ini tanpa pemenang. Saya akui ini karena saya egois. Apa boleh buat, book is the most important part of my live.

Tentang Penyanyi/Grup Musik Terbaik Untuk Teman Mendesain, saya mula-mula sempat bingung karena memang (Opick, Iwan Fals, Peter Pan, Jeffry Al Buchory, Kyai Kanjeng) ini adalah koleksi yang paling banyak saya bunyikan akhir-akhir ini. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, pengaruhnya tidak sedahsyat musik yang saya dengarkan sebelumnya macam Said Effendi yang beraliran melayu klasik (lagunya yang versi mp3 susah banget nyarinya) atau Lighthouse Family (sekarang malah kabarnya bubar). Saya memang mulai jarang mendesain, tapi jika mood-nya lagi dapet sering juga merebut kerjaan kreatif kayak anak kecil minta permen. Musik juga merupakan elemen penting untuk membuat saya comfort mendesain. Untuk menjaga ritme hati agar makin tune in dengan proses kreatif yang sedang saya lakukan.

Mungkin ini peluang bagus buat para musikus: bikin dunk musik asyik buat teman mendesain. Jika emang keren di telinga dan sejuk di hati, Insya Allah saya beli satu yang original deh.. Bukan yang bajakan ;)