This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi Indonesia. Tampilkan semua postingan
2011/11/18
2011/05/02
Koin untuk Masa Depan
Karena uang koin yang Anda sisihkan, anak-anak kurang mampu dapat terus bersekolah demi masa depannya.
Salurkan bantuan Anda melalui Coin Collecting Day Yogyakarta Coin A Chance!
di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin 2 Mei 2011 pukul 19.00 WIB atau ditransfer ke BRI Cab. Yogyakarta no. 0029-01-002025-53-3 a/n Alluisius Dian Hartanto.
Salurkan bantuan Anda melalui Coin Collecting Day Yogyakarta Coin A Chance!
di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin 2 Mei 2011 pukul 19.00 WIB atau ditransfer ke BRI Cab. Yogyakarta no. 0029-01-002025-53-3 a/n Alluisius Dian Hartanto.
2010/02/25
Setia Hingga Terakhir di Dalam Keyakinan
Saya tak tahu apa-apa tentang Robert Wolter Monginsidi, kecuali sekelumit cerita perjuangannya di buku PSPB saat masih sekolah dulu. Cerita kepahlawanan yang dituliskan dengan datar, tak menginspirasi anak-anak sekolah seperti saya dan teman-teman. Seperti kita semua mafhum, cerita tentang perjuangan kemerdekaan versi sekolahan adalah cerita tentang tanggal kejadian, isi perjanjian, deskripsi peristiwa lalu hafalan atas itu semua. Dan saya pun telah lama lupa.
Dan pagi ini nama itu terlintas kembali. Sebuah cerita di akhir hidup Bote (panggilan akrab Wolter Monginsidi) di sebuah situs membuat saya terpana:
Sesaat sebelum menuju ke tempat eksekusi, Wolter menjabat tangan semua yang hadir tidak ketinggalan pula regu penembak. Ia berkata,“Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa saudara-saudara.“ Dengan hati yang tegar, Wolter menghadapi moncong-moncong senjata yang dibidikkan kepadanya dan menolak ketika matanya akan ditutup, ia berucap,“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.“
Dengan pekikan,”Merdeka!!!” dari Wolter, 8 butir peluru dimuntahkan ke tubuhnya: 4 peluru di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 dipelipis kiri dan 1 di pusar dan seketika ia terkulai.
Pagi itu 5 September 1949, Wolter gugur dalam usia 24 tahun.
Dikutip dari: http://pajokka.blogspot.com/2009/08/wawancara-dengan-robert-wolter.html
Detail adegan yang menggetarkan ini tak pernah saya baca saat saya sekolah dulu. Membayangkan seorang anak muda usia 24 tahun berjalan dengan tenang menyalami orang-orang yang akan menembaknya dan memaafkan mereka: apa yang telah dipelajari Bote di usia semuda itu sehingga ia bisa menjelma malaikat di hari kematiannya?
Apa yang dilihatnya di detik terakhir hidupnya ketika delapan butir peluru meluncur dari senapan yang berasap mengoyak tubuhnya yang tegar tapi tak berdaya? Sesakit apa yang ia rasakan saat timah panas itu menderu, melubangi delapan bagian tubuhnya, membuat rohnya pamit detik itu juga menghadap-Nya?
Begitu banyak buku tentang Che Guevara yang juga mati di depan juru tembak pasukan Bolivia sehingga buku-buku dan posternya ada dimana-mana. Tapi cerita luar biasa di detik-detik kematian Bote ini lolos dari perhatian kita semua: keberanian dan ketegarannya untuk tak tunduk pada apapun selain keyakinannya.
Di usia saya yang ke-24 apa yang saya lakukan? Saya merasa sungguh kecil dan tak berarti: seseorang yang hidupnya penuh mimpi baru saja lulus kuliah dan tak pernah merasa menghadang bahaya apapun yang menakutkan saat berbicara tentang keyakinan. Hidup saya waktu itu tak ada bandingannya dengan hidup Wolter, bahkan dia telah menjadi guru bahasa Jepang saat usianya masih 18 tahun.
Siapakah pahlawan bagi saya?
Orang-orang yang tidak sempurna, yang penuh kekurangan, yang kadang berbuat naif dan konyol tapi maju terus tanpa gentar memperjuangkan apa yang diyakininya, apa yang diimpikannya. Hidupnya babak belur, jumlah kawan dan lawannya hampir sama banyaknya, bahkan seringkali harus berjuang sendiri karena dijauhi teman-teman seperjuangannya. Sampai saat tiba waktunya mereka pulang menghadap Tuhan, ribuan bahkan jutaan orang mengelu-elukan, mendoakan, menangisi, menyesali kepergiannya. Jejak kepahlawanannya tinggal di bumi saat jasadnya menyatu dengan tanah.
Dan kita ini seringkali terlambat mengenali orang-orang yang berpotensi jadi pahlawan. Kita baru sadar saat mereka pergi selama-lamanya dan tergopoh-gopoh memperingatinya ketika yang bersangkutan tinggal nama.
Dalam sebuah diskusi dengan Ibu Marie Pangestu (Menteri Perdagangan) bersama para finalis IYCEY beberapa tahun lalu saya berkata,”Bu, pemerintah lebih baik memperhatikan dan mendukung pemikiran dan kreativitas anak-anak muda sekarang, saat potensi, spirit dan energi mereka sedang dalam puncaknya. Jangan sampai kita terlambat lagi. Anak muda hebat seperti Soe Hok Gie tidak lahir dua kali, tapi hidupnya disia-siakan. Pemerintah tak peduli atau tak paham. Saat dia telah pergi barulah kita sadar betapa berharganya kesempatan ketika dia masih hidup. Tapi sudah terlambat. Kita kalah dengan ank-anak muda macam Jerry Yang, David Filo (pendiri Yahoo) atau Sergey Brin & Larry Page (pendiri Google) karena pemerintah dan orang-orang tua sukses berduit banyak itu terlalu sibuk untuk memperhatikan potensi dahsyat anak-anak muda kita.”
Saat menyampaikan masukan itu saya bersemangat sekali apalagi langsung didengarkan oleh Menteri. Saya merasa gagah sekali karena mampu menyampaikan apa yang saya yakini dan apalagi melihat Bu Menteri tersenyum dan mengangguk penuh arti.
Tapi ternyata saya memang anak muda culun, tak cukup jam terbang dan katrok dalam pengalaman. Senyum dan anggukan Bu Menteri itulah memang yang selalu dilakukannya karena dia tidak hanya bertemu saya tapi ribuan bahkan ratusan ribu lagi orang-orang yang mungkin pertanyaan dan masukannya lebih bermutu. Apa yang saya sampaikan menguap begitu acara salam-salaman selesai, keyakinan saya yang menggebu-gebu bagai monolog Togog yang didengar tapi tak dikehendaki, sumbang dan mengganggu.
Lalu datanglah hari itu – dua hari yang lalu - saat saya duduk di depan TV menyaksikan pandangan akhir Fraksi di DPR tentang Centurygate. Sejujurnya, saya tak tahu siapa yang benar dan salah dalam Centurygate ini, atau siapa yang hanya salah dan siapa yang memang jahat. Pandangan para fraksi tak menjawab dengan jelas, mereka berbicara dengan sangat meyakinkan untuk sebuah fakta yang masih abu-abu.
Ingatan atas apa yang saya sampaikan beberapa tahun lalu melintas lagi: mayoritas kita seringkali luput memotret potensi pahlawan ketika yang bersangkutan masih hidup. Tapi sesuatu di hati saya terusik saat seseorang seperti Boediono dengan track record yang – setahu saya - begitu bersih dan kapabilitas yang dihormati dunia internasional dihakimi beramai-ramai oleh anggota-anggota DPR seolah-olah ia penjahat besar yang merugikan negara dan sebaiknya disingkirkan jauh-jauh dari pemerintahan.
Logika saya mungkin telah mati saat mencoba memahami sengkarut Century ini, tapi keyakinan saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.
Jangan sampai dugaan-dugaan dan fakta setengah matang yang muncul membuat kita salah menilai. Jangan sampai Boediono, Sri Mulyani atau siapapun yang lain mengalami nasib seperti Syahrir yang meninggal dalam penjara negerinya sendiri atau Tan Malaka yang dibunuh bangsa sendiri. Atau bahkan Gus Dur yang terlanjur di-makzul-kan meskipun tuduhan skandal korupsinya tak pernah terbukti sampai beliau meninggalkan kita semua dan ditangisi oleh bangsa Indonesia.
Saya pun akan tunduk jika proses politik di DPR dan nanti proses hukumnya di KPK, Kejaksaan atau Kepolisian akhirnya mengarah pada si A, si B atau si C yang dianggap bertanggung jawab. Saya pun yakin Pak Boed, Bu Sri atau bahkan SBY akan bertanggung jawab penuh apapun hasil dari pencarian kebenaran ini.
Saya hanya tidak ingin bangsa ini nyahok berkali-kali di lubang yang sama, melakukan kesalahan berkali-kali hanya karena tak mau belajar dari sejarah. Dan terlambat insyaf.
Para anggota Pansus mungkin juga sedang merasakan bahwa yang mereka lakukan saat ini adalah sebuah tindakan kepahlawanan untuk menyelamatkan bangsa ini, saya hanya mengingatkan bahwa tak ada pahlawan yang tahu dan merasa bahwa dia pahlawan. Kita tidak bisa menjadi pahlawan dengan cara memakzulkan pahlawan lainnya. Yang memberinya kehormatan untuk menjadi pahlawan adalah orang lain, bukan diri kita sendiri.
Semoga apa yang telah diperlihatkan Wolter Monginsidi 61 tahun yang lalu bisa menyegarkan ingatan kita tentang beratnya ujian sebelum seseorang pantas disebut pahlawan.
Kesempatan ini terbuka buat kita semua: Boediono, Sri Mulyani, SBY, anggota Pansus, anda yang sedang membaca blog ini, kita semua. Termasuk Anda yang tak setuju dengan tulisan ini karena terasa condong ke Boediono, saya terima resiko ini. Saya tak diupah siapapun untuk menulis, saya hanya mengikuti jalan hati saya. Dan tentu ada kemungkinan salahnya. Wallahu a'lam.
Semoga Allah menuntun bangsa ini menuju cahaya, menuju kesucian.
Saat bangsa ini mengalami berbagai cobaannya yang tak ringan, itulah sesungguhnya saat pencucian-Nya. Kita bingung, kecewa, marah, sedih, takut, kuatir: perasaan-perasaan itulah yang sedang dibersihkan-Nya. Agar kita semua ingat, sadari dan yakini, tanpa ijin-Nya bangsa ini sudah bubar oleh pemberontakan dari dulu. Tanpa ijin-Nya, kita tak mungkin berada di posisi ini saat ini.
Negeri ini adalah negeri yang besar, negeri para pahlawan. Negeri yang orang-orangnya berjiwa besar, berfikiran tajam jauh ke depan, negeri yang akan kita bela sepenuh hati sampai nanti Tuhan memanggil kita kembali.
Setia hingga terakhir di dalam keyakinan, sebuah tulisan tangan Wolter terselip di dalam Alkitab yang digenggamnya saat eksekusi mati di subuh hari itu terjadi. Tubuhnya rubuh dan tulisan itu tertinggal di bumi ini, mengingatkan kita semua tentang pentingnya menjaga sebuah keyakinan, sebuah prinsip, yang jauh lebih berharga daripada kehidupan.
Saat hari itu tiba, beranikah kita menatap kematian dengan mata terbuka sambil tersenyum? Sejujurnya saya malu pada Wolter Monginsidi…
Image pinjem dari: www.bode-talumewo.blogspot.com
Dan pagi ini nama itu terlintas kembali. Sebuah cerita di akhir hidup Bote (panggilan akrab Wolter Monginsidi) di sebuah situs membuat saya terpana:
Sesaat sebelum menuju ke tempat eksekusi, Wolter menjabat tangan semua yang hadir tidak ketinggalan pula regu penembak. Ia berkata,“Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa saudara-saudara.“ Dengan hati yang tegar, Wolter menghadapi moncong-moncong senjata yang dibidikkan kepadanya dan menolak ketika matanya akan ditutup, ia berucap,“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.“
Dengan pekikan,”Merdeka!!!” dari Wolter, 8 butir peluru dimuntahkan ke tubuhnya: 4 peluru di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 dipelipis kiri dan 1 di pusar dan seketika ia terkulai.
Pagi itu 5 September 1949, Wolter gugur dalam usia 24 tahun.
Dikutip dari: http://pajokka.blogspot.com/2009/08/wawancara-dengan-robert-wolter.html
Detail adegan yang menggetarkan ini tak pernah saya baca saat saya sekolah dulu. Membayangkan seorang anak muda usia 24 tahun berjalan dengan tenang menyalami orang-orang yang akan menembaknya dan memaafkan mereka: apa yang telah dipelajari Bote di usia semuda itu sehingga ia bisa menjelma malaikat di hari kematiannya?
Apa yang dilihatnya di detik terakhir hidupnya ketika delapan butir peluru meluncur dari senapan yang berasap mengoyak tubuhnya yang tegar tapi tak berdaya? Sesakit apa yang ia rasakan saat timah panas itu menderu, melubangi delapan bagian tubuhnya, membuat rohnya pamit detik itu juga menghadap-Nya?
Begitu banyak buku tentang Che Guevara yang juga mati di depan juru tembak pasukan Bolivia sehingga buku-buku dan posternya ada dimana-mana. Tapi cerita luar biasa di detik-detik kematian Bote ini lolos dari perhatian kita semua: keberanian dan ketegarannya untuk tak tunduk pada apapun selain keyakinannya.
Di usia saya yang ke-24 apa yang saya lakukan? Saya merasa sungguh kecil dan tak berarti: seseorang yang hidupnya penuh mimpi baru saja lulus kuliah dan tak pernah merasa menghadang bahaya apapun yang menakutkan saat berbicara tentang keyakinan. Hidup saya waktu itu tak ada bandingannya dengan hidup Wolter, bahkan dia telah menjadi guru bahasa Jepang saat usianya masih 18 tahun.
Siapakah pahlawan bagi saya?
Orang-orang yang tidak sempurna, yang penuh kekurangan, yang kadang berbuat naif dan konyol tapi maju terus tanpa gentar memperjuangkan apa yang diyakininya, apa yang diimpikannya. Hidupnya babak belur, jumlah kawan dan lawannya hampir sama banyaknya, bahkan seringkali harus berjuang sendiri karena dijauhi teman-teman seperjuangannya. Sampai saat tiba waktunya mereka pulang menghadap Tuhan, ribuan bahkan jutaan orang mengelu-elukan, mendoakan, menangisi, menyesali kepergiannya. Jejak kepahlawanannya tinggal di bumi saat jasadnya menyatu dengan tanah.
Dan kita ini seringkali terlambat mengenali orang-orang yang berpotensi jadi pahlawan. Kita baru sadar saat mereka pergi selama-lamanya dan tergopoh-gopoh memperingatinya ketika yang bersangkutan tinggal nama.
Dalam sebuah diskusi dengan Ibu Marie Pangestu (Menteri Perdagangan) bersama para finalis IYCEY beberapa tahun lalu saya berkata,”Bu, pemerintah lebih baik memperhatikan dan mendukung pemikiran dan kreativitas anak-anak muda sekarang, saat potensi, spirit dan energi mereka sedang dalam puncaknya. Jangan sampai kita terlambat lagi. Anak muda hebat seperti Soe Hok Gie tidak lahir dua kali, tapi hidupnya disia-siakan. Pemerintah tak peduli atau tak paham. Saat dia telah pergi barulah kita sadar betapa berharganya kesempatan ketika dia masih hidup. Tapi sudah terlambat. Kita kalah dengan ank-anak muda macam Jerry Yang, David Filo (pendiri Yahoo) atau Sergey Brin & Larry Page (pendiri Google) karena pemerintah dan orang-orang tua sukses berduit banyak itu terlalu sibuk untuk memperhatikan potensi dahsyat anak-anak muda kita.”
Saat menyampaikan masukan itu saya bersemangat sekali apalagi langsung didengarkan oleh Menteri. Saya merasa gagah sekali karena mampu menyampaikan apa yang saya yakini dan apalagi melihat Bu Menteri tersenyum dan mengangguk penuh arti.
Tapi ternyata saya memang anak muda culun, tak cukup jam terbang dan katrok dalam pengalaman. Senyum dan anggukan Bu Menteri itulah memang yang selalu dilakukannya karena dia tidak hanya bertemu saya tapi ribuan bahkan ratusan ribu lagi orang-orang yang mungkin pertanyaan dan masukannya lebih bermutu. Apa yang saya sampaikan menguap begitu acara salam-salaman selesai, keyakinan saya yang menggebu-gebu bagai monolog Togog yang didengar tapi tak dikehendaki, sumbang dan mengganggu.
Lalu datanglah hari itu – dua hari yang lalu - saat saya duduk di depan TV menyaksikan pandangan akhir Fraksi di DPR tentang Centurygate. Sejujurnya, saya tak tahu siapa yang benar dan salah dalam Centurygate ini, atau siapa yang hanya salah dan siapa yang memang jahat. Pandangan para fraksi tak menjawab dengan jelas, mereka berbicara dengan sangat meyakinkan untuk sebuah fakta yang masih abu-abu.
Ingatan atas apa yang saya sampaikan beberapa tahun lalu melintas lagi: mayoritas kita seringkali luput memotret potensi pahlawan ketika yang bersangkutan masih hidup. Tapi sesuatu di hati saya terusik saat seseorang seperti Boediono dengan track record yang – setahu saya - begitu bersih dan kapabilitas yang dihormati dunia internasional dihakimi beramai-ramai oleh anggota-anggota DPR seolah-olah ia penjahat besar yang merugikan negara dan sebaiknya disingkirkan jauh-jauh dari pemerintahan.
Logika saya mungkin telah mati saat mencoba memahami sengkarut Century ini, tapi keyakinan saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.
Jangan sampai dugaan-dugaan dan fakta setengah matang yang muncul membuat kita salah menilai. Jangan sampai Boediono, Sri Mulyani atau siapapun yang lain mengalami nasib seperti Syahrir yang meninggal dalam penjara negerinya sendiri atau Tan Malaka yang dibunuh bangsa sendiri. Atau bahkan Gus Dur yang terlanjur di-makzul-kan meskipun tuduhan skandal korupsinya tak pernah terbukti sampai beliau meninggalkan kita semua dan ditangisi oleh bangsa Indonesia.
Saya pun akan tunduk jika proses politik di DPR dan nanti proses hukumnya di KPK, Kejaksaan atau Kepolisian akhirnya mengarah pada si A, si B atau si C yang dianggap bertanggung jawab. Saya pun yakin Pak Boed, Bu Sri atau bahkan SBY akan bertanggung jawab penuh apapun hasil dari pencarian kebenaran ini.
Saya hanya tidak ingin bangsa ini nyahok berkali-kali di lubang yang sama, melakukan kesalahan berkali-kali hanya karena tak mau belajar dari sejarah. Dan terlambat insyaf.
Para anggota Pansus mungkin juga sedang merasakan bahwa yang mereka lakukan saat ini adalah sebuah tindakan kepahlawanan untuk menyelamatkan bangsa ini, saya hanya mengingatkan bahwa tak ada pahlawan yang tahu dan merasa bahwa dia pahlawan. Kita tidak bisa menjadi pahlawan dengan cara memakzulkan pahlawan lainnya. Yang memberinya kehormatan untuk menjadi pahlawan adalah orang lain, bukan diri kita sendiri.
Semoga apa yang telah diperlihatkan Wolter Monginsidi 61 tahun yang lalu bisa menyegarkan ingatan kita tentang beratnya ujian sebelum seseorang pantas disebut pahlawan.
Kesempatan ini terbuka buat kita semua: Boediono, Sri Mulyani, SBY, anggota Pansus, anda yang sedang membaca blog ini, kita semua. Termasuk Anda yang tak setuju dengan tulisan ini karena terasa condong ke Boediono, saya terima resiko ini. Saya tak diupah siapapun untuk menulis, saya hanya mengikuti jalan hati saya. Dan tentu ada kemungkinan salahnya. Wallahu a'lam.
Semoga Allah menuntun bangsa ini menuju cahaya, menuju kesucian.
Saat bangsa ini mengalami berbagai cobaannya yang tak ringan, itulah sesungguhnya saat pencucian-Nya. Kita bingung, kecewa, marah, sedih, takut, kuatir: perasaan-perasaan itulah yang sedang dibersihkan-Nya. Agar kita semua ingat, sadari dan yakini, tanpa ijin-Nya bangsa ini sudah bubar oleh pemberontakan dari dulu. Tanpa ijin-Nya, kita tak mungkin berada di posisi ini saat ini.
Negeri ini adalah negeri yang besar, negeri para pahlawan. Negeri yang orang-orangnya berjiwa besar, berfikiran tajam jauh ke depan, negeri yang akan kita bela sepenuh hati sampai nanti Tuhan memanggil kita kembali.
Setia hingga terakhir di dalam keyakinan, sebuah tulisan tangan Wolter terselip di dalam Alkitab yang digenggamnya saat eksekusi mati di subuh hari itu terjadi. Tubuhnya rubuh dan tulisan itu tertinggal di bumi ini, mengingatkan kita semua tentang pentingnya menjaga sebuah keyakinan, sebuah prinsip, yang jauh lebih berharga daripada kehidupan.
Saat hari itu tiba, beranikah kita menatap kematian dengan mata terbuka sambil tersenyum? Sejujurnya saya malu pada Wolter Monginsidi…
Image pinjem dari: www.bode-talumewo.blogspot.com
2010/02/07
Tentang Hujan
Rasanya pertanyaan kapan mulai dan berakhirnya musim hujan, sudah tak relevan lagi. Kapan pancarobanya juga udah obsolete. Ramalan cuaca sama tidak bergunanya. Dulu waktu belajar geografi di sekolah, sudah ada bulan-bulan tertentu kapan jadual musim penghujan tiba kapan musim kemaraunya, di antara itu ada musim pancarobanya. Lalu waktu masih di Pertanian UGM, saya juga belajar bagaimana menggunakan alat peramal cuaca. Saya tidak tahu apakah ilmu geografi bisa mengimbangi kerusakan bumi akibat global warming dan kecanggihan para pawang hujan memindahkan awan-awan dan jadual hujannya.
Bumi makin tak bisa diprediksi, ilmu pengetahuan makin tidak konstekstual, bencana makin besar ancamannya, biaya untuk menjalani hidup aman yang biasa-biasa saja rasanya makin mahal saja.
Dulu waktu masih kecil, hujan-hujan seharian badan saya selalu baik-baik saja, tapi sekarang langsung rombongan penyakit ikut saat air hujan mengguyur. Mungkin karena saya yang semakin tua atau bisa jadi lantaran air hujan tak lagi murni: polusi, limbah asap dan jenis-jenis gas kimia yang aneh-aneh sudah terlarut di dalamnya.
Lha terus gimana dunk jika udah begini? Saya juga belum tahu persis sebaiknya bagaimana. Karena tadipun saya melewati sebuah jembatan dengan sungai di bawahnya. Ada papan keluaran instansi pemerintah berbunyi: Kaline Resik, Uripe Dadi Becik (Sungainya Bersih, Hidup Jadi Baik) dan waktu saya tengok ke bawah: itu sampah menumpuk tepat di bawah papan nama peringatannya.
Jika kita keras kepala saat alam sekitar masih memberikan toleransinya dan mengabaikan dengan sadar peringatan-peringatan alamiah macam hujan salah musim, cuaca panas yang dilawan dengan AC yang mengeluarkan freon sehingga membuat udara di luar makin panas, mudahnya membuang sampah di sungai padahal tahu persis akibat buruknya: maka waktu buat alam untuk mulai menagih kita membayar hutang takkan lama.
Hari ini kita masih bisa melihat berita banjir di TV dengan segelas kopi panas di rumah yang berlapis karpet tebal hangat, kita masih bisa terharu melihat 220 juta rakyat Haiti meninggal karena gempa, kita masih bisa menyeduh popmie sambil meng-klik berita di internet tentang angin ribut, badai tropis, orang disambar petir.. Tapi sampai kapan wilayah 'aman' itu akan kita nikmati? Sampai kapan tiba gilirannya kita berteriak-teriak kedinginan minta tolong sambil disorot kamera jadi bahan berita siaran langsung televisi nasional?
Sementara bencana sudah mengetuk di depan pintu rumah kita pelan-pelan, kita dengar bunyinya tapi kita cuekin. Kita memilih bodoh dengan sengaja, yang penting rumah bersih sampahnya numpuk gak papa yang penting bukan di halaman rumah kita, ruangan dingin sejuk nyaman sementara di luar panasnya bisa membuat telur ayam matang.
Tulisan ini sesungguhnya lebih banyak saya tujukan buat diri saya sendiri, agar tak terperosok pada bencana yang kita undang dengan sadar. Menyadarkan diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada bikin tulisan berlembar-lembar. Apalagi menyadarkan orang lain, aduh!!! Menteri Lingkungan Hidup aja belum tentu bisa, jadi ya monggo jadikan igauan ini sebagai cermin saja. Moga-moga bencana tak terjadi, jika terjadi juga ya mungkin sudah kasep (terlambat).
Tapi janji lho jangan nyalahin siapa-siapa ya, toh kita-kita juga penyebabnya kan?
2009/12/14
Soe Hok-gie di Grand Indonesia
Disinilah saya, menjelang tengah hari di cafe Gramedia lantai 3 Grand Indonesia dengan secangkir coffee latte dan sebuah buku yang baru saja saya beli: Soe Hok-gie... Sekali lagi, dengan editor Rudy Badil dan teman-teman Gie yang lain.
Di seberang jalan, di pinggiran bundara HI nampak tiga puluhan orang sedang demo dengan topik yang tidak begitu jelas, kemungkinan tentang revisi peraturan pemerintah. Spanduk-spanduk dibentangkan asal-asalan tanpa semangat, beberapa orang berdasi orasi dengan memekik-mekik sementara peserta demo melihat dengan tatapan mata kosong menyiratkan ketidakmengertian.
Tahulah saya - sebagai mantan demonstran amatir - dari gerak-gerik dan antusiasme-nya yang palsu dan menyedihkan, sebagian peserta adalah pendemo bayaran.
Dari seorang ojek yang kebetulan melintas - sebelum saya masuk Grand Indonesia - saya ketahui bahwa tarif pendemo bervariasi, antara 35 rb sampai 50 rb tergantung atas suruhan siapa. Si ojek kemarin ikut demo kasus Century di dekat Istana Negara dibayar 50 rb untuk demo beberapa jam. "Lumayan Mas, apalagi saat sepi gak ada penumpang," katanya.
Dari sejuk ruang ac di toko buku yang diklaim terbesar di Asia Tenggara itu, mata saya menatap cover buku merah bergambar silhuet Gie, dengan sedih, sekaligus marah. Anak muda lurus dengan kata-kata yang tajam menyilet ketidakadilan itu mati keracunan di puncak Semeru dan kita semua di tahun 2009 - 40 tahun sejak Gie pergi - tak juga mampu memahami kemarahan atas nama kejujuran itu.
Bangsa ini mengulang kesalahan yang sama, berulang-ulang. Kita tak berhulu pada kejujuran saat berteriak di bawah mentari siang yang terik. Kita bertekuk lutut pada sejumlah rupiah untuk proyek bernama demonstrasi bayaran.
Di seberang tempat duduk saya nampak beberapa orang sedang minum kopi mahal, makan siang yang pastinya lebih dari seratus ribu rupiah sekali santap. Siapa tahu salah satu diantaranya adalah pemesan demo di bundara HI siang itu, melihat kumpulan manusia dipanggang terik mentari, berteriak parau sambil menghirup harum espresso, capuccino atau chococino. Orang berduit besar yang membayar para pendemo dengan duit recehan.
Saya sendiri masygul. Lha saya ini ngapain disini? Kalo tiba-tiba arwah Soe Hok-gie (ya, bener.. Ini spelling yang bener, bukan Soe Hok Gie) datang dan mendamprat saya serta menumpahkan caffee latte-nya karena marah melihat saya mulai dijangkiti penyakit modernisme, seperti banyak pejabat mantan demonstran yang meng-gendut perutnya karena 'mencairkan' jasanya ketika jadi pendemo mahasiswa dalam bentuk jabatan, kekayaan, kekuasaan.
Minuman hangat berbusa itu sudah tandas setengah, saya minum setengah hati.
Bayangan wajah Gie yang keras, yang hidupnya dihajar situasi revolusioner tahun 60-an berkelebat di dinding kaca tebal di hadapan saya. Seperti menyapa dengan sorot mata yang dingin. Saya buka pelan-pelan halaman buku itu - yang dibikin sebagai dedikasi untuk perjuangannya yang tak kenal kompromi - dan masa lalu saat-saat saya masih mahasiswa menyergap, saat saya belum mengenal dunia bisnis, saat belum memikirkan membangun perusahaan, saat impian untuk nongol sebagai cover majalah Fortune belum tumbuh di angan saya.
Saat itu saya adalah seorang mahasiswa sok patriotik yang dibakar oleh Catatan Harian Soe Hok-gie dan Ahmad Wahib, ikut-ikutan demo, merasa gagah karena ikut nyumbang upaya membersihkan bangsa. Ah, anak muda yang kobaran semangatnya menyentuh atap langit.
Ketika usia mulai merambat, idealisme itu pun bertransformasi. Jakob Oetama yang dulu menjadi wartawan Kompas, tempat Gie mengirimkan tulisannya telah menjelma konglomerat media. Kawan-kawan seperjuangan Gie telah berumur 60-an tahun, beruban dan mulai lupa atas peristiwa indah - sekaligus - tragis masa itu, saat Gie hidup di antara mereka.
Apakah idealisme saya mulai luntur seiring makin jauhnya saya dari jalanan dan konfrontasi di lapangan? Apakah secangkir coffee latte ini adalah racun yang meninabobokkan semangat juang itu? Apakah AC yang dingin, sofa yang empuk, view gedung-gedung tinggi modern telah membekukan lantangnya teriakan dan kerasnya kepalan tangan?
Saya terdiam dan menutup buku itu setelah membaca beberapa halaman. Saya malu. Saya pun menyelesaikan tegukan terakhir, mengelap mulut dengan tisue lalu beranjak pergi. Pandangan saya menatap ke bawah, ke kedua kaki saya yang bersendal jepit di tempat 'mewah' begini.
Saya tersenyum geli, saya tak benar-benar beranjak modern ternyata. Sendal jepit hitam itu sedikit menyelamatkan saya dari beban rasa bersalah.
Saya berkata pada diri saya sendiri: saya takkan mau dibeli oleh gaya, gengsi dan kesuksesan semu. Saya takkan mau di-rupiah-kan. Saya takkan mau di-dunia-kan.
Saya pun meninggalkan Grand Indonesia. Demonya juga barusan bubar, arahnya terpencar-pencar. Sebagian pulang ke kantor, sebagian jadi ojek lagi, sebagian jadi pedagang kaki lima lagi, sebagian kembali ke kehidupan awalnya dengan beberapa lembar puluhan ribu di tangan.
Sebuah taxi menghampiri dan saya tolak dengan halus. Seorang ojek menghampiri dan sayapun naik di boncengannya. Yang pantes ya begini, pake sendal jepit ya naiknya ojek denga helm lama yang putus talinya. Bukannya minum caffee latte di ruang ber-AC sambil mikir yang aneh-aneh.
Ah, hidup. Begitulah paradoksnya. Dengan buku Gie yang akan menemani saya beberapa hari ke depan, semoga diri saya yang asli akan hadir kembali. Proses itu mungkin tak mudah, bahkan menyakitkan. Tapi saya harus menempuhnya. Sekali lagi mentalitas sok sukses itu harus dihajar dan dibenturkan realitas idealisme yang kejam. Kemanjaan lantaran sudah mulai banyak fasilitas harus dihancurkan karena manja merapuhkan jiwa raga.
Sedangkan Gie dan Wahib mati muda dalam keaslian. Saya yang beranjak tua, harus terus bergulat melepaskan kepalsuan-kepalsuan yang makin canggih dan seolah tak terlawan.
Kata-kata Gie terngiang sekali lagi,"Yang terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Atau dilahirkan tapi mati muda. Yang paling sengsara adalah mati tua, sakit-sakitan, ditinggalkan. Berbahagialah mereka yang mati muda."
Berbahagialah engkau di sana, Gie. Doakan saya kuat meneruskan apimu itu, membawanya dalam perjalanan berdarah-darah di tengah kepalsuan hidup yang begini besar. Saya memang tidak berharap mati terlalu muda, saya sudah 34 tahun.
Jika saya suatu hari nanti saya mati tua, semoga saya bisa mati tua dalam keaslian. Semoga.
2009/10/01
Logika Politik yang Tidak Logis
Berapa modal yang diperlukan untuk sukses dalam politik? Jawabnya bisa bikin miris: untuk kelas legislatif kabupaten bisa sampai 300 juta rupiah, untuk bupati 10-30 milyar, untuk presiden kira-kira 1 triliun rupiah. Bisa lebih karena selalu ada biaya lain-lain.
Darimana semua dana itu berasal? Dan berapa persen dari dana-dana tersebut yang terjaga kebersihan asal-usulnya? Prediksi saya, tingkat kebersihannya tak lebih dari separuhnya. Bisa lebih kecil karena dipotong biaya lain-lain.
Tapi yang mengherankan saya, asal usul dana itu bukan sesuatu yang penting sebagai bahan pertimbangan dari para pelaku kontes politiknya. Tujuan untuk memenangkan pertarungan perebutan kursi jauh lebih-lebih penting dari pertanyaan sederhana saya tentang halal haramnya modal untuk bertarung tersebut.
Mungkin justru saya yang naif, politik kok ngomong halal haram. Politik itu menang kalah, berkuasa atau dikuasai, mengumpulkan harta atau diperas hartanya, Berjaya di singgasana atau tersingkir. Meminjam istilah teman saya, menang cacak kalah mbecak. He he he :)
Tapi inilah konyolnya, saya malah memimpikan seorang pemimpin yang lahir dari proses politik yang bersih. Yang setiap langkahnya sejak mulai pencalonan, sosialisasi, promosi, debat sampai proses pemilihannya, semua menjadi rahmat bagi seluruh alam, menjadi manfaat, tidak mubadzir seperti yang sudah-sudah.
Berapa budget yang telah dihabiskan bangsa Indonesia lewat KPU dan kantong tim-tim sukses capres sampai kita mendapatkan SBY-Boediono sebagai Presiden & Wapres terpilih? Lebih dari 4 triliun.
Berapa budget yang dibutuhkan untuk mendapatkan Ir. Soekarno & Mohammad Hatta sebagai Presiden & Wapres pertama Indonesia? Hampir nol.
Engkau tentu akan bilang: ya beda dong Rief, jaman dulu dan jaman sekarang. Situasinya beda, masyarakatnya beda, orangnya beda. Jangan disama-samakan karena parameter-parameter yang mendasarinya berbeda.
Betul, saya juga setuju. Saya setuju saya naif jika langsung melakukan direct benchmarking. Tapi coba jika kita lihat produk akhirnya, kita akan sepakat bahwa Soekarno Hatta tidak kalah kelas dengan SBY Kalla atau SBY Boediono. Dua yang terakhir adalah produk pemilu demokratis yang modern (makanya mahal).
Doa saya sesungguhnya adalah agar bangsa ini dijauhkan dari proses politik yang berlebihan, yang boros, yang mubadzir, pesta demokrasi yang tidak memberikan kemanfaatan pada jiwa raga, kecerdasan dan kemakmuran bangsa ini hanya karena kita semua menganggap bahwa apa yang terjadi sudah semestinya.
Padahal ini sudah tidak semestinya.
Contoh: seorang calon gubernur/bupati yang incumbent – untuk mengumpulkan milyaran rupiah modalnya – melakukan pemungutan sistematis dan massif untuk apa saja yang berada dalam kewenangannya. Setiap proposal yang diajukan, setiap pendaftar CPNS, setiap permintaan bantuan, setiap sertifikat tanah yang disahkan: untuk modal nyalon sekali lagi. Nanti jika dia terpilih lagi, upaya pertamanya bukan untuk menyejahterakan rakyat yang memilihnya tapi untuk mengembalikan modal-modalnya. Tapi jika dia tidak terpilih, nasibnya bakal jauh lebih sederhana: menjawab pertanyaan KPK tentang ini itu untuk akhirnya menghuni hotel prodeo. Bukan happy ending yang diharapkan.
Ah, politik. Takkan selesai jika kita bicara kepentingan dan nafsu manusia. Jika manusia diberikan satu gunung emas, ia akan meminta satu gunung lagi, begitu seterusnya. Nafsu duniawi adalah seperti minum air laut yang asin, makin diminum makin haus. Hanya segenggam tanah yang akan menghentikannya, saat sang pelaku masuk lubang kuburan.
Saya akan berhenti cerita di sini. Saya tak sampai hati melanjutkan kisah horror di alam kubur, di akhirat, di hari pembalasan kelak. Saya sendiri meyakini bahwa neraka tidak berada di tempat yang jauh, kita bisa mencicipinya di dunia ini jika mau. Dalam bentuk stroke, kanker, serangan jantung, harta hangus terbakar, penjara, kehilangan nama baik dan ditinggalkan keluarga, handai taulan, kerabat terdekat.
Surgapun juga tak jauh, hanya karena seringkali sekelilingnya dihias duri, penderitaan, cemooh, caci maki dan umat manusia yang tidak trendy, kita dengan sadar menjauh, menutup hidung, bahkan meludah.
Ah, politik. Kita tahu persis mana yang benar. Tapi kita takut tak kebagian.
2009/08/16
Dari Google Untuk Indonesia

Jika Google aja peduli untuk mengingatkan kita semua bahwa hari ini - 17 Agustus 2009 - bangsa besar ini sedang merayakan hari kemerdekaannya, apa bentuk kepedulian kita pada kemerdekaan kita sendiri?
Tidak usah buru-buru menjawab. Mari kita lihat di cermin masing-masing, apakah sebentuk sosok yang nampak di hadapan kita itu sudah cukup berbuat untuk bangsanya sendiri, untuk sebuah kata yang membuat kita takjub: INDONESIA.
Yang sudah terlanjur ya sudah. Saatnya menatap tajam ke depan, menunjukkan pada dunia sebuah pekik yang takkan tertelan oleh jaman, yang akan bergema 1000 tahun bahkan lebih lama lagi: MERDEKA!
Lalu kita wujudkan pekik itu dalam gerak hidup kita selanjutnya. Dengan kemandirian dan keberanian. Jangan lagi kita mempermalukan para pendahulu kita, para pejuang yang gagah berani mengusir penjajah.
Kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan. Kemerdekaan justru awal bagi perjalanan Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar, yang kita banggakan bersama.
2009/04/07
Minggu Tegang
Minggu tenang buat para calon pemilih, tentulah merupakan minggu tegang buat para Caleg dan bos-bos partainya. Dengan milyaran bahkan triliunan anggaran yang entah dari mana asalnya, mereka telah mempertaruhkan hampir segalanya. Sehingga katanya, RSJ pun menyiapkan tambahan kamar VIP khusus caleg yang stres. Jumlah itu belum ditambah dari pengeluaran dari kantong pribadi para Caleg, yang jumlahnya tak kalah besar jika digabungkan. Utamanya buat keperluan promosi, meskipun buat kita para calon pemilih rasanya mereka hanya berlomba mengotori lingkungan. Calon wakil rakyat itu sedikit sekali yang punya keramahan terhadap lingkungan (sedih!).
Dan setelah banyak cara dilakukan - yang putih, hitam maupun abu-abu - tibalah saat menentukan itu, 9 April 2009. Celakanya banyak pula diantara kita yang memilih abstain alias golput: bermacamlah sebabnya. Utamanya kekecawaan dan patah hati pada wakil-wakil rakyat sebelumnya yang sekarang malah banyak berkasus.
Jadi mari kita tunggu. Mereka yang berjudi dengan nasibnya akan menerima hasilnya sebentar lagi. Mereka yang dana nyalegnya berasal dari sumber tak bersih, bersiaplah kecewa. Mereka yang ikhlas untuk mengabdi pada bangsa, semoga diberikan ketabahan jika kelak terpilih atau tidak terpilih.
Kemenangan kita sebagai bangsa yang besar adalah jika Pemilu besok bisa berlangsung damai. Yang menang bersyukur, yang kalah bersabar. Indonesia harus terus belajar mendewasakan diri. Salah satunya dengan tak marah saat tak kebagian kursi...
Dan setelah banyak cara dilakukan - yang putih, hitam maupun abu-abu - tibalah saat menentukan itu, 9 April 2009. Celakanya banyak pula diantara kita yang memilih abstain alias golput: bermacamlah sebabnya. Utamanya kekecawaan dan patah hati pada wakil-wakil rakyat sebelumnya yang sekarang malah banyak berkasus.
Jadi mari kita tunggu. Mereka yang berjudi dengan nasibnya akan menerima hasilnya sebentar lagi. Mereka yang dana nyalegnya berasal dari sumber tak bersih, bersiaplah kecewa. Mereka yang ikhlas untuk mengabdi pada bangsa, semoga diberikan ketabahan jika kelak terpilih atau tidak terpilih.
Kemenangan kita sebagai bangsa yang besar adalah jika Pemilu besok bisa berlangsung damai. Yang menang bersyukur, yang kalah bersabar. Indonesia harus terus belajar mendewasakan diri. Salah satunya dengan tak marah saat tak kebagian kursi...
2009/02/15
Sebuah Cerita Tentang Otak

Dalam sebuah lelang tingkat dunia di London, nampaklah beberapa otak yang akan dilelang kepada penawar dengan harga tertinggi. Nampak otak para ilmuwan dan tokoh top dunia seperti Einstein, Thomas Alva Edison, Benjamin Franklin juga beberapa lagi lainnya.
Pengunjung 1:
Lihat itu otak Einstein, nampaknya capek sekali. Pasti selama hidupnya sudah digunakan secara maksimal sehingga sisa energinya tinggal sedikit. Harganya juga gak mahal, mulai dari 1000 dollar.
Pengunjung 2:
Otak Edison juga tuh, pemiliknya pasti terus menggunakannya untuk menemukan hal-hal penting saat hidup. Ini juga mulai dari 1000 dollar.
Pengunjung 3 (dengan mata-berbinar-binar):
Lihat itu ada otak yang masih segar, nampaknya belum pernah dipake. Ayo kita beli aja yang itu. Sedikit lebih mahal sih, mulai dari 1500 dollar...
Pengunjung 1:
Oooo... Itu otaknya orang Indonesia, ya ya ya... katanya emang jarang dipake. Jadi fresh banget! Ya udah, masing-masing kita beli 10 deh. Sekalian buat persediaan.
Tiba-tiba petugas lelang yang sedang berdiri di belakang mereka berkata:
Tuan-tuan, otaknya orang Indonesia itu memang boleh dibeli. Tapi tidak sekarang, paling tidak sepuluh tahun lagi atau tergantung kabar dari Indonesia.
Pengunjung 2:
Maksudnya?
Petugas lelang:
Otak itu baru boleh dibeli kalo pemiliknya sudah meninggal. Nanti rumah sakit di sana akan memberi kabar. Pemilik otak dari Indonesia itu sekarang masih hidup, mereka menitipkan otaknya buat dipajang di sini karena katanya jarang dipakai. Apalagi mereka sekarang sibuk kampanye pemilu, bikin repot katanya kalo mesti pake otak dalam kampanyenya...
Pengunjung 1, 2 dan 3:
???!!!#%***
(sebuah humor untuk mengingatkan bahwa menyia-nyiakan harta termahal adalah lelucon yang paling tragis) Image pinjem dari http://www.simpsonstrivia.com.ar/simpsons-photos/wallpapers/homer-simpson-wallpaper-brain-1024.jpg
2009/02/02
Jangan Pernah Bilang Tidak Bisa





Saya termasuk orang yang sangat terganggu melihat polusi visual kampanye Caleg yang sekarang memenuhi seantero kota dan desa-desa, bahkan sampai kampung-kampung. Saya tidak menolak kampanye Pemilu, tapi saya katakan: sense of art dan daya komunikasi para Caleg itu sangat lemah. Bagaimana kita mau percaya bahwa Caleg-caleg itu akan mampu membawa suara kita di parlemen jika cara mereka menjual dirinya kepada calon konstituen-nya begitu 'menyedihkan'?
Asumsi yang selalu dipakai biasanya karena rakyat masih belum maju pemikirannya, sehingga sebaiknya dijejali saja dengan pas photo dan pesan-pesan politik yang ngecap: ayo, pilihlah saya! Tapi saya yakin, para politisi itu terlalu underestimate terhadap kecerdasan rakyat Indonesia. Buktinya film Laskar Pelangi & Ayat-ayat Cinta lebih laris ketimbang film Genderuwo, Suster Ngesot dan Tiren-nya Dewi Perssik! Jadi rakyat malah lebih punya taste of art ketimbang calegnya kan?
Nah, saya bawakan sample promosi ala Obama. Bener sih ini emang beda konteksnya, rakyat Amerika mungkin lebih maju pemikirannya, tingkat edukasi lebih tinggi: tapi toh kita sama manusianya. Kita bahkan bisa lebih baik daripada bangsa Amerika: paling tidak dalam kasus krisis ekonomi sekarang.
Jadi tolong jangan pernah bilang kita tidak bisa jadi bangsa yang lebih maju, yang promosi calegnya lebih bagus, yang lebih komunikatif, yang lebih demokratis. Jangan sibukkan diri mencari alasan ini-itu banyak sekali hanya untuk mengatakan bahwa perbaikan tidak bisa dilakukan. Perbaikan pasti bisa dimulai sekarang, dari diri kita sendiri, dari yang kecil-kecil dulu. Ah, ngutip AA Gym lagi: jangan jadi Caleg ya Aa'.
2009/01/23
Ada Apa Dengan PKS?

Saya sebetulnya tidak begitu berminat lagi menulis tentang politik, tapi entah kenapa beberapa kejadian yang berhubungan dengan PKS membuat saya merasa perlu membuat sedikit catatan, kejadian itu diantaranya:
- Iklan politik PKS yang menyertakan Alm. Mantan Presiden Soeharto sebagai Guru Bangsa yang disayangkan oleh banyak pihak dan malah kontraproduktif dalam upaya membangun brand PKS.
- Dilaporkannya Tifatul Sembiring ke kepolisian oleh Panwaslu Jakarta dengan dugaan pelanggaran ketentuan kampanye Pemilu dalam demo menentang Israel beberapa saat lalu
- Terbongkarnya upaya penyuapan dari pengacara PKS, M. Anwar Junaidi sebesar 10 jt rupiah kepada kepolisian yang ternyata malah berujung penipuan
Beredar juga kabar-kabar miring bahwa mereka yang berkuasa di masa lalu mulai menebarkan jaringnya dengan menyebar anggaran yang jumlahnya luar biasa besar kepada partai-partai peserta pemilu yang berpotensi meraup suara banyak. Tentu saja dengan harapan bahwa kelak kepentingan mereka akan masuk jadi agenda pemerintahan baru. Dan seperti kita semua tahu: sama sekali tidak ada jaminan kejelasan atas bersihnya sumber pendanaan itu.
Saya menaruh hormat atas upaya PKS dalam berpolitik secara bersih dan Islami. PKS berpolitik dan melakukan pendidikan politik serta berperan bagi rakyat banyak hampir sepanjang tahun, tak cuma 5 tahun sekali. Lihatlah saat terjadi bencana alam, PKS seringkali tiba paling depan di lokasi kejadian. Juga respek saya yang luar biasa pada Pak Hidayat Nurwahid, politisi bersih dan sederhana yang menyejukkan hati.
Saya akan sangat menyayangkan jika karena keinginan untuk meningkatkan jumlah pemilih, PKS harus meninggalkan akar keislamannya untuk jadi plural dan 'seolah-olah' mengharapkan semua pihak untuk bergabung. Termasuk mungkin anasir dan pewaris orde baru, para oportunis dan mereka yang berpolitik hanya atas nama kepentingan. Dari survey yang digelar pun - entah benar entah salah - PKS semakin jauh dari representasi Partai Islam, akar kekuatan awalnya. Ah, saya sih tidak berandai-andai mengharap ada partai yang 100% bersih. Ini Indonesia Bung! Jadi saya akan melihat dengan hati: pesta demokrasi ini akan berjalan seperti apa. Saya hanya akan berharap pada Allah yang terbaik untuk negeri ini, karena berharap pada partai atau tokoh nasional atau caleg atau capres seringkali harus nyahok lagi dan lagi.
Selamat berjuang memperbaiki diri teman-teman di PKS. Juga partai-partai yang lain. Lebih penting daripada menang atau kalah di pemilu besok, saya dan banyak rakyat negeri ini sungguh butuh partai yang bersih dalam menjalankan ikhtiar politiknya dan peduli pada rakyat yang diminta suaranya.
Lebih baik kalah tapi terhormat daripada menang tapi tidak berkah. Saya akan memilih partai yang seperti itu.
Image pinjem dari: http://anditoaja.files.wordpress.com/2008/04/pks-rally1.jpg
2008/08/17
Pahlawan yang Tersingkirkan

Hari ini 17 Agustus 2008. Tapi perasaan saya berkecamuk dahsyat. Ada beberapa kejadian yang saya alami beberapa hari ini menjelang detik-detik proklamasi.
Sehari menjelang peringatan kemerdekaan, di jalan raya Klaten menuju Solo saya melihat seorang bapak tua berpakaian hijau tua ala pejuang kemerdekaan berseragam lengkap dengan atributnya serta topi kain berdiri tegak di tengah jalan menghormat setiap mobil yang melewatinya. Begitu terus menerus, dengan sikap tegap dan serius.
Dan hari ini menjelang maghrib, saya melihat seorang bapak lagi berpakaian prajurit kemerdekaan warna krem sedang duduk di pinggir trotoar Jl. Serangan, tatapannya kosong ke depan. Mukanya lusuh seperti bajunya. Saat saya melewatinya, matanya seolah berkata: apa yang telah kau lakukan pada negeri yang dulu telah kuperjuangkan untuk merdeka? Saya - anak muda setengah tua ini - merasa jadi tertuduh. Serba salah di depan mata kosong mantan pejuang itu.
Menjelang jam 12 tengah malam di tengah jalan Godean, seseorang membawa tongkat panjang. Di ujung atasnya terlilit bendera merah putih yang terbakar sebagian, hangus tinggal setengah. Orang itu rambutnya gondrong. Membawa bendera seolah memegang panji kehormatan, berjalan tegap seperti komandan pasukan membelah jalan di tengah malam. Mobil dan motor bersliweran di kanan kirinya.
Entahlah, makin tambah tahun saya merasa bangsa ini kok makin sakit. Mungkin memang tidak semua, tapi satu hal yang saya percaya: kita begitu abai pada para pahlawan itu. Kita tak lagi memperhatikan mereka. Kita merasa bahwa kemerdekaan ini sudah take it for granted: sejak lahir, generasi pasca 1945 memang rasanya langsung merdeka.
Padahal kakek nenek kita bertaruh nyawa. Yang gugur sebagian jadi pahlawan, tapi banyak yang lain tak pernah tercatat di sejarah, kubunyapun tak jelas dimana. Yang masih hidup ternyata lebih banyak tersia-sia. Sehingga para pemenang perang kemerdekaan itu harus kalah saat melawan nasib, saat melawan penindasan dan ketidakadilan saudara-saudaranya sebangsa setanah air. Sehingga mereka merindukan lagi keindahan masa revolusi fisik itu. Mereka berseragam lagi, mereka mencoba melawan gerak jaman. Tapi mereka tetap kalah, kita generasi sekarang menjauhi mereka yang begitu mencintai tanah ini dan dengan ringan menyebut mereka yang tindakannya aneh-aneh itu sebagai terganggu ingatan alias kurang waras.
Hari ini saya ingin menyingkir bersama orang-orang yang dipinggirkan laju pembangunan itu. Yang merasa bahwa Belanda akan datang lagi sehingga bersiaga membawa tongkat panjang laksana bambu runcing untuk melawan. Yang merasa bahwa Bung Karno akan datang memasuki kota bersama Jenderal Sudirman mengendarai mobil sehingga terus menghormat setiap mobil yang dilewatinya. Yang merasa setelah merdeka kok malah menderita.
Hari ini saya ingin meneriakkan merdeka sekeras-kerasnya, dengan tangan mengepal meninju langit. Tapi saya tidak mampu. Saya masih terbayang-bayang: para pahlawan yang kesepian di dunianya sendiri itu, apakah mereka mau memaafkan kita semua pada 17 Agustus 2008 ini? Apa yang kita bisa lakukan untuk membuat mereka - meskipun sejenak - berbahagia atas kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan sepenuh jiwa itu?
Jika kemerdekaan yang kita rayakan justru menyingkirkan para pahlawan sesungguhnya, saya akan bertanya dalam sunyi: sudah merdekakah saya? Sudah merdekakah bangsa ini?
Sehari menjelang peringatan kemerdekaan, di jalan raya Klaten menuju Solo saya melihat seorang bapak tua berpakaian hijau tua ala pejuang kemerdekaan berseragam lengkap dengan atributnya serta topi kain berdiri tegak di tengah jalan menghormat setiap mobil yang melewatinya. Begitu terus menerus, dengan sikap tegap dan serius.
Dan hari ini menjelang maghrib, saya melihat seorang bapak lagi berpakaian prajurit kemerdekaan warna krem sedang duduk di pinggir trotoar Jl. Serangan, tatapannya kosong ke depan. Mukanya lusuh seperti bajunya. Saat saya melewatinya, matanya seolah berkata: apa yang telah kau lakukan pada negeri yang dulu telah kuperjuangkan untuk merdeka? Saya - anak muda setengah tua ini - merasa jadi tertuduh. Serba salah di depan mata kosong mantan pejuang itu.
Menjelang jam 12 tengah malam di tengah jalan Godean, seseorang membawa tongkat panjang. Di ujung atasnya terlilit bendera merah putih yang terbakar sebagian, hangus tinggal setengah. Orang itu rambutnya gondrong. Membawa bendera seolah memegang panji kehormatan, berjalan tegap seperti komandan pasukan membelah jalan di tengah malam. Mobil dan motor bersliweran di kanan kirinya.
Entahlah, makin tambah tahun saya merasa bangsa ini kok makin sakit. Mungkin memang tidak semua, tapi satu hal yang saya percaya: kita begitu abai pada para pahlawan itu. Kita tak lagi memperhatikan mereka. Kita merasa bahwa kemerdekaan ini sudah take it for granted: sejak lahir, generasi pasca 1945 memang rasanya langsung merdeka.
Padahal kakek nenek kita bertaruh nyawa. Yang gugur sebagian jadi pahlawan, tapi banyak yang lain tak pernah tercatat di sejarah, kubunyapun tak jelas dimana. Yang masih hidup ternyata lebih banyak tersia-sia. Sehingga para pemenang perang kemerdekaan itu harus kalah saat melawan nasib, saat melawan penindasan dan ketidakadilan saudara-saudaranya sebangsa setanah air. Sehingga mereka merindukan lagi keindahan masa revolusi fisik itu. Mereka berseragam lagi, mereka mencoba melawan gerak jaman. Tapi mereka tetap kalah, kita generasi sekarang menjauhi mereka yang begitu mencintai tanah ini dan dengan ringan menyebut mereka yang tindakannya aneh-aneh itu sebagai terganggu ingatan alias kurang waras.
Hari ini saya ingin menyingkir bersama orang-orang yang dipinggirkan laju pembangunan itu. Yang merasa bahwa Belanda akan datang lagi sehingga bersiaga membawa tongkat panjang laksana bambu runcing untuk melawan. Yang merasa bahwa Bung Karno akan datang memasuki kota bersama Jenderal Sudirman mengendarai mobil sehingga terus menghormat setiap mobil yang dilewatinya. Yang merasa setelah merdeka kok malah menderita.
Hari ini saya ingin meneriakkan merdeka sekeras-kerasnya, dengan tangan mengepal meninju langit. Tapi saya tidak mampu. Saya masih terbayang-bayang: para pahlawan yang kesepian di dunianya sendiri itu, apakah mereka mau memaafkan kita semua pada 17 Agustus 2008 ini? Apa yang kita bisa lakukan untuk membuat mereka - meskipun sejenak - berbahagia atas kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan sepenuh jiwa itu?
Jika kemerdekaan yang kita rayakan justru menyingkirkan para pahlawan sesungguhnya, saya akan bertanya dalam sunyi: sudah merdekakah saya? Sudah merdekakah bangsa ini?
(Image pinjem dari http://im-mc.blogs.friendster.com/semmy_blog/images/pejuang.jpg)
2008/05/17
2008/05/09
Catatan Kecil dari Presidential Lecture

(Image pinjem dari: www.detik.com / setpres)
Terlepas dari beberapa aspek kebetulan yang mewarnai perjalanan saya bertemu Bill Gats di acara Presidential Lecture di Plenary Hall JCC, 9 Mei kemarin: berikut beberapa cerita kecil mengenainya.
Pertama kali saya mengenal manusia bernama Bill Gates saat saya berusia 25 tahun (sekitar tahun 1995), awal mulai kuliah di ISI. Tak sengaja saya membeli sebuah majalah Fortune dengan fotonya sebagai cover. Sejak itu saya selalu mengikuti berita, artikel, pidato tentang Gates. Juga ketularan beli majalah Fortune, ngecer dunk.
Mengapa saya harus datang susah payah dari Jogja untuk mengikuti kuliah umumnya Gate yang berdurasi hanya 45 menit? Di salah satu Dream Card saya, saya punya mimpi untuk bertemu Bill Gates di Microsoft Campus, Redmond. Nah, ini orangnya malah datang ke Jakarta. Paling tidak, setengah impian saya tercapai. Lebih ngirit. Tinggal ke Redmond kelak, tapi mungkin saat saya kesana, Pak Bill udah pensiun.
Alasan yang lain: seseorang bisa memberikan pengaruh yang besar buat hidup kita sementara yang lain mungkin lewat begitu saja tanpa memberi banyak arti. Gates telah mengubah jalan hidup saya: secara tidak langsung tentu saja. Lewat bukunya The Road Ahead, The Speed of Thought, Microsoft Inside Out atau lewat buku yang ditulis tentangnya: Over Drive dan masih banyak lagi. Dia tak kenal lelah berkompetisi, sangat kejam terhadap kompetitornya dan visinya tajam menembus masa depan. Jadi menemuinya secara riil adalah upaya untuk menyerap energi, mendonlot ilmu pengetahuan dan meng-upgrade pemikiran dan visi saya ke tingkat yang lebih tinggi.
Ya, bagi orang lain mungkin Bill Gates tak menarik. Gaya presentasinya tak semegah Steve Jobs. Apalagi slide show-nya, tak punya karakter dan secara artisitik gak bikin inspired. Produk Microsoft juga banyak yang berbau copycat. Dia juga dibenci komunitas open source karena kekuatan monopoli Windows-nya yang luar biasa. Tapi sampai detik ini, Bill Gates masih jauh lebih kaya ketimbang Steve Jobs. Microsoft masih jadi perusahaan software terbesar di dunia. Sumbangan Bill Gates buat kemanusiaan hanya kalah dari Warren Buffet. Suka tidak suka, saya harus angkat jempol untuk beberapa hal yang Steve Jobs belum bisa melakukannya.
Melihatnya berdiri menyampaikan pikirannya yang bertema The Second Digital Decade, melihatnya sangat membanggakan Microsoft sehingga Anda takkan mungkin melihat produk kompetitor diapresiasi positif di presentasinya. Tidak, hanya Microsoft dan produk yang mendukung software-nya. Misalnya untuk menggambarkan komputer tercanggih saat ini Bill menampilkan PC layar datar biasa dengan desain yang kaku dan obsolete. Menaruh Zune untuk menggantikan Ipod. Memilih image Hp Samsung sliding norak ketimbang Iphone. Egonya yang tinggi tak membolehkannya menaruh Ipod, Macbook atau Imac: menurut saya produk Apple dengan desain yang ciamik lebih bisa represent kemajuan dunia komputer. Tapi itulah Bill: kebanggaannya pada Microsoft kadang terlihat naif, tapi mungkin disitulah kekuatannya. Jika kita tak bangga pada produk sendiri: lalu siapa yang akan?
Bill Gates saya terima dalam satu paket: lebih dan kurangnya akan dicerna oleh otak dan hati saya dengan hati-hati. Yang baik akan terdonlot, yang buruk akan masuk ke recycle bin. Dan karena saya masih punya mimpi untuk sekaya Bill Gates - semoga Anda tidak menganggapnya berlebihan - kesempatan untuk menemuinya langsung adalah seperti meminjam cermin dari masa depan untuk melihat kehidupan saya 5, 10 atau 20 tahun mendatang. Kehidupan Bill sekarang adalah gambaran masa depan saya: dan semoga begitu kenyataannya kelak. Atau lebih baik dari itu. He he he...
Tapi karena saya tahu saya tak sejenius Bill, tak punya hasrat kompetisi yang sekejam Bill, tak mampu me-manage waktu sehebat Bill, tak punya resources sebanyak Bill, tak punya perusahaan se-powerful Microsoft: jadi saya harus datang untuk melihatnya langsung. Karena saya harus memperbaiki kelemahan-kelemahan saya. Karena saya harus belajar.
Terima kasih telah datang ke Indonesia, Bill. Terima kasih telah membuka mata dunia untuk negeri yang masih sibuk antre BBM ini. Terima kasih untuk mengenakan batik yang bukan made in Malaysia. Terima kasih untuk menunjukkan bahwa negeri ini aman. Terima kasih untuk mau membantu mengajak teman lamamu berkunjung juga ke Indonesia suatu hari nanti: Steve Jobs.
Presidential Lecture Featuring Bill Gates

Lihat di giant screen-nya, artinya Indonesia sudah 'mulai' dikenal di dunia. Thanx Bill!

Aplikasi Microsoft yang disiapkan untuk menyaingi Google Sky: rame deh Star Wars di dunia software bisa dimulai.

Dari kiri ke kanan: Chris Lee (Komikus), Bullit (Game Creators), Entahlah, Danu (Binus) dan Pak Irvan Nu'man (White Space), yang motret Mas Andi Boediman (Digital Studio)

Undangan kok dikoleksi? Norak banget deh! (Masih diupload lagi.. Ampun deh!)
Banner-banner di luar lokasi Presidential Lecture

Yup! Yang hitam itu mobil menteri bukan ya? Lalu ngapain juga diphoto?
Pintu masuk ber-metal detector atau Linux Detector? Au.. ahh!
Yup! Yang hitam itu mobil menteri bukan ya? Lalu ngapain juga diphoto?
Pak President sambutan pake bahasa Inggris, padahal tamunya dari Amerika? Lho!?
2008/05/06
Hidup yang Makin Mudah
Sebentar lagi BBM naik 20-30%, dan sebagai ikutannya maka harga-harga yang lainpun akan ikut naik. Bukan dengan merangkak tapi naik jet: wusss... mulai dari transportasi, makanan pokok, kertas, apa saja naik. Termasuk tingkat kemiskinan juga akan meroket. Makin banyak protes dan kritikan. Makin banyak pemogokan, Makin banyak permusuhan dan caci maki. Rakyat pasti menyalahkan pemerintah yang gak becus ngurus BBM dan pemerintah akan berfikir bahwa rakyatnya yang demo tak memahami ekonomi makro dan harga minyak internasional yang naik gila-gilaan sehingga negara tekor kenbanyakan subsidi.
Nah, api yang berbenturan akan menimbulkan percik, lalu kebakaran. Ekses negatifnya akan jauh lebih besar. Jadi lewat tulisan ini, saya ada usulan supaya hati kita semua adem sedikit. Tak berkobar amarah lantaran besok belum tahu bisa bepergian tidak karena uang di saku tak cukup lagi beli bensin seliter.
Begini konkritnya: dalam setiap masa kemakmuran maupun krisis, jumlah rejeki yang beredar di muka bumi ini sama. Yang berbeda hanya tempatnya: kita mesti cerdas menyikapi hal ini dengan mulai menumbuhkan ide-ide kreatif untuk menjemput rejeki kita. Menyalahkan pemerintah bukanlah opsi terbaik: nanti kita terlena merasa diri kita yang bener sendiri. Kan kita juga yang dulu milih dan menyukai nyanyiannya. Selama pemerintah bertanggung jawab atas tugasnya - meskipun banyak kekurangan - kita biarkan mereka bekerja. Di jaman manapun di republik ini, tak pernah ada ceritanya pemerintah bisa menjamin kita bisa makan teratur, terpenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikannya sendiri.
Sebagai rakyat kita harus mandiri: berfikir, bertindak dan bertanggung jawab seperti layaknya manusia dewasa. Jika ada yang demo dan protes: silakan karena mekanisme demokrasi memang memungkinkan itu semua. Tapi jika ada tanggung jawab yang membuat kita harus berjuang, bekerja dan melayani untuk membuat kehidupan keseharian lebih berarti: mari makin digiatkan, jangan loyo hanya karena BBM naik.
Gak perlu ikut-ikutan demo jika justru malah bikin macet lalu lintas dan menebar permusuhan. Gak perlu juga mendukung pemerintah yang emang gak mampu mengurus kebutuhan rakyatnya sendiri. Saya sulit mendukung SBY-JK dalam menaikkan harga BBM tapi saya juga memilih tak menyalahkan dengan membabi buta. Saya memandang dengan hati-hati, untuk lalu bertindak berdasarkan pemikiran yang saya yakini. saya tahu memimpin itu susah, tapi hari gini jadi rakyat juga lebih susah.
Dan ini uniknya, makin sulit kelihatannya hidup ini: jika kita berfikir dan bertindak positif: maka peluang akan mulai muncul dimana-mana di tempat yang tak pernah kita sangka. Ladang amal terbentang dimana-mana: menunggu tangan kita untuk mengolah dan memetik hasilnya.
Kemiskinan makin meningkat? Kesempatan emas untuk berbagi lewat sedekah. Cari kerja sulit? Saat terbaik bikin usaha sendiri. Bensin mahal sehingga motor gak jalan? Naik sepeda justru bikin badan sehat. Makanan mahal tak terbeli? Puasa sunnah adalah ibadah terindah.
Tetaplah positif. Seburuk apapun situasinya. Insya Allah keberuntungan akan menyertai. Allah menyayangi hamba-Nya yang menjadi bagian dari solusi, bukan yang jago nambah masalah.
Nah, api yang berbenturan akan menimbulkan percik, lalu kebakaran. Ekses negatifnya akan jauh lebih besar. Jadi lewat tulisan ini, saya ada usulan supaya hati kita semua adem sedikit. Tak berkobar amarah lantaran besok belum tahu bisa bepergian tidak karena uang di saku tak cukup lagi beli bensin seliter.
Begini konkritnya: dalam setiap masa kemakmuran maupun krisis, jumlah rejeki yang beredar di muka bumi ini sama. Yang berbeda hanya tempatnya: kita mesti cerdas menyikapi hal ini dengan mulai menumbuhkan ide-ide kreatif untuk menjemput rejeki kita. Menyalahkan pemerintah bukanlah opsi terbaik: nanti kita terlena merasa diri kita yang bener sendiri. Kan kita juga yang dulu milih dan menyukai nyanyiannya. Selama pemerintah bertanggung jawab atas tugasnya - meskipun banyak kekurangan - kita biarkan mereka bekerja. Di jaman manapun di republik ini, tak pernah ada ceritanya pemerintah bisa menjamin kita bisa makan teratur, terpenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikannya sendiri.
Sebagai rakyat kita harus mandiri: berfikir, bertindak dan bertanggung jawab seperti layaknya manusia dewasa. Jika ada yang demo dan protes: silakan karena mekanisme demokrasi memang memungkinkan itu semua. Tapi jika ada tanggung jawab yang membuat kita harus berjuang, bekerja dan melayani untuk membuat kehidupan keseharian lebih berarti: mari makin digiatkan, jangan loyo hanya karena BBM naik.
Gak perlu ikut-ikutan demo jika justru malah bikin macet lalu lintas dan menebar permusuhan. Gak perlu juga mendukung pemerintah yang emang gak mampu mengurus kebutuhan rakyatnya sendiri. Saya sulit mendukung SBY-JK dalam menaikkan harga BBM tapi saya juga memilih tak menyalahkan dengan membabi buta. Saya memandang dengan hati-hati, untuk lalu bertindak berdasarkan pemikiran yang saya yakini. saya tahu memimpin itu susah, tapi hari gini jadi rakyat juga lebih susah.
Dan ini uniknya, makin sulit kelihatannya hidup ini: jika kita berfikir dan bertindak positif: maka peluang akan mulai muncul dimana-mana di tempat yang tak pernah kita sangka. Ladang amal terbentang dimana-mana: menunggu tangan kita untuk mengolah dan memetik hasilnya.
Kemiskinan makin meningkat? Kesempatan emas untuk berbagi lewat sedekah. Cari kerja sulit? Saat terbaik bikin usaha sendiri. Bensin mahal sehingga motor gak jalan? Naik sepeda justru bikin badan sehat. Makanan mahal tak terbeli? Puasa sunnah adalah ibadah terindah.
Tetaplah positif. Seburuk apapun situasinya. Insya Allah keberuntungan akan menyertai. Allah menyayangi hamba-Nya yang menjadi bagian dari solusi, bukan yang jago nambah masalah.
2008/03/30
Kurang Wawasan

Saya nemu berita ini di detik.com, dan sebenernya pengin cuek aja setiap kali melihat berita anggota DPR yang komentar sesuatu tapi jadi aneh karena nggak nyambung. Tapi entah kenapa - mungkin saya sedang sebel sama yang sok mewakili rakyat di DPR ini - saya harus menuliskan pendapat saya disini sebagai rakyat.
Oya, sebelumnya saya mesti bilang saya bukan pendukung atau pembela SBY. Bukan saudaranya atau bagian dari Partai Demokrat. Saya pembela logika dan akal sehat. Dan ya, saya termasuk yang mengacungkan dua jempol untuk film Ayat-ayat Cinta yang ditonton bareng-bareng itu: secara kualitas penyajian, maupun secara hasil bisnisnya. Biar gak salah paham.
Adalah kurang wawasan jika menyebutkan bahwa apresiasi Presiden, Wapres dan lebih dari 80 duta besar dari negara sahabat yang menonton AAC dianggap sebagai tidak adanya empati dan menyakitkan rakyat.
Ini apresiasi yang luar biasa dari seorang kepala negara terhadap kesuksesan sebuah film yang telah mendatangkan 3,5 juta penonton (rekor terbanyak), mengkomunikasikan nilai-nilai kebaikan Islam kepada dunia dan SBY sendiri bilang inilah salah satu bukti riil creative economy yang sedang coba dikembangkan di negeri ini. Lihatlah bahwa SBY pun punya visi tentang potensi ekonomi dunia film untuk menyumbang pendapatan negara, entah lewat pajak tontonan atau yang lain. Dan masa depan ekonomi negeri ini, akan sangat ditentukan dari keberhasilan kita membangun creative economy.
Kesuksesan AAC ini yang akan direnungkan dan dibikin strateginya di kabinet sehingga bisa diaplikasikan di bidang kreatif yang lain sehingga bermanfaat buat rakyat banyak, bukan sekedar cerita filmnya Mas DPR... Paham gak sih? Gaul dong (keluh!)
Dan yang ditonton pastinya bukan sembarang film. Jika para petinggi negara nonton film horor yang wagu bareng-bareng, boleh deh kita kritik dengan keras. So, anggota DPR yang beginian sebaiknya belajar lebih banyak kalau ingin terpilih lagi di 2009.
Empati kepada rakyat tidak boleh dimonopoli pengertiannya hanya dari satu sisi apalagi sisi politik doang, kita harus melihatnya secara lebih luas sehingga empan papan. Misalnya: mengembangkan industri pesawat terbang bukan berarti anti rakyat yang naik sepeda, men-support industri kreatif bukan berarti tidak peduli harga yang membubung tinggi. Kalo semua itu disikapi hitam putih ya repot. Rakyat kita sudah makin cerdas lho Mas, masa' wakilnya sedangkal itu pemahamannya.
With all respect, apalagi jika wawasan cekak dan sok membela rakyat dengan argumentasi yang wagu: please dong ahhh...
Langganan:
Postingan (Atom)












.jpg)









